Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

4 Tips Travel di Era pandemi Ala Rick Steves

Pada awal bulan April, Steves melakukan wawancara tentang masa depan perjalanan dengan Fund for Education Abroad, sebuah organisasi yang memberikan beasiswa dan dukungan berkelanjutan kepada siswa yang kurang terwakili di antara populasi studi di luar negeri AS.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 20 April 2021  |  11:05 WIB
Rick Steves - istimewa
Rick Steves - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA- Selama pandemi mendera aktivitas traveling mengalami keterbatasan ruang untuk berpertualang. Setelah tidur cukup lama, tak ada salahnya mencoba memulai menjelajah isi bumi kembali dengan cara yang aman mengikuti protokol kesehatan.

Melansir dari travelandleisure, penulis perjalanan legendaris dan pembawa acara TV, Rick Steves mengatakan perjalan di era pandemi akan terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya.

Pada awal bulan April, Steves melakukan wawancara tentang masa depan perjalanan dengan Fund for Education Abroad, sebuah organisasi yang memberikan beasiswa dan dukungan berkelanjutan kepada siswa yang kurang terwakili di antara populasi studi di luar negeri AS.

Steves mengukapkan bila ia siap untuk kembali keluar dan menjelajahi dunia lagi.

"Ini merupakan penyesuaian yang cukup tentang waktu istirahat dari perjalanan. Masa ini harus dimanfaatkan sebagai mungkin meskipun ini disebut singgah paksa," kata Steves.

Ia mengaku menggunakan tahun ini sebaik mungkin untuk mempertahankan pola pikir petualangnya dan mencoba hal-hal baru. Itu termasuk mengajak jalan-jalan anjingnya dan mengenal tetangganya.

Meski sudah bersiap untuk kembali bepergian, tetapi ia mencatat bahwa memiliki banyak pekerjaan di depannya.

Berikut adalah tip untuk kembali berpergian di era pandemi dari Rick Steves :

1. Tidak Dapat Mengandalkan Buku Panduan Lama

Menurut Steves, urutan pertama bisnisnya ketika dia kembali bekerja adalah duduk bersama tim peneliti dan membaca buku panduannya saat ini untuk melihat apa yang sudah ketinggalan zaman.

"Saya tidak tahu kerusakan apa yang akan terjadi setelah satu setengah tahun tidak ada bisnis," katanya.
Itu mengacu pada banyak toko dan vendor yang dia sarankan dan bagaimana mereka menghadapi pandemi.

"Seorang teman saya mengelola museum di Arkansas. Dia memperkirakan museum yang harus ditutup tidak akan dibuka kembali," kata Steves.

"Itulah kekhawatiran terbesar saya, seperti perasaab semua ibu pada anaknya. Ini adalah usaha wirausaha menawan yang membuat perjalanan menyenangkan. Harapan saya bahwa mereka akan tetap di sini setelah ini selesai," tuturnya.
Jika Anda memang berencana untuk bepergian dalam waktu dekat, periksa kembali semua tempat tersebut apakah masih terbuka atau tidak ada sama sekali.

2. Toko Kecil Membutuhkan Bantuan Anda.

Jika tempat favorit Anda atau bisnis kecil yang ingin Anda kunjungi berhasil melewati ujian tahun lalu, sekaranglah waktunya untuk tidak hanya berkunjung tetapi juga menghabiskan di mana Anda bisa.

"Penting di mana kita membelanjakan uang kita," kata Steves, dan dia menyarankan untuk berinvestasi sebanyak mungkin ke toko yang dimiliki secara independen.

3. Bandara Akan Terlihat Sedikit Berbeda

Ketika ditanya tentang perjalanan terlihat berbeda di dunia paska pandemi, Steves mengatakan dia yakin itu tidak akan mengubah semua secara dramatis, mengingat berapa banyak perubahan yang terjadi.

"Dalam kenyataan baru ini, bandara tetaplah bandara," kata Steves, mencatat satu-satunya potensi perubahan yang mungkin terjadi adalah peningkatan sanitasi dan jarak sosial yang berkelanjutan.

Dan, ketika ditanya tentang potensi paspor vaksin, Steves menganggap bahwa itu sebagai hal yang baik, dan perluasan sederhana dari Kartu Kuning atau paspor medis Carte Jaune yang sudah dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia untuk masuk ke banyak negara.

"Persyaratan satu negara tidak ada untuk melindungi kami.Persyaratan itu ada untuk melindungi rakyat mereka dari kami," katanya.

4. Pastikan Menjaganya Tetap Etis

Menurut Steves perjalanan memberi lebih banyak warna pada palet saat melukis kisah hidup. Jika wawasan itu tidak membuat Anda ingin memesan tiket sekarang, itu tidak akan ada.

Namun, Steves juga ingin para pelancong berpikir lebih kritis tentang bagaimana perjalanan mereka memengaruhi dunia dan membayar iuran mereka melalui penggantian kerugian karbon.

"Saya menghasilkan terlalu banyak uang, karena tidak ada yang memaksa saya membayar karbon. Jadi, saya memberi diri saya pajak karbon $ 30 per orang. Kami menginvestasikan $ 1 juta di 10 organisasi berbeda di negara berkembang membantu petani menerapkan praktik pertanian cerdas iklim dan organisasi yang membantu reboisasi dan melindungi hutan, "kata Steves dalam obrolannya.

"Dengan berinvestasi di organisasi-organisasi itu, kami mengimbangi semua karbon yang diperlukan untuk membawa 30.000 pelancong ke Eropa dan kembali. Dan konsumen merasa senang mengetahui bahwa mereka pergi ke Eropa, setidaknya sejauh menyangkut penerbangan, netral karbon. Tidak ada yang heroik dari pihak saya untuk melakukan ini, itu hanya etis, " tutupnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wisata traveling
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top