Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pendaki Perempuan, Ini Hal Penting yang Harus Kamu Perhatikan Saat Mendaki Gunung

Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan para pendaki perempuan rekomendasi dari Women Adventure Camp (WAC), kegiatan tahunan EIGER
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 30 November 2021  |  17:33 WIB
Pendaki Perempuan, Ini Hal Penting yang Harus Kamu Perhatikan Saat Mendaki Gunung
Pendaki gunung perempuan

Bisnis.com, JAKARTA - Perempuan pendaki gunung kini jumlahnya semakin banyak.

Berdasarkan data dari Eiger Adventure Service Team (EAST) menunjukkan bahwa hampir 55% pendaki saat ini adalah perempuan.

Dini Hanifah, anggota EIGER Adventure Service Team mengatakan dalam mendaki gunung, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan perempuan.

"Pada dasarnya, ada 4 kemampuan yang harus dimiliki petualang, yaitu kemampuan teknis, kebugaran, kemanusiaan, dan pemahaman lingkungan," ujarnya dikutip dari keterangan tertulis.  

Uki Wardoyo, seorang pendaki perempuan yang juga merupakan brand ambassador EIGER Adventure mengatakan bahwa pada dasarnya ada hal-hal yang perempuan harus terima terutama mengenai kondisi tubuh. Tapi, bukan berarti perempuan harus diam dengan stereotip yang ada.

“Dengan terus berlatih, belajar dan kenali diri sendiri kita bisa mematahkan stereotip yang ada, tanpa memaksakan. Hal tersederhana yang bisa dilakukan untuk mematahkan stereotip itu adalah dengan ambil peran masing-masing di dalam tim,” tutup Uki Wardoyo, brand ambassador EIGER Adventure.

Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan para pendaki perempuan rekomendasi dari Women Adventure Camp (WAC), kegiatan tahunan EIGER :

1. Kenali bahaya objektif dan subjektif dalam perjalanan

Iwan “Kwecheng” Irawan, salah satu World Seven Summiter asal Indonesia mengatakan, “Sebagai seorang petualang, tekad merupakan hal paling penting. Semangat saja tidak cukup!” Namun, ia menekankan bahwa tekad harus diimbangi dengan pengetahuan tentang kegiatan luar ruang, khususnya mengenai jenis-jenis bahaya.

Kang Kwecheng menjelaskan, ada dua jenis bahaya dalam kegiatan luar ruang yaitu bahaya objektif dan subjektif. Bahaya objektif merupakan bahaya yang diakibatkan oleh faktor alam seperti ketinggian, cuaca, oksigen, medan, dan curah hujan, sedangkan bahaya subjektif merupakan bahaya yang diakibatkan oleh faktor manusia atau keterbatasan Sumber Daya Manusia.  

“Ketika bahaya subjektif lebih besar dari bahaya objektif, artinya semua orang bisa ikut berkegiatan selama semua kondisi alam sudah diprediksi dan diperhitungkan. Sedangkan ketika bahaya objektif sama dengan bahaya subjektif, artinya kegiatan tersebut mengandung bahaya dan para penggiatnya harus memiliki kemampuan lebih. Jika bahaya objektif lebih besar dari bahaya subjektif, artinya kegiatan tersebut mengundang bahaya dari kondisi alam yang tidak bisa diprediksi, seperti saat melakukan ekspedisi,” ujar Iwan “Kwecheng” Irawan, anggota EIGER Adventure Service Team (EAST).

2. Tetap menjaga higientias dalam berkegiatan luar ruang

dr.Ratih Citra Sari, yang merupakan lulusan Wilderness Medicine di Stanford University ini menitik beratkan pada menjaga kebersihan organ intim perempuan.

"Masih banyak pendaki perempuan yang abai dengan higienitas saat berkegiatan dengan berbagai alasan. Padahal jika tidak diperhatikan sejak dini, hal ini dapat berdampak besar di kemudian hari seperti vaginitis atau infeksi vagina hingga sulitnya memiliki keturunan.” ujarnya.

Dia mengatakan hal utama dalam menjaga higienitas adalah selalu mengganti pakaian dalam sebelum tidur dan membasuh organ intim dengan air setidaknya 1x sehari, bukan menggunakan tissue basah. dr.Ratih menjelaskan, dengan melakukan dua hal sederhana ini, para perempuan sudah mengurangi kemungkinan infeksi di area luar dan dalam organ kewanitaan. Hal lain yang harus diperhatikan para pendaki perempuan adalah sampah pembalut. dr.Ratih menekankan untuk selalu membawa turun sampah pembalut selama berkegiatan.  

3. Menyiapkan perbekalan yang ramah lingkungan

Siska Nirmala yang dikenal melalui akun instagram @zerowasteadventure dan juga salah satu brand ambassador EIGER Adventure menyampaikan materi perbekalan yang ramah lingkungan saat mendaki gunung. Dalam penjelasannya, Siska menjelaskan filosofi zero waste yang berarti mengurangi penggunaan barang sekali pakai dan menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa dipakai berulang kali.

Ketika mendaki gunung, Siska mengatakan sebisa mungkin menghindari makanan kemasan dan menggantinya dengan buah-buahan, sayur, atau bahan masakan lain yang dibungkus dengan kotak atau tas jaring untuk menjaga ketahanan buah dan sayur. Tidak hanya mengganti makanan kemasan, Siska kemudian memilah sampah yang dihasilkan untuk dijadikan kompos ataupun diberikan ke bank sampah untuk sampah-sampah yang tidak dapat terurai.

“Meskipun masih banyak orang yang melihat ini kegiatan yang rumit, namun jika sudah terbiasa, justru perjalanan jadi lebih simple dan sederhana. Kuncinya adalah perencanaan perjalanan,” ujar Siska Nirmala “Zero Waste Adventure”, brand ambassador EIGER Adventure.

4. Pahami outfit yang aman dan nyaman bagi pendaki perempuan

Materi ini disampaikan oleh Abex, salah satu brand ambassador EIGER yang dikenal melalui akun instagram @anak_bebek. Dalam materinya, Abex menjelaskan pentingnya sistem layering dalam berpakaian ketika mendaki gunung.

“Pada dasarnya, ada 3 layer yang harus diketahui para pendaki, yaitu base layer, mid layer dan outer layer. Ketiga layer ini memiliki manfaatnya masing-masing dan penting untuk menjaga suhu dan kondisi tubuh saat mendaki gunung,” ujar Abex, brand ambassador EIGER Adventure. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gunung pendaki gunung
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top