Gunung Agung Awas, Bisnis Pariwisata di Karangasem Anjlok

Industri pariwisata di Karangasem mulai merasakan dampak negatif paska penetapan status awas Gunung Agung.
Feri Kristianto | 28 September 2017 07:32 WIB
Wisatawan mancanegara mengabadikan panorama saat matahari tenggelam di dekat Gunung Agung, Bali, Selasa (26/9). - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, DENPASAR - Industri pariwisata di Karangasem mulai merasakan dampak negatif paska penetapan status awas Gunung Agung.

Ketua PHRI Karangasem Wayan Tama mengungkapkan tingkat keterisian kamar atau okupansi di sejumlah akomodasi wisata di Amed dan Tulamben anjlok hingga tersisa 20%.

"Seharusnya sekarang ini okupansinya bisa 80%, bulan-bulan seperti sekarang biasanya segitu. Ini cukup banyak yang cancel," jelasnya dihubungi Bisnis, Rabu (27/9/2017).

Dikatakan, sejumlah wisman asal Eropa membatalkan rencana menginap di Amed dan Tulamben karena alasan keamanan. Adapun jumlah akomodasi di daerah Amed sebanyak 250 kamar.

Ada wisman yang memilih dipindah ke Candi Dasa, Kuta dan Nusa Dua meskipun sebelumnya sudah sempat memesan di Amed dan Tulamben. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah pemilik restoran ada yang memutuskan menutup sementara usaha mereka.

Amed dan Tulamben merupakan objek wisata bahari di Karangasem timur yang terkenal dengan spot untuk menyelam. Kawasan ini masuk dalam peta kawasan rawan dari erupsi Gunung Agung.

Tama berharap ada semacam petunjuk dari pemerintah mengenai jalur-jalur wisata yang masih aman bagi wisatawan sehingga sektor pariwisata tidak semuanya mengalami imbas negatif.

Pemerintah diminta memberi informasi terperinci sehingga meskipun wisman pindah dari Amed dan Tulamben, mereka tetap berwisata di lokasi terdekat seperti Candi Dasa maupun Sidemen.

"Karangasem kan tidak hanya Amed dan Tulamben. Kondisi alam di Candi Dasa dan Sidemen juga masih aman hanya kurang informasi saja soal radiusnya," jelasnya.

 

 

 

Tag : gunung agung
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top