Komentar Delegasi Annual Meeting IMF-World Bank 2018 soal Berlibur di Bali

Annual Meetings IMF-WB 2018 telah berlangsung enam hari dan mendapat banyak sambutan baik dari delegasi.Annual Meetings IMF-WB 2018 telah berlangsung enam hari dan mendapat banyak sambutan baik dari delegasi.
Ni Putu Eka Wiratmini | 13 Oktober 2018 15:55 WIB
Penari cilik dari Sanggar Paripurna Bali menggunakan pakaian adat Kayonan saat peresmian Paviliun Indonesia dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Paviliun Indonesia, Nusa Dua, Selasa (9/10). - Antara/Nicklas Hanoatubun

Bisnis.com, NUSA DUA - Annual Meetings IMF-WB 2018 telah berlangsung enam hari dan mendapat banyak sambutan baik dari delegasi.

Hampir semua delegasi memberikan sambutan baik mengenai acara ini. Mulai dari lokasi Bali yang indah dan bagus hingga persiapan panitia yang matang.  Meskipun semua telah dikemas dengan baik, ternyata tidak semua delegasi IMF-WB 2018 memutuskan untuk berlibur di Bali setelah gelaran ini usai.

Seperti delegasi dari Amerika Serikat bernama Tobias Meier. Delegasi yang bekerja di perusahaan asuransi ini mengatakan Bali merupakan pulau yang sangat indah. Dia pun sangat senang bisa berkesempatan mengunjungi Bali.

Apalagi, ini merupakan kunjungan pertamanya ke Pulau Dewata. Hanya saja, jadwal kegiatan rapat yang cukup padat membuatnya tidak memiliki waktu banyak untuk sekedar jalan-jalan di pulau ini. 

Dia menuturkan, baru tiba di Bali pada Rabu (10/10/2018) dan akan kembali ke negaranya pada Minggu (14/10/2018). 

"Kami selalu mendatangi rapat tahunan IMF-WB, apalagi diadakan di luar Amerika Serikat, salah satunya Bali, saya suka berada di sini, tapi karena padat saya tidak bisa berjalan-jalan, tapi semoga saya bisa mencuri waktu untuk mengunjungi pantai indah di sini," katanya kepada Bisnis, Sabtu (13/10/2018).

Dia sendiri belum berani memastikan, kunjungan kedua kalinya ke Bali. Kata dia, hanya 10% kemungkinannya mengunjungi Bali. Hal itu semata-mata karena kesibukan dan biaya penerbangan yang cukup tinggi.

Walaupun, diakuinya biaya tinggal di Bali sangatlah murah. 

Dia juga sangat menyukai kopi Bali yang menurutnya punya kualitas cukup bagus. Sebagai oleh-oleh, dia beli kopi Bali yang nilainya sekitar kurang dari US$1.000. 

"Hotel di sini murah, orang-orangnya ramah, tapi jauh dari negara saya, karena saya juga harus memikirkan biaya liburan untuk keluarga jika memutuskan berlibur ke sini," katanya.

Lain halnya dengan delegasi Norwegia, Bjornar Slettvag yang mengatakan telah meluangkan waktu sehari untuk berlibur ke Ubud. Dia sendiri akan menyewa 1 mobil beserta sopir untuk mengantarnya berwisata.

Soal biaya, dia rencananya akan menghabiskan sekitar Rp30 juta untuk menginap selama 10 hari di Bali termasuk rapat dan berlibur. Selain itu, biaya makan hingga souvenir akan dia keluarkan sekitar beberapa juta rupiah. 

"Ini pertama kali saya ke Bali, tempatnya bagus dan orangnya ramah, apalagi acara dikemas dengan sangat baik," katanya.

Dia pun berencana akan mengunjungi Indonesia lagi selepas gelaran IMF-WB 2018 di Bali. Tetapi, kemungkinan dia akan mengunjungi tempat lain selain Bali 

"Kalau saya ke Bali kemungkinannya 10% sampai 15%, kalau tempat lain di Indonesia sekitar 80%, tidak ada hal negatif soal Bali, tetapi saya ingin mencari tempat lain yang lebih otentik," katanya.

 

Tag : bali, annual meetings IMF-World Bank
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top