Enggang Nan Jenaka hingga Chawang yang Garang

Konservasi, kelestarian, hiburan, dan pendidikan menjadi kata kunci yang diusung oleh pengelola taman burung Jurong Bird Park dan safari malam atau Night Safari Singapura.
Bambang Supriyanto | 27 Agustus 2018 16:34 WIB
Berteman dengan burung Lory yang jinak - Jibi

Konservasi, kelestarian, hiburan, dan pendidikan menjadi kata kunci yang diusung oleh pengelola taman burung Jurong Bird Park dan safari malam atau Night Safari Singapura.

Wildlife Reserves Singapore (WRS) sebagai pengelola Jurong Bird Park, Singapore Zoo, Night Safari, dan Water Safari ingin menjadikan wahana yang dikelola sebagai objek utama dalam daftar bagi turis asing. Wahana hiburan tersebut telah lama menjadi bagian dari industri pariwisata Negeri Singa tetapi WRS tidak ingin lekang di telan waktu. Ingin tetap eksis di Zaman Now.

Sejumlah jurnalis asal Indonesia pun diundang oleh WRS pada 5-8 Agustus ke sejumlah wahana yang dikelola itu demi memberikan pengalaman langsung nan berkesan.

Harmoni menyentuh begitu memasuki area Jurong Bird Park. Bermain dan bercanda dengan banyak mahluk bersayap adalah nyata dan bukan angan semata di taman berpenghuni lebih dari 5.000 jenis burung tersebut.

Di taman burung Jurong terbesar Asia seluas lebih dari 20 hektare itu kita bisa berinteraksi langsung dengan bangsa Avian.

Memegang Enggang alias Rangkong atau Hornbill Bird menjadi kepuasan tersendiri. Kita bisa memberikan makan dan bercanda dengan si Enggang.

Sebelum kita memegang dan memberikan makanan, berkenalan terlebih dahulu menjadi keharusan karena si burung akan nyaman berada di belaian tangan.

Dia pun senang begitu diberi buah anggur dan menelannya dengan lahap. Sebaliknya, begitu buah anggur habis, si Rangkong mematuk gelang batu Jade yang dikira anggur.

Si Hornbill ini ternyata paling suka dielus pada bagian kepala. Dia pun memejamkan mata pertanda sudah jinak seakan tanpa jarak.

Setelah bersenda gurau dengan Enggang, beralih pada sekelompok burung 'buas' pemakan daging, yakni burung Nazar dan burung Elang.

Mimpi memegang si Elang jadi kenyataan. Si burung bermata tajam ini pun mau berteman sambil sesekali menatap seakan ingin mengenali.

Ada satu atraksi menarik saat sekelompok Elang lainnya yang terbang di antara dedaunan diberikan makanan berupa seiris daging. Mereka pun berebut ingin menyambar irisan daging di atas nampan. Dalam sekejap daging pun raib.

Di samping itu, ada atraksi menarik lainnya saat pengelola melepaskan boneka berbentuk Kelinci dan si Elang pun menyambarnya dengan tepat. Naluri pemburu pun masih menyatu kendati mereka berada di dalam taman burung.

Puas dengan sekelompok Elang, burung Nazar, dan burung Hantu, kita pun diajak menyaksikan atraksi sekelompok burung di sebuah arena terbuka yang dipandu oleh seorang wanita. Ada burung betet, ada Lory, Pelikan, dan Rangkong. Mereka mampu menjalankan instruksi si pemandu dengan baik.

Satu atraksi menarik ketika seekor burung Lory sejenis burung parkit menyambar uang kertas milik 20 dolar Singapura milik pengunjung. Setelah disambar turun dan diberikan pemandu, si burung pun diminta untuk mengembalikan uang kertas tersebut kepada si empunya dengan baik.

Setelah bermain dengan sekelompok burung pemakan daging, kita pun beranjak ke lokasi Lory Feeding. Sebelum masuk kita harus membayar 10 dolar Singapura untuk segelas makanan semacam bubur. Begitu kita masuk sekelompok burung pun mendekati. Mereka jinak seakan tanpa jarak.

Warna warni burung Lory pun mendekat dan melahap makanan yang kita pegang. Ada warna merah, hijau, kuning, dan biru. Ada black capped Lory, blue streaked Lory, chattering Lory, dan red Lory.

Lagi Galak

Sehabis menyantap makan malam di restoran Ulu-Ulu yang menyediakan menu khas nasi tumpeng Indonesia, perjalanan Night Safari menanti. Tidak ada hal yang menarik di area seluas 26 hektare ini. Seperti halnya safari malam di kebun binatang lainnya.

Ada sejumlah binatang tampak di depan mata, mulai kambing gunung, kijang, singa, harimau, dan hyena. Ada juga kawanan rusa yang berasal dari Istana Presiden Bogor, Indonesia.

Satu hal yang menarik pada saat memberikan makanan kepada kawanan gajah. Ada lima ekor gajah betina dan satu gajah kecil. Mereka sangat lahap makan buah pisang, apel, dan jagung.

Menurut keterangan si penjaga, seekor gajah bisa menghabiskan sebanyak 100 kg makanan per hari. Uniknya, seekor gajah mengeluarkan kotoran sekitar 90 kg.

Ada satu gajah yang menjadi ikon Night Safari, yakni Chawang. Dia berusia 42 tahun dan menjadi kepala kawanan gajah. Si Chawang ditempatkan secara terpisah. Malam itu si Chawang lagi baper alias sedang galak sehingga pengunjung dianjurkan tidak mendekat.

Ada cerita menarik dari si Chawang, yakni dia tidak bisa terima kehadiran jantan lain di kandang betina. Dia akan marah ketika ada pejantan lebih muda yang mendekati kandang. Bentuk amarahnya, yakni melempar batu dan berteriak seolah marah.

Tag : singapura
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top