Open Trip, Jalan-Jalan Seru Kaum Muda Urban

Sejak beberapa tahun terakhir, semakin banyak kaum muda menggemari kegiatan travelling. Hobi nge-trip, bahkan sudah menjadi tren di kalangan kawula muda, khususnya bagi mereka yang tinggal di perkotaan.
Nurbaiti
Nurbaiti - Bisnis.com 13 September 2015  |  10:30 WIB
Open Trip, Jalan-Jalan Seru Kaum Muda Urban
Bagi penggemar wisata alam, juga tersedia hutan pantai, hutan dataran tinggi dan rendah, sabana flat dan ungulate, mangrove, padang lamun, hingga terumbu karang. Apa yang ditawarkan tentunya sangat menarik bagi pencinta travelling. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Sejak beberapa tahun terakhir, semakin banyak kaum muda menggemari kegiatan travelling. Hobi nge-trip, bahkan sudah menjadi tren di kalangan kawula muda, khususnya bagi mereka yang tinggal di perkotaan.

Pejalan dengan itu, biro perjalanan maupun penyedia jasa lainnya juga berlomba-lomba menawarkan berbagai inovasi dan ragam sensasi berlibur serta kemudahan mendatangi destinasi wisata, salah satunya melalui open trip.

Open trip  merupakan trip gabungan yang dilakukan oleh beberapa orang ke suatu destinasi wisata. Biasanya, kegiatan open trip dilakukan oleh sekelompok orang yang belum saling kenal sebelumnya, dan maksimal 10—15 peserta.

Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi, Insentif, dan Even Kementerian Pariwisata Akhyaruddin mengakui peran media sosial sangat berpengaruh terhadap tingginya animo masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata.

“Beberapa pulau di Jakarta, seperti Tidung atau Untung Jawa, dan Pulau Umang di Banten kerap menjadi tujuan open trip,” ujarnya.

Co-founder Backpack Seru Ardy Putra mengungkapkan sebenarnya kegiatan jalan-jalan bersama dengan orang-orang yang tak dikenal itu sudah berlangsung sejak lama. Namun, beberapa tahun belakangan menjadi lebih terekspos seiring dengan perkembangan media sosial.

Dalam open trip, peserta bisa merancang sendiri rencana perjalanannya, termasuk biaya yang akan disepakati. Biasanya, mahasiswa memilih destinasi yang dekat seperti Kepulauan Seribu.

Namun, bagi kawula muda yang sudah mapan dari segi finansial cenderung memilih destinasi yang lebih jauh. “Makanya untuk tarif, ada yang mulai dari Rp160.000 sampai Rp17 juta, misalnya untuk tujuan ke Maladewa, tetapi tidak termasuk tiket pesawat,” katanya.

Untuk menyiapkan destinasi wisata, operator open trip biasanya berhubungan dengan pihak-pihak di daerah, mulai dari guide, hotel, persewaan kapal, restoran, dan sebagainya.

Menurut pengalaman beberapa peserta open trip, kegiatan itu tak hanya sekadar berlibur, tetapi juga memberikan sensasi berbeda dibandingkan dengan pergi sendiri atau ikut tur.

Taruli Elbina, misalnya. Perempuan 28 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai guru Bahasa Inggris ini mengungkapkan dengan open trip, peserta juga tidak perlu repot-repot mengurusi biaya akomodasi.

“Saya cukup membayar dengan harga tertentu, dan terima beres,” katanya. Apalagi, dengan harga yang relatif murah dan waktu yang cukup fleksibel, peserta bisa menyesuaikan sendiri jadwalnya dengan penawaran yang ada di biro open trip.

Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Asnawi Bahar optimistis prospek bisnis open trip  akan terus berkembang, mengingat semakin banyak orang yang mencari harga murah. “Kalau dibandingkan dengan grup-grup kecil, cost-nya besar, nah kalau digabung [open trip] cost-nya jadi lebih rendah.”

Di sisi lain, makin populernya open trip, makin tinggi pula efek negatifnya terhadap lingkungan. Tak jarang peserta open trip meninggalkan banyak sampah di daerah-daerah pariwisata.

Hal ini pula yang menjadi fokus Wanderlust Indonesia. Salah satu vendor open trip itu tak hanya sekadar menawarkan sensasi berlibur kepada pesertanya, tetapi juga mengusung konsep edukasi dan pertalian sosial dalam kegiatan trip-nya.

Syahira Marina, Co-founder Wanderlust Indonesia, mengatakan dengan kisaran tarif yang cukup premium, pihaknya berani mengusung gagasan social enterprise dalam menjalankan bisnis open trip-nya.

“Yang pasti, Wanderlust adalah social business yang menggabungkan antara traveling dan volunteering. Jadi, yang kami tawarkan adalah value, sekaligus kampanye agar pada saat berwisata, orang-orang juga mengenal lingkungannya,” katanya.

Dia menjelaskan beberapa program open trip yang ditawarkan, di antaranya regular trip atau perjalanan wisata biasa pada akhir pekan. Selain itu, juga ada special trip yang menyasar warga asing dengan konsep mirip seperti KKN (kuliah kerja nyata) selama dua pekan sampai sebulan, sehingga bisa merasakan dan menjalani kehidupan layaknya warga lokal.

Terkait asuransi, Heri Sarwono, pemilik biro perjalanan yang memfokuskan pada destinasi wisata Pulau Seribu mengungkapkan hampir semua biro perjalanan wisata tidak akan memberikan asuransi yang meng-cover semuanya.

Biasanya, biro perjalanan berdalih persoalan asuransi sudah ditanggung oleh instansi atau perusahaan lain. Dia mencontohkan untuk asuransi perjalanan sudah ada perusahaan yang menyediakan, apakah menggunakan pesawat, kapal, atau moda transportasi lain.

Begitu pula kalau menginap di hotel sudah ada asuransi yang diberikan oleh pihak hotel. “Itulah kenapa biro perjalanan merasa tidak perlu mengadakan asuransi keselamatan lagi," katanya.

PENGELOLA WISATA

Bagi pengelola destinasi wisata yang sering menjadi tujuan pengunjung, kegiatan open trip lebih menguntungkan tidak hanya dari segi okupansi, tetapi juga dalam hal efisiensi dan pelayanan.

Pengelola Tidung Lagoon Resort Laurensia Indrawati mengatakan okupansi bisa meningkat hingga 90% dari open trip. “Dari segi pelayanan juga lebih efisien karena yang dilayani sekaligus banyak.”

Salah satu kawasan yang kerap menjadi destinasi favorit para penikmat open trip dari berbagai daerah adalah Taman Nasional Baluran, yang terletak di perbatasan Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi.

Koordinator Pariwisata di Taman Nasional Baluran, Eka F. Juniarsa, menyebutkan pada musim-musim tertentu Baluran menjadi jujugan safari bagi para wisatawan dan pencinta alam.

Pengelola taman juga sudah melengkapi berbagai fasilitas untuk kenyamanan pengunjung. Untuk backpacker atau peserta open trip, tersedia persewaan kamar dan sepeda motor.

Bagi penggemar wisata alam, juga tersedia hutan pantai, hutan dataran tinggi dan rendah, sabana flat dan ungulate, mangrove, padang lamun, hingga terumbu karang. Apa yang ditawarkan tentunya sangat menarik bagi pencinta travelling.

Dari kacamata sosiolog, Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengatakan semakin meningkatnya jumlah kelas menengah, khususnya yang tinggal di perkotaan turut memengaruhi perkembangan industri pariwisata.

“Kalangan  middle class, kaum urban yang hidup di kota merasakan pengap, macet, atau polusi. Mereka ingin lepas dari rutinitas, ada dorongan ingin keluar. Karena itu semakin hari semakin besar minat masyarakat terhadap travelling ,” katanya.

Namun, untuk menghindari terjadinya penipuan, Sularsi dari Tim Pengaduan dan Hukum YLKI mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih biro perjalanan, jangan hanya tergoda oleh tawaran harga murah. 

Reportase: M. TAUFIQUR RAHMAN, TISYRIN NAUFALTY T &  WIKE  D. HERLINDA


Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wisata, jalan-jalan, Kaum Muda, Bag Packer

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top