Kemah Keluarga Asyiknya Mengenal Alam

Rasa penat dan suntuk setelah melakukan perjalanan panjang sekitar 7 jam dari Jakarta ke kawasan Puncak sehari sebelum libur Natal lalu seketika buyar begitu menghirup udara dingin dan segar di lokasi perkemahan sekitar Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat.
Lutfi Zaenudin | 10 Januari 2016 06:10 WIB
Dalam berkemah, semua dituntut berkomunikasi, bekerja sama dan berbagi tugas.

Bisnis.com, JAKARTA - Rasa penat dan suntuk setelah melakukan perjalanan panjang sekitar 7 jam dari Jakarta ke kawasan Puncak sehari sebelum libur Natal lalu seketika buyar begitu menghirup udara dingin dan segar di lokasi perkemahan sekitar Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat.

Suhu di kawasan hutan Gunung Gede - Pangrango itu rata-rata 18 derajat Celcius, cukup dingin bagi penduduk dari daerah lain apalagi yang cenderung panas seperti Jakarta. Hijau pepohonan, sunyi yang mendamaikan, dan Gunung yang berdiri gagah itu seolah menjadi magnet kuat bagi siapa saja yang menyenangi kegiatan di luar ruangan.

Namun, panorama yang indah itu belum bisa lama-lama dinikmati. Hari mulai gelap. Tenda untuk bermalam keluarga harus buru-buru didirikan. Untunglah, kami bukan yang pertama datang. Dalam sekejap tenda telah siap karena banyak teman yang mengulurkan tangan.

Nantinya, beberapa jam sesudah tenda kami ditegakkan, masih akan masuk beberapa teman lagi yang akan memboyong anggota keluarga masing-masing. Mereka sebagian besar hidup di Ibu Kota dan daerah-derah penyangga di sekitar Jakarta yang tiap hari harus berjibaku dengan kemacetan dan asap kendaraan.

Kegiatan di luar ruangan apalagi yang langsung di alam, menjadi oase yang sangat menyejukkan bagi sebagian anggota masyarakat itu. Kegiatan belanja atau sekadar jalan-jalan ke mal, rekreasi ke tempat wisata, atau menonton di bioskop dianggap sudah biasa. Terasa kurang gereget. Aktivitas berkemah akhirnya menjadi salah satu pilihan, keluar dari rutinitas, meskipun hanya sebentar.

Lokasi perkemahan yang relatif cocok untuk keluarga pun cukup banyak terutama di Jawa Barat seperti kawasan di sekitar hutan Gunung Gede-Pangrango, Batu Tapak Sukabumi, dan Ranca Upas di Ciwideuy.

Selain relatif keamanan, pengelola bumi perkemahan biasanya juga menyiapkan fasilitas penting yakni mandi, cuci, dan kakus meskipun biasanya sederhana. Beberapa pengelola camping ground bahkan sudah menyediakan paket khusus mulai dari sekadar sewa tenda hingga makan dan wisata.

Pengunjung tinggal datang dan semuanya keperluan sudah disiapkan pengelola. Wisatawan tidak perlu repot. Meskipun demikian, berkemah seperti ini memiliki kelemahan terutama kenikmatan ‘berepot-repot’ itu.

Berkemah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merupakan kegiatan membuat (mendirikan) kemah sebagai tempat tinggal darurat yang biasanya berupa tenda dengan ujung yang hampir menyentuh tanah dan terbuat dari kain terpal dan sebagainya. Penyiapan tempat tinggal darurat dan memasak ini lah justru yang sering dicari oleh para pekemah. Meskipun merepotkan, kegiatan seperti itu justru mengasyikkan.

KOMUNITAS KEMAH

Beberapa keluarga memilih berkemah sendiri, tetapi sebagian lagi membentuk komunitas yang dilandasi kesamaan kebutuhan, contohnya Komunitas Kemah Keluarga Indonesia (K3I).

Komunitas yang dimotori oleh Bharata Ceppy Asmara Lubis ini berusaha memadukan kegiatan alam dengan meningkatkan kualitas hubungan dalam keluarga. “Ada yang berawal dari hobi, dari kebersamaan, dari rasa ingin membahagiakan keluarga. Ada yang ingin kembali ke alam, ada yang ingin pengalaman baru, dan menambah teman,” katanya mengenai motif anggota yang bergabung dalam komunitas tersebut.

Berbeda dengan komunitas lain, K3I ini menyebut menggunakan om dan tante sebagai panggilan kepada anggota lainnya. “Biar muda terus,” kata Om Ceppy. Pada 25-27 Desember komunitas ini baru saja menyelenggarakan Kemah Keluarga #4 yang dihadiri sekitar 150 keluarga.

Selain acara kemah yang relatif besar, K3I juga menyelenggarakan pertemuan bulanan yang mereka sebut kopdar, kependekan dari kopi darat. Tempat kemah biasanya didiskusikan terlebih dahulu, tetapi cukup sering mendadak.

“Kadang sahut-sahutan saja ide kemahnya,” kata Nofi Wahyu Darmawan, Ketua Panitia Kemah Keluarga tersebut.

Meskipun kegiatan berkemah umumnya disertai dengan kegiatan rekreasi yang lebih menantang seperti mendaki gunung, berenang, berperahu, dan bersepeda, komunitas ini lebih berkonsentrasi lebih mementingkan bagaimana meningkatkan kualitas hubungan dalam suatu keluarga. Bukan sekadar rekreasi atau aktivitas di luar ruangan.

Dalam berkemah, semua dituntut berkomunikasi, bekerja sama dan berbagi tugas. Hal sepele yang mungkin dirasakan menjadi hal yang sulit ditemukan dalam kehidupan keluarga di kota-kota besar yang lebih akrab dengan gadget.

Anak-anak justru diperkenalkan ke alam dan permainan fisik yang dahulu dinikmati oleh ayah dan bunda mereka. Ternyata, ketertarikan mereka dengan gadget bisa langsung teralihkan ke permainan tradisional. Selain itu, anak-anak pun bisa diajarkan lebih mandiri, toleran, kompetitif, dan menghargai orang lain. Jadi sudah siap berkemah? ()

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (10/1/2016)

Tag : bumi perkemahan
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top