Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mikael Jasin, Barista Indonesia Kelas Dunia yang Berdayakan Petani Kopi Indonesia

Barista asal Indonesia ini sukses mendunia dan kini ingin memberdayakan petani kopi di tanah air.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 21 Oktober 2021  |  16:14 WIB
Mikael Jasin, barista Indonesia yang berkiprah di mancanegara
Mikael Jasin, barista Indonesia yang berkiprah di mancanegara

Bisnis.com, JAKARTA - Tentu Anda kenal istilah barista, terutama para pecinta kopi. Tapi tahukah Anda ada barista Indonesia yang sudah merambah secara internasional?

Dia adalah Mikael Jasin. Dia merupakan barista Indonesia yang menempati urutan keempat di Kejuaraan Barista Dunia (World Barista Championship) di Boston tahun 2019.

Mikael memulai perjalanan kopinya di Melbourne, Australia pada tahun 2012 hingga akhirnya ia bekerja di salah satu café teramai di Melbourne. 

Dari bekerja di coffee shop, kini, Mikael sudah menjalankan dua perusahaan konsultan kopi yaitu So So Good Coffee Company, nama yang diambil dari ucapan ciri khas Mikael yang digunakan saat World Barista Championship, dan Catur Coffee Company, yang merupakan sebuah perusahaan kopi yang melakukan kegiatan impor dan ekspor.

Nama Catur, yang berarti empat dari bahasa Sansekerta kuno, mewakili empat profil kopi yang Mikael ciptakan yaitu Bumi, Senja, Pucuk, dan Kamala. 

Empat profil rasa ini dibuat untuk mengangkat citra kopi, memberikan rasa yang bersih dan nikmat dengan karakter berbeda-beda untuk penikmatnya. Rasa kopi ‘Bumi’ mengandung rasa manis dengan sentuhan rasa coklat dan rempah-rempah yang umumnya disukai penduduk Indonesia. Sementara ‘Senja’ memberikan cita rasa bervariasi yang memiliki komponen rasa dari asam hingga manis. 

Profil ‘Pucuk’ menggabungkan cita rasa yang lebih lembut seperti teh dengan sedikit keasaman sitrat. Sedangkan profil kopi terakhir, ‘Kamala’ menawarkan berbagai cita rasa buah-buahan dan biji kakao, yang mana bagi Mikael rasa ‘Kamala’ ini adalah rasa yang dapat diciptakan biji kopi Indonesia melalui teknik pengolahan pasca panen yang inovatif dan teruji.

Mikael Jasin berharap melalui platform-platform yang dia miliki sekarang, dapat berbagi semangat, pengetahuan dan inovasi terbaru di industri kopi bersama para barista, petani, pengolah kopi, dan masyarakat umum di Indonesia. 

Mikael juga berharap para pelaku industri kopi lainnya dapat memiliki platform masing-masing yang dapat menyebarkan pengetahuan serta keahlian yang dibutuhkan untuk membawa industri kopi Indonesia ke kualitas yang lebih baik.

Diapun mengajak para petani kopi untuk memperbaiki kendala pengembangan industri kopi di tanah air.

Berbekal pengalaman di industri kopi, Mikael menawarkan ilmu dan pengetahuannya kepada petani kopi untuk menyederhanakan proses bertani kopi dan mengimplementasikan modernisasi.

Dalam pembinaan, Mikael melibatkan akademisi terkemuka yang memahami pengolahan kopi, salah satunya  Intan Taufik, S.Si., M.Si., Ph.D., seorang dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB), untuk menciptakan inokulan yang berfungsi sebagai prekursor fermentasi untuk kopi.

Mikael mengatakan, perubahan diperlukan untuk memperbaiki industri kopi di Indonesia. Dengan gagasan dan kiprahnya ini, dia berharap dapat membawa para pekerja di industri kopi lebih maju untuk mencapai tujuan utama yaitu memasok biji kopi terbaik Indonesia ke seluruh dunia.

”Saya ingin mendorong petani kopi menjadi lebih baik dan saya berusaha menjadi agen perubahan dengan terus bekerja sama dengan petani dan akademisi,” katanya dalam keterangan tertulisnya. 

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara pengekspor utama komoditas pertanian, salah satunya kopi. Hal ini didukung oleh iklim yang cocok untuk pertumbuhan kopi. Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia. Di tengah capaian itu, para petani Indonesia menghadapi tiga kendala yaitu kualitas kopi, kebutuhan modal, dan pemenuhan pasar. Petani umumnya masih mengandalkan modal dari sumber pembiayaan informal termasuk rentenir.

Dampaknya, saat harus melunasi pinjaman tersebut, petani kerap harus  menjual kopi kepada pemberi pinjaman dengan harga jauh di bawah harga pasar. Akibatnya petani lebih mengejar kuantitas hasil panen ketimbang kualitas. Keuntungan yang diperoleh pun, sering masih harus dibagi dengan pemilik lahan. Siklus ini terus berulang.

 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kopi barista
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top