Gunung Agung Erupsi, Turis China Lirik Danau Toba & Lombok

Wisatawan asal China sudah mulai melirik objek wisata Danau Toba di Sumatera Utara dan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebagai tempat berlibur alternatif untuk menghindari dampak letusan Gunung Agung di Bali.
Newswire | 11 Desember 2017 11:50 WIB
Sejumlah penari membawakan tarian Tortor saat menyambut kedatangan pertama penumpang dari Singapura setibanya di Bandara Internasional Silangit, Tapanuli, Sumatera Utara, Sabtu (28 - 10). Bandara dibawah pengelolaan PT. Angkasa Pura II dengan terminal baru yang mampu menampung lima ratus ribu penumpang pertahunnya resmi melayani rute luar negeri yang nantinya diharapkan mampu mendatangkan wisatawan mancanegara untuuk berkunjung ke Danau Toba yang merupakan salah satu sepuluh destinasi wisata yang diprioritask

Bisnis.com, SHANGHAI - Wisatawan asal China sudah mulai melirik objek wisata Danau Toba di Sumatera Utara dan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebagai tempat berlibur alternatif untuk menghindari dampak letusan Gunung Agung di Bali.

"Selain Danau Toba dan Lombok, mereka juga sudah banyak yang bertanya-tanya tentang paket wisata Raja Ampat," kata Konsul Pariwisata KJRI Shanghai, Chandra Hasan, di Shanghai, Senin (11/12/2017).

Apalagi dia melihat imbauan Pemerintah China kepada warganya khusus untuk Bali, yang berlaku hingga pemerintah Indonesia sudah menyatakan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dari dampak letusan gunung api yang dekat dengan objek wisata Pura Besakih di Kabupaten Karangasem itu.

Selain penerbangan langsung menuju Denpasar, Bali, setiap hari, baik oleh Garuda Indonesia maupun maskapai penerbangan asal China, terdapat pula penerbangan langsung dari Shanghai menuju Manado dan Bintan.

Chandra juga optimistis bahwa kunjungan wisatawan China ke Bali mulai pulih, setidaknya menjelang Tahun Baru Imlek 2018.

"Kalau pun kunjungan ke Bali pada Natal dan Tahun Baru 2018 terpengaruh letusan Gunung Agung, maka saya yakin Imlek tahun depan sudah pulih," katanya.

Menurut dia, gelombang terbesar kunjungan wisatawan asal China terjadi pada Tahun Baru Imlek, bukan tahun baru masehi.

Masa liburan Tahun Baru Imlek di daratan China dan sekitarnya jauh lebih panjang daripada Natal dan Tahun Baru Masehi.

Ia juga menganggap letusan Gunung Agung tidak memberikan pengaruh besar terhadap kunjungan wisatawan asal China.

"Apalagi orang-orang Shanghai kebanyakan sudah pernah berlibur ke Bali. Tentu mereka ingin berlibur ke beberapa objek wisata lain di Indonesia," ujar Chandra.

Shanghai memberi kontribusi terbesar wisatawan asal China yang berkunjung ke Indonesia.

Paket wisata Indonesia sudah mulai ramai dan banyak ditemukan di aplikasi penjualan daring terbesar di China, seperti CTrip.

Selama periode 2014-2019, Presiden Joko Widodo menargetkan kunjungan 20 juta wisatawan asing, separuh di antaranya berasal dari China. Pada tahun 2016, jumlah kunjungan wisatawan China mencapai 1,5 juta, sedangkan tahun 2017 ditargetkan sebanyak 2,5 juta.

China memberi kontribusi terbesar wisatawan asing ke Indonesia selama tiga tahun terakhir sekaligus menggeser Australia, Malaysia, dan Jepang. Namun, untuk kunjungan ke kawasan Asia Tenggara, wisatawan China masih banyak yang berlibur ke Thailand, Singapura, dan Malaysia.

Sumber : Antara

Tag : gunung agung
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top