Menikmati sensasi kereta cepat Beijing-Nanjing

Kota Kedua yang saya kunjungi dalam perjalanan ke China kali ini adalah Nanjing yang berada di selatan China. Nanjing adalah salah satu kota industri di China. Untuk cuacanya sendiri cenderung lebih sejuk dan tidak terlalu macet layaknya di kota Beijing.
Mia Chitra Dinisari | 24 September 2017 22:53 WIB
Ilustrasi: Kereta cepat - Reuters

Bisnis.com, BEIJING- Kota Kedua yang saya kunjungi dalam perjalanan ke China kali ini adalah Nanjing yang berada di selatan China. Nanjing adalah salah satu kota industri di China. Untuk cuacanya sendiri cenderung lebih sejuk dan tidak terlalu macet layaknya di kota Beijing.

Untuk menuju Nanjing dari Beijing, saya dan rombongan delegasi jurnalis Asean menaiki kereta cepat rute Beijing-Nanjing.

Dibutuhkan waktu selama kurang lebih 4,5 jam untuk sampai ke Nanjing dari Stasiun Kereta Beijing Selatan tempat awal kami berangkat. Kereta cepat dengan nomor G141 dijadwalkan berangkat 14.10 dari Beijing dan tiba di Nanjing 18.36 waktu setempat. Kereta ini sendiri terdiri dari 16 gerbong, dengan kapasitas penumpang sekitar 1.000 penumpang dengan satu gerbong menampung 60 penumpang.

Ini pertama kalinya saya menumpang kereta cepat yang berkecepatan 300 kilometer per jam ini. Meskipun rerata kecepatannya cukup tinggi, namun pemandangan sepanjang jalur yang dilalui masih bisa dinikmati.

Biaya yang dibutuhkan untuk naik kereta cepat berbadan bullet train ini yakni 746.58 yuan atau sekitar Rp1.5 juta untuk kelas satu, dan 450 yuan atau Rp900.000 untuk kelas dua.

Dalam perjalanan ini, ada sebanyak enam kali pemberhentian di stasiun besar. Yakni di stasiun kereta Dezhedoung, Jinan Barat, Taian, Xuzhou, Bengbunan, Dingyuan dan barulah sampai di Nanjing.

Jika dibandingkan dengan kereta antar kota di Jakarta, terdapat plus minusnya. Pertama dari stasiunnya. Stasiun Beijing terhitung cukup mewah dan besar, bahkan pelayanan dan bentuk mirip bandara-bandara yang ada di Indonesia.

Papan elektronik berjalan, sebagai penanda tujuan dan waktu keberangkatan, gerai makanan waralaba, mewarnai suaasana stasiun Beijing Selatan. Hiruk pikuk penumpang dengan kopor-kopor besarnya pun seolah kita berada di bandara bukanlah stasiun.

Sedangkan dari segi kenyamanan, kereta cepat ini jauh lebih nyaman dibandingkan kereta di Indonesia baik dari ukuran kursi yang besar, nyaman, dan jarak antar kursi yang cukup jauh. Dalam satu gerbong kelas satu, hanya terdapat 36 kursi. Sementara kereta di Indonesia umumnya kursi tidak terlalu besar dan jarak antar kursipun cukup dekat.

Pembatas antar gerbongpun sangat rapi, tidak terlihat besi penyambung antar gerbong, hanya terlihat pintu kaca yang membatasi antar gerbong. Dan suara yang terdengar juga cukup halus untuk ukuran kereta berkecepatan tinggi.

Namun, untuk standar kelas satu yang kami tumpangi fasilitas terhitung standar. Misalnya saja tidak ada stop kontak untuk mencharger gadget dan bahkan tidak ada fasilitas hiburan seperti televisi dimana kedua fasilitas itu saya rasakan ketika naik kereta Jakarta-Bandung saja.

Kelebihannya, kita akan disediakan camilan berupa biskuit, kacang, dan makanan kering lainnya serta sebotol minuman yang diberikan oleh pramugrari kereta yang bertugas.

Rencananya, di Indonesia juga akan mengadopsi layanan kereta cepat yang sama dari Jakarta ke Bandung yang saat ini dalam proses konstruksi. Dimana dengan kereta cepat itu nantinya diharapkan waktu tempuh yang semula memakan waktu 3,5 jam dipangkas hingga satu jam-an saja.

Tag : Kereta Cepat, Kereta Cepat
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top