Si Kei, Cantik Nan Eksotis

Kei. Satu kata sejuta pesona. Berbentuk kepulauan dengan gugusan pulau-pulau kecil, Kei berada di bagian Tenggara Kepulauan Maluku. Secara geografis, daerah ini masuk ke dalam wilayah Provinsi Maluku.
Siti Munawaroh | 23 Maret 2018 16:40 WIB
Suasana sun rise di tepi pantai - Jibi/Siti Munawaroh

Kei. Satu kata sejuta pesona. Berbentuk kepulauan dengan gugusan pulau-pulau kecil, Kei berada di bagian Tenggara Kepulauan Maluku. Secara geografis, daerah ini masuk ke dalam wilayah Provinsi Maluku.

Sebentuk kecantikan Kei yang eksotis, Saya dapati ketika mengunjungi Pulau Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, pada pertengahan bulan ini. Bersama rombongan Kementerian Pariwisata, kami juga menjelajahi destinasi andalan Kota Tual.

Tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta menuju Kepulauan Kei. Untuk menggapai Bandara Karel Sadsuitubun (LUV), yang menjadi pintu gerbang udara di Kota Langgur Pulau Kei Kecil, wisatawan harus transit minimal satu kali. Salah satunya di Bandara Pattimura, Ambon.

Selama 4 hari 3 malam, setidaknya enam destinasi di Maluku Tenggara dan Tual kami jelajahi, mulai dari fajar hingga matahari terbenam. Menyusuri pantai, masuk ke dalam gua, menapaki bukit, berenang dan menyelam, hingga berinteraksi dengan warga Kei, mewarnai perjalanan di Kei.

Laut biru, pantai yang teduh, pesona bawah laut yang indah adalah beberapa alasan bagi wisatawan berkunjung ke Kei. Pantai-pantai di Kei, layak untuk diperhitungkan. Salah satunya, Pantai Ngurbloat atau biasa disebut Pantai Pasir Panjang. Berlokasi di Desa Ngilngof, Pulau Kei Kecil, Ngurbloat memiliki keistimewaan tersendiri. Versi On The Spot, pasir di pantai Ngurbloat ini halus seperti tepung.

Dengan garis pantai sepanjang tiga kilometer, pasir di Ngurbloat berwarna putih dan memang sangat halus. Daya tarik tambahan ini adalah spot diving (menyelam). Pesona bawah laut hanya berjarak sekitar 400 meter dari bibir pantai.

"Kalau hari Minggu, pantai ini penuh sesak dikunjungi wisatawan. Ada 10 pulau kecil yang terhampar di depan Ngurbloat," ujar Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara, Budhi Toffi, baru-baru ini. Pulau-pulau itu di antaranya Lai, Ohoiew, Naik, Witir, Lik, Nuhuyan, dan Nuhuten.

pPantai ini juga menjadi lokasi atraksi adat budaya masyarakat setempat yakni Suku Kei yang masih memang teguh adat dan budaya. Retribusi sebesar Rp 20.000 per mobil atau Rp5000 untuk kendaraan roda dua, dikenakan bagi pengunjung yang masuk ke Pantai Ngurbloat. Adapun tarif masuk per orang tidak dikenakan lagi alias gratis.

Pantai Ngurbloat dapat dijangkau dengan menaiki angkutan umum dari Pasar Langgur dengan ongkos hanya Rp. 5000 per orang. Pilihan lainnya, wisatawan dapat menyewa mobil langsung dari Bandara Karel SadsuitubunT dengan ongkos Rp600.000 untuk rental seharian penuh, sudah termasuk biaya bensin plus supir.

"Banyak keindahan yang dapat dinikmati di pantai ini. Di sekitar Ngurbloat juga ada beberapa objek wisata yang tak kalah menarik," tutur Budhi.

 Bukit dan Gua

Selain keindahan pasir putih dan laut biru, Kei Kecil juga memiliki objek wisata rohani di Bukit Masbait, jelajah gua dan keindahan kampung warna warni di Kota Tual.

Berada di ketinggian sekitar 300 mdpl, Masbait adalah bukit tertinggi di Pulau Kei Kecil. Wisatawan dapat menjangkau Bukit Masbait hanya sekitar 10 menit-15 menit dari Langgur, Ibukota Maluku Tenggara.

Di Bukit Masbait terdapat sebuah arca/patung Kristus Raja yang berdiri di atas globe. Patung ini cukup istimewa karena dibawa langsung dari Roma pada tahun 2000, hadiah pemberian yang melambangkan perdamaian dari Paus Paulus II.

Dahulu, Bukit Masbait menjadi tempat pertapaan atau perziarahan bagi semua umat. Objek wisata ini sudah ada sejak tahun 1980-an. Bagi wisatawan yang mengunjungi Bukit Masbait, tidak dikenakan biaya restribusi alias gratis.

Mengujungi Bukit Masbait, wisatawan akan mendapati toleransi beragama yang terjaga dengan baik di Kei. Bukit ini dikelilingi oleh beberapa desa di bawahnya, mulai dari desa Letman yang dihuni pemeluk agama Islam, desa Ohoi Der Tawung yang dihuni pemeluk agama Protestan dan desa Kelanit yang dihuni penganut agama Katolik.

Masih di sekitar Kota Langgur, terdapat gua Hawang di Desa Letvuan. Mengunjungi gua ini, mata anda akan dimanjakan dengan birunya air kolam yang berkilau saat diterpa sinar matahari. Di gua ini, wisatawan bebas berenang di antara stalaktit dan stalagmit. Konon, warga lokal percaya berenang di kolam gua Hawang ini bisa awet muda.

Memasuki Kota Tual, wisatawan akan mendapati kampung warna warni. Tepat di depan Jembatan Isdek yang menghubungkan Tual dan Langgur. Kampung warna warni ini muncul pada April 2017 untuk menambah daya tarik Kota Tual. Terdiri atas kampung merah putih dan kampung pelangi, sekitar 200-an unit rumah di Desa Kiom dan Desa Taat di cat dengan mural yang indah. Sangking menariknya, mural pada tembok jalan dan dinding rumah warga menjadi sasaran lokasi swafoto para wisatawan.

Raja Ampat Kecil

Adalah Pulau Baer, salah satu destinasi wajib yang patut dikunjungi wisatawan ketika berada di Kei. Meski lokasinya tersembunyi di antara gugusan Kepulauan Kei, Baer merupakan pulau yang memesona. Baer booming sekitar 2015. Perairan yang jernih, landscape pulau dengan tebing-tebing tinggi, hutan mangrove yang hijau, Pulau Baer kerap dijuluki "raja ampat kecil".

Di Pulau Baer, wisatawan bebas berjemur, snorkeling, diving ataupun menjelajahi hutan mangrove. Baer juga menyimpan kekayaan tanaman anggrek bulan yang tumbuh subur. Laguna dengan air yang jernih, pasir yang putih dijumpai ketika menginjakkan kaki di dermaga Pulau Baer.  Spot diving dengan pesona bawah laut yang memukau pun dimiliki pulau yang tak berpenghuni ini.

Pulau Baer dapat dijangkau dengan speed boat, menyeberang sekitar 1 jam dari dermaga Watdek di Pulau Kei Kecil. Apabila menggunakan kapal kecil, Anda dapat berangkat dari pelabuhan nelayan di Dullah, daerah pelabuhan di Kota Tual. Ongkos kapal untuk menuju Pulau Baer sekitar Rp700.000.

Dengan ongkos kapal Rp700.000, wisatawan yang mengunjungi Baer, juga dapat singgah di Pulau Adranan atau Pulau Burung yang lokasinya berdekatan, sekadar untuk santap siang.

Di Teluk Disuk, Kei Kecil, dengan perairannya yang tenang, wisatawan dapat menikmati semburat fajar keemasan yang menenangkan. Atau, menyaksikan kehidupan asli penduduk lokal. Lanskap teluk dan barisan pulau menambah keindahan potret desa kecil di pesisir Ohoi Disuk. Kei, satu kata yang memang eksotis saat ini.

Tag : trip
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top