Menikmati Suasana Tradisional Jepang

Jepang identik dengan perkembangan teknologi canggih tetapi masih ada beberapa destinasi wisata yang menyuguhkan sisi tradisional negeri Matahari Terbit tersebut.Shirakawa-go adalah salah satu destinasi wisata yang patut menjadi pilihan saat berkunjung ke Jepang untuk menikmati suasana zaman dahulu. Wilayah ini berada di Prefektur Gifu, Chubu, atau sekitar 300 kilometer dari Ibu Kota Jepang dan dikelilingi oleh pegunungan.
Annisa Sulistyo Rini | 23 Februari 2018 22:19 WIB
Pemandangan Shirakawa-go - Jibi/Annisa Sulistyo Rini

Jepang identik dengan perkembangan teknologi canggih tetapi masih ada beberapa destinasi wisata yang menyuguhkan sisi tradisional negeri Matahari Terbit tersebut.

Shirakawa-go adalah salah satu destinasi wisata yang patut menjadi pilihan saat berkunjung ke Jepang untuk menikmati suasana zaman dahulu. Wilayah ini berada di Prefektur Gifu, Chubu, atau sekitar 300 kilometer dari Ibu Kota Jepang dan dikelilingi oleh pegunungan.

Shirakawa-go terkenal dengan rumah tradisional bernama gassho, yang berupa rumah dengan atap berbentuk segitiga dan terbuat dari anyaman jerami. Beberapa rumah gassho di Shirakawa-go telah berusia lebih dari 250 tahun.

Gassho merupakan bahasa Jepang yang berarti posisi kedua tangan di depan dada saat berdoa dalam agama Budha.  Dengan kata lain, gaya arsitektur ini disebut gassho karena atap rumah yang berbentuk segitiga menyerupai bentuk tangan tersebut.

Bentuk segitiga pada rumah gassho ini bertujuan agar salju yang tertimbun di atap rumah saat musim dingin lebih mudah diturunkan. Selain itu, agar air tidak tergenang di atap rumah saat turun hujan.

Bisnis berkesempatan mengunjungi wilayah yang ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia oleh Unesco pada 1995 ini saat musim dingin, tepatnya pada pertengahan Januari. Salju tebal terlihat menyelimuti wilayah ini dan suhu di Shirakawa-go saat itu berada di kisaran 4 derajat Celsius, cukup dingin bagi wisatawan yang berasal dari negara tropis.

Salah satu area di Shirakawa-go yang menjadi objek wisata utama adalah Ogimachi. Saat puncak musim salju, Ogimachi, tertutup salju setebal 1 meter hingga 2 meter. Untuk mencapai area terbesar di Shirakawa-go ini, wisatawan harus menyebrangi jembatan yang membentang di atas sungai Shogawa dari pintu masuk.

Untuk menarik lebih banyak wisatawan saat musim dingin, para warga Shirakawa-go menyelenggarakan festival cahaya yang diadakan empat kali pada Minggu dan Senin malam pada Januari dan Februari.

Pada tahun ini, festival tersebut diselenggarakan pada 21 Januari, 28 Januari, 4 Februari, dan 12 Februari. Bagi para wisatawan yang ingin menikmati festival ini, disarankan untuk menginap di rumah gassho milik warga yang dijadikan penginapan.

Arihara Susumu, pemandu wisata lokal, menuturkan untuk menginap di rumah gassho warga, wisatawan harus mengeluarkan kocek senilai 10.000 yen atau sekitar Rp1,2 juta per malam. “Biaya tersebut termasuk fasilitas dua kali makan dalam sehari,” jelasnya.

Wisatawan juga dapat melihat-lihat isi rumah gassho di area Ogimachi. Salah satu rumah gassho yang terkenal adalah rumah Wada yang merupakan rumah tertua dan sudah dihuni sekitar 20 generasi.

Di dalam rumah Wada, pengunjung akan diajak untuk merasakan atmosfer Jepang pada zaman pertengahan Edo. Rumah ini terdiri dari 2 lantai, di mana lantai pertama digunakan sebagai tempat tinggal dan lantai dua merupakan loteng yang digunakan untuk beternak ulat sutra.

Untuk bisa menikmati suasana zaman dahulu di rumah Wada, pengunjung harus membayar tiket senilai 300 yen atau sekitar Rp36.000. Rumah Wada buka dari pukul 9.00 pagi hingga 17.00 sore.

Beberapa rumah warga juga dijadikan sebagai toko souvenir yang menjual bermacam-macam pernak-pernik dan jajanan khas Shirakawa-go, seperti kue kering atau cookies berbentuk rumah gassho. Selain itu, di sini wisatawan bisa membeli suvenir berbentuk boneka sarubobo.

Boneka sarubobo merupakan jimat keberuntungan berbentuk boneka manusia berwarna merah dan tidak memiliki wajah. Boneka ini berasal dari Prefektur Gifu dan dapat dijumpai di kota lain di prefektur ini, seperti Takayama.

Shirakawa-go bisa dicapai menggunakan kereta cepat Hokuriku Shinkansen dari Tokyo dengan waktu tempuh antara 2 jam hingga 2,5 jam. Harga tiket Hokuriku Shinkansen untuk menuju Toyama adalah 12.500 yen atau sekitar Rp1,5 juta untuk sekali jalan.

Dari Toyama, wisatawan bisa menggunakan bus untuk mencapai Shirakawa-go dengan waktu tempuh 1,5 jam dan biaya 1.700 yen atau sekitar Rp204.000 sekali jalan.

Selain dari Tokyo, Shirakawa-go juga dapat dicapai dari Nagoya menggunakan Bus Gifu. Waktu tempuh dengan bus ini sekitar 3 jam dengan biaya 3.900 yen atau setara Rp468.000 untuk sekali jalan. Para wisatawan bisa naik bus melalui Meitetsu Bus Center yang berada di sebelah Stasiun Nagoya.

Kota  Takayama

Wisatawan juga bisa menikmati suasana tradisional Jepang di Kota Takayama yang berjarak 50 kilometer dari Shirakawa-go. Kota ini juga terletak di Prefektur Gifu dan dikenal dengan nama Hida Takayama.

Kota yang dijuluki Little Kyoto ini menawarkan atmosfer Jepang pada abad 17. Di sepanjang jalan banyak terlihat rumah-rumah pedagang yang masih terjaga keasliannya dan berusia lebih dari 100 tahun. Saat ini, rumah-rumah tersebut menjadi toko-toko yang menawarkan souvenir maupun makanan lokal.

Takayama terkenal dengan festival Takayama Matsuri yang digelar setiap musim semi dan musim gugur. Salah satu objek wisata yang bisa dikunjungi di Takayama adalah Kusakabe Mingei-kan atau rumah tradisional Kusakabe.

Rumah ini berusia sekitar 300 tahun dan bergaya arstitektur Edo. Selain Kusakabe, terdapat pula objek wisata warisan masa lalu di Takayama, yaitu Yoshijima Heritage House, Takayama Jinya, dan Takayama Betsuin Temple Treasure House.

Para wisatawan juga bisa mengunjungi pasar pagi Miyagawa yang terletak tepat di tepi sungai dengan nama yang sama. Pasar ini buka setiap hari dari pukul 7 pagi pada April hingga Desember hingga siang dan pukul 8 pagi hingga siang hari pada Januari-Maret.

Di pasar ini dapat ditemui bermacam makanan dan hasil pertanian Takayama. Daging sapi Hida Beef sangat terkenal di sini, bahkan wisatawan bisa menemui sushi hida beef yang sepertinya sulit ditemukan di luar Takayama.

Yang lebih menarik, Takayama menawarkan wisata halal untuk menarik lebih banyak wisatawan muslim terutama dari Malaysia, Indonesia, dan negara muslim lainnya.

Eiji Maruyama, Executive Director Overseas Marketing Strategi Division City of Takayama, mengatakan Pemerintah Kota Takayama telah memulai program wisata halal ini sejak 15 tahun yang lalu. Beberapa fasilitas halal yang ditawarkan antara lain tempat ibadah dan berwudhu, menu halal, pemandian air panas, serta souvenir yang bebas dari kandungan babi.

"Wisata halal kami tawarkan agar semua wisatawan dapat menikmati kunjungan di Takayama," ujarnya.

Negara-negara muslim yang disasar pemerintah kota Takayama antara lain Malaysia, Indonesia, dan negara-negara kawasan Timur Tengah. Saat ini, kontribusi kunjungan wisatawan asal negara Asean belum terlalu besar dibandingkan negara lainnya.

Taiwan menjadi negara dengan kontribusi wisatawan terbesar yang mengunjungi Takayama, yaitu sebesar 19%, disusul Hongkong 13%, dan Thailand 8%. Singapura menyumbang 3% dan Malaysia sebesar 2%, sedangkan kontribusi kunjungan wisatawan Indonesia ke Takayama masih di bawah 1%.

Takayama juga memiliki beberapa program promosi untuk mengenalkan wisatanya lebih luas, antara lain dengan menjalin hubungan dengan pemerintah kota lain seperti Denver di Amerika Serikat, Lijiang di China, Sibiu di Romania, Urubamba di Peru, dan lainnya.

 "Kami juga giat berpromosi dengan website yang tersedia dalam 11 bahasa. Wi-Fi gratis kami sediakan pula untuk para wisatawan," lanjut Eiji.

 Untuk mencapai Hida Takayama, para wisatawan dapat menggunakan kereta dan bus dari Tokyo, Osaka, maupun Kyoto. Lama perjalanan dari Tokyo ke Takayama yaitu 4 jam dengan kereta dan 5 jam 30 menit dengan bus.

 

Tag : jepang
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top