Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berkunjung ke Museum KAA, Lebih Terbuka dan Inklusif

Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan sejarah, dan cocok menjadi salah satu tujuan wisata bagi para pelancong yang sangat suka dengan sejarah. Salah satu yang tidak boleh dilewatkan oleh para pelancong adalah Museum Konferensi Asia Afrika.
Yudi Supriyanto
Yudi Supriyanto - Bisnis.com 29 April 2021  |  20:21 WIB
Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) bersama Perdana Menteri Malaysia Dato Seri Najib Tun Abdul Razak (kedua kiri) dan Perdana Menteri Mesir Ibrahim Mahlab (kiri) mengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) pada acara Peringatan ke-60 tahun  -  KAA 2015
Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) bersama Perdana Menteri Malaysia Dato Seri Najib Tun Abdul Razak (kedua kiri) dan Perdana Menteri Mesir Ibrahim Mahlab (kiri) mengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) pada acara Peringatan ke-60 tahun - KAA 2015

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan sejarah, dan cocok menjadi salah satu tujuan wisata bagi para pelancong yang sangat suka dengan sejarah. Salah satu yang tidak boleh dilewatkan oleh para pelancong adalah Museum Konferensi Asia Afrika.

Dilansir dari laman Kementerian Luar Negeri, Kamis (29/4/2021), Museum KAA dalam bingkai Peringatan 66 Tahun Konferensi Asia Afrika pada 2021 ini menggaungkan tagline Museum untuk Semua sebagai komitmen Museum KAA untuk menjadi museum yang terbuka dan inklusif untuk semua kalangan masyarakat.

Komitmen itu diwujudkan melalui peluncuran dua produk media belajar berupa buku braille dan buku suara (audiobook) The Bandung Connection serta satu media video Museum untuk Semua: Empat Dekade Perjalanan Museum KAA.

Penerbitan Buku Braille dan Buku Suara (Audiobook) The Bandung Connection oleh Museum KAA ini merupakan buku sejarah Konferensi Asia Afrika yang pertama kalinya diproduksi dalam edisi Braille dan Buku Suara.

Pemilihan buku The Bandung Connection sebagai edisi perdana buku sejarah KAA dalam format buku braille dan buku suara dikarenakan buku ini ditulis oleh pelaku sejarah KAA, Roeslan Abdulgani, Sekretaris Jenderal Konferensi Asia Afrika.

Peluncuran ketiga produk media belajar baru Museum KAA bertujuan untuk mempertegas kembali komitmen Museum KAA sebagai museum yang terbuka dan inklusif untuk semua, termasuk bagi kalangan disabilitas.

Berbagai upaya yang telah dijalankan Museum KAA untuk menjadi museum yang inklusif bagi penyandang disabilitas telah sesuai dengan amanat UN Convention on the Rights of Persons with Disabilities.

Aksesibilitas Museum KAA untuk penyandang disabilitas saat ini terus dilengkapi di Museum KAA, di antaranya Braille Corner di Perpustakaan Museum KAA, serta berbagai koleksi buku audio dan koleksi buku braille. 

Museum KAA juga telah membekali para edukatornya dengan kemampuan pelayanan bimbingan edukasi yang ramah disabilitas, termasuk akses masuk museum dan program edukasi bagi penyandang disabilitas yang dijalankan oleh Sahabat Museum KAA.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

museum Konferensi Asia Afrika
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top