Ketika Gedung Parlemen Rumania Bikin Iri Politisi DPR

"Gedung ini luar biasa besar. Konstruksinya sangat megalomaniak. Tapi ini juga sekaligus masterpiece dari rakyat Rumania."
Inria Zulfikar | 23 Maret 2018 15:16 WIB
Gedung Parlemen Rumania. - JIBI/Inria Zulfikar

Bisnis.com, BUKARES - "Gedung ini luar biasa besar. Konstruksinya sangat megalomaniak. Tapi ini juga sekaligus masterpiece dari rakyat Rumania."

Begitu komentar Catherine Lalumiere, mantan Sekjen Komisi Eropa pada 1994.

Jean-Paul Carteron, President of Crans Montana Forum, pada tahun yang sama juga menyatakan keguman serupa.

"Karya seni dan kreativitas rakyat Rumania tercerminkan dari bangunan yang sungguh besar ini. Dibangun dengan biaya yang sangat mahal pula. Juga ongkos sosial dan politiknya. Melawan semua akal sehat. Tapi, sekarang mari kita lupakan semua itu. Lupakan siapa yang memerintahkannya. Sekarang mari kita hargai siapa yang telah membangunnya."

Itulah Gedung Parlemen Rumania, seolah tak ada habisnya mengundang komentar. Paling tidak ketika mulai digagas oleh Nicolae Ceausescu, sang penguasa pemerintahan yang tak tertandingi saat itu, sekitar tahun 1977 hingga beberapa dekade sesudahnya.

Politisi ini mempunyai rencana raksasa. Pasca gempa hebat yang mengguncang negara itu pada 1977, Ceausescu mengeluarkan perintah untuk membangun kembali Bukares yang porak poranda.

Tahun berikutnya diadakanlah kompetisi nasional untuk proyek rekonstruksi tersebut. Ada satu lagi permintaannya: membangun gedung baru yang mampu bertahan selama 500 tahun. Dan tahan gempa!

Setelah proses seleksi hampir empat tahun, munculah sang pemenang, sang arsitek muda bernama Anca Petrescu. Sejak itu proyek tersebut langsung kontroversial.

Betapa tidak? Sekitar 30.000 warga yang tinggal di rencana lokasi proyek diminta menyingkir hanya dalam hitungan hari. Tak kurang dari 9.000 hunian lama dihancurkan. Sejumlah situs arkeologi juga dikorbankan. Nasib serupa bagi 19 gereja ortodoks, 6 sinagoga, dan 3 gereja protestan demi proyek yang semula untuk Gedung Rakyat atau Gedung Republik itu.

Berlokasi di tanah berbukit bernama Sipiri, proyek yang melibatkan tak kurang dari 700 arsitek itu, efektif dimulai pada 1983 dan dikerjakan nonsetop. Enam tahun kemudian bertepatan pecahnya revolusi di Rumania pada 1989, proyek mercu suar Ceausescu itu bisa dikatakan selesai.

Diktator itu ingin gedung tersebut menjadi kantor pusat seluruh pemerintah daerah dan markas partai yang berkuasa, berikut segala ormas pendukungnya.

Kini, di era milenial, gedung super megah berwajah kuno itu adalah kantor bagi anggota parlemen yang terdiri dari anggota DPR dan senat. Berkantor di situ juga Mahkamah Konstitusi, Dewan Legislatif, Museum Seni Nasional dan beberapa lenbaga negara lainnya.

Terpenting, Gedung Parlemen di Bukares itu (Palace of Parliament) tercatat sebagai gedung sipil terbesar dan terberat (dari sisi penggunaan material) di dunia dengan luas lantai bangunan mencapai 360.000 meter persegi. Adapun untuk bangunan militer, rekor terbesar dunia adalah Pentagon di Arlington, Virginia, AS.

Delegasi Badan Kerjasama Antar Parlemen DPR RI pun tak mampu menyembunyikan kekagumannya terhadap gedung ini saat mereka bertemu rekan kerja sesama politisi parlemen asal Rumania pekan ini.

"Enak juga kalau kita bisa berkantor di gedung ini," ujar Abdul Kadir Karding, anggota delegasi DPR, berseloroh.

Sayang, hujan salju yang cukup lebat membuat kami tak bisa leluasa menikmati bangunan tersebut dari luar.

Sekarang gedung tersebut juga dikomersialkan untuk berbagai acara dan kegiatan bertaraf internasional. Tentu saja, juga sebagai tujuan wisata andalan bagi turis asing.

Tag : dpr, rumania
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top