Waspadai, Wisata Seks Anak di Asia

Portugal, Moldova dan Ukraina di Eropa, serta Laos, Kamboja dan Vietnam di Asia telah menjadi tujuan terbaru untuk wisata seks anak.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 12 Mei 2016  |  22:58 WIB
Waspadai, Wisata Seks Anak di Asia
Turis asal China di Tanjung Benoa, Bali. - Bloomberg

Bisnis.com, LONDON - Portugal, Moldova, Ukraina di Eropa, serta Laos, Kamboja dan Vietnam di Asia telah menjadi tujuan terbaru untuk wisata seks anak.

Hal ini mendorong para aktivis mendesak pemerintah untuk memasukkan langkah-langkah perlindungan anak dalam rencana pariwisata mereka.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada Kamis (12/5/2016) oleh jaringan perlindungan anak global ECPAT menyebut, wisata seks menyebar ke seluruh penjuru dunia ke negara-negara yang sebelumnya tidak bisa diakses setelah pesatnya perkembangan di sektor pariwisata dalam 20 tahun terakhir.

Berdasarkan studi tersebut, jumah turis internasional meningkat dua kali lipat dari 527 juta pada 1995 menjadi 1.14 miliar pada 2014. Di Asia, usaha Thailand untuk membersihkan citranya sebagai tujuan wisara seks dan menindak kejahatan mengakibatkan wisata seks bergeser ke Laos, Vietnam, dan Kamboja.

Sementara itu, Moldova, Portugal dan Ukraina menjadi destinasi wisata seks baru di Eropa.

“Kebanyakan dari negara-negara mulai mencoba untuk membuka diri- hal ini sangat bisa dipahami karena mereka melihat wisata sebagai sektor pembangun ekonomi yang fantastis,” ujar Mark Capaldi, Kepala Kebijakan dan Penelitian ECPAT seperti dikutip dari reuters, Kamis (12/5/2016).

Abaikan Risiko

Dia menyebut, negara-negara yang mencoba mencari peruntungan ekonomi dari sektor wisata sering mengabaikan risiko yang mungkin datang dari wisatawan internasional terhadap anak dan tidak adanya hukum yang melindungi mereka. Negara perlu mempertimbangkan dampak dari pengembangan proyek wisata dari sisi perlindungan anak.

 “Akan jauh lebih sulit untuk kembali dan mengubah reputasi sebuah tempat jika wilayah tersebut sudah dipandang sebagai sarang wisata seks anak,” kata Capaldi.

Menurut Capaldi, kurangnya data mempersulit proses pengkajian mengenai skala eksploitasi seks anak secara global. Dia juga berkata bahwa pertumbuhan pemesanan akomodasi secara daring dan sewa berkontribusi terhadap penyebaran wisata seks karena hal-hal ini mempermudah para pelaku untuk menyembunyikan identitas.

Studi ini juga mengungkapkan, bahwa anak-anak dari kelompok minoritas baik perempuan dan laki-laki lebih rentan terjerat wisata seks dari yang diperkirakan karena mereka hidup dalam kemiskinan.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
seks, wisata, eksploitasi

Sumber : Reuters

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top