Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

5 Hotel di Asia dengan Masa Lalu Gemilang yang Layak Dikunjungi

Apakah Anda pencinta hal-hal klasik dari bagian masa lalu? Beberapa hotel di Asia memilih arsitektur yang masih mempertahankan kejayaannya masa lalu. Bahkan, hotel-hotel tersebut semakin gemilang di saat ini tanpa menyisakan kemegahannya dari tempo dulu.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 24 Maret 2021  |  13:21 WIB
Palace Hotel Tokyo dibangun di atas parit Imperial Palace Gardens. Pada awalnya bangunan ini hadir dengan nama Hotel Teito pada 1947.  - Palace Hotel
Palace Hotel Tokyo dibangun di atas parit Imperial Palace Gardens. Pada awalnya bangunan ini hadir dengan nama Hotel Teito pada 1947. - Palace Hotel

Bisnis.com, JAKARTA - Apakah Anda pencinta hal-hal klasik dari bagian masa lalu? Beberapa hotel di Asia memilih arsitektur yang masih mempertahankan kejayaannya masa lalu. Bahkan, hotel-hotel tersebut semakin gemilang di saat ini tanpa menyisakan kemegahannya dari tempo dulu.

Berkunjung ke tempat-tempat dari masa lalu akan membuat Anda bernostalgia pada kenangan manis di masa lalu, termasuk mengistirahatkan diri dari penatnya rutinitas di era modern ini.

Melansir dari Thailandtatler, berikut lima hotel dari masa lalu yang kian berkembang saat ini :

1. Azerai La Residence Hue, Vietnam

Rumah besar itu populer selama 1930-an hingga 1950-an sebagai penginapan paling diinginkan di ibu kota kekaisaran. Akan tetapi masa-masa sulit menimpa rumah besar ini pada 1960-an.

Maju cepat ke era tahun 1980-an, hotel menjadi dipenuhi dengan taplak meja merah muda, dan terlalu banyak ukiran naga pada perabotan.

Pada awal 2000-an, seorang pengusaha muda Prancis terpesona dengan apa yang dilihatnya di rumah tua itu. Dia menyewa seorang desainer dari Paris dan memberinya tanggung jawab. Ia mengembalikan nuansa art deco seperti era 1920-an dan 1930-an.

Kini terdapat dua paviliun baru membentang dari kedua ujung mansion lama. Hotel tersebut menjelma lebih mempesona dari sebelumnya. Pada akhir musim panas 2019 majalah Time menyebut hotel itu sebagai salah satu dari 100 Tempat Terindah Dunia. Majalah tersebut mencatat lokasi hotel di Sungai Perfume yang terkenal di kota itu.

2. Tanah Gajah, Indonesia

Pada awal 1980-an ketika kerasnya kehidupan di Jakarta membuat Hendra Hadiprana memimpikan sebuah tempat di Bali. Desainer dan arsitek Indonesia tersebut datang ke Bali setelah bertahun-tahun impian tersebut mengakar. Ia mulai melayang ke dataran tinggi di Ubud untuk mencari tempat yang sempurna.

Selama 20 tahun berikutnya ia mengumpulkan sebuah perkebunan untuk keluarganya, kemudian mendirikan bangunan indah di antara persawahan Ubud. Ia membangun vila untuk istri dan dirinya sendiri, vila untuk anak-anaknya, dan vila untuk tamu.

Pada 1982 ia membesarkan Bale Dedari, sebuah bungalow tempat ia mengobrol dengan keluarga, teman, dan kolega.

Pada 1993 ia mendedikasikan Bird Lounge untuk burung-burung cendrawasih di Pulau Dewata.

Setelah terus menerus Hendra membangun bagi keluarganya hingga akhirnya ia menyerahkan propertinya kepada grup General Hotel Management Ltd. (GHM). Grup tersebut mengelolanya dengan nama hotel Chedi hingga akhir tahun lalu.

Keluarga Hadiprana mengambil kembali properti itu dan meluncurkan kembali hotel itu dengan nama Tanah Gajah.

3. Grand Hotel d’Angkor, Kamboja

Bangunan ini merupakan salah satu warisan kolonialisme di Asia Tenggara. Dibuka pada 1932, pembangunan Grand menyimpang dari aturan yang ditetapkan oleh Le Royal di Phnom Penh. Di mana Le Royal yang dibangun pada 1929 terbuat dari batu bata dan semen, sedangkan Grand dengan 63 kamar itu hadir sebagai istana art deco dari beton.

Sayap simetris hotel yang besar, serambi yang ditinggikan, dan balkon yang menonjolkan fasad magisterial hotel resor besar yang menjadi tren awal abad ke-20. Hotel ini akan memuaskan kerinduan para pelancong yang ingin melihat sekilas reruntuhan di Angkor.

Para wisatawan dapat menjelajahi keajaiban Angkor dengan mobil dan gajah.

Sayangnya situasi pada 1970-an mengakhiri masa jaya hotel. Resusitasi dilakukan pada awal 1990-an kerena Grand telah mendapatkan tekanan sejak saat itu. Kemudian Raffles mengambil alih pada 1996, dan pada tahun berikutnya membuka kolam di belakang hotel yang terbesar di Kamboja. Kemudian jumlah dan fasilitas kamar hotel juga bertambah.

Tahun lalu Raffles menutup hotel selama enam bulan untuk renovasi penting lainnya. Mereka membuka restoran baru bernama 1932 untuk menghormati tahun pembukaan.

Untuk membantu memperdalam masa lampau, mereka memasang telepon putar dan meningkatkan meja tulis tradisional dengan port USB. Lift besi tua direstorasi ke kejayaannya dan tetap menjadi lift tertua yang masih beroperasi di Indocina.

4. Palace Hotel Tokyo, Jepang

Palace Hotel Tokyo dibangun di atas parit Imperial Palace Gardens. Pada awalnya bangunan ini hadir dengan nama Hotel Teito pada 1947.

Sebelum jadi hotel, bangunan tersebut dirancang untuk kantor kehutanan rumah tangga kekaisaran. Setelah perang, Amerika menggunakan gedung itu sebagai hotel yang dikelola pemerintah, dan tetap menjadi hotel.

Pada 1959, infrastruktur Teito lelah dan propertinya dijual kepada sektor swasta dan dibangun kembali sebagai Palace Hotel, dibuka pada bulan September 1961. The Palace memiliki 450 kamar tamu, ruang perjamuan, restoran, dan taman atap.

Palace Hotel Tokyo menawarkan 10 restoran dan bar Palace Hotel Tokyo menawarkan 10 restoran dan bar pada dekade pertama tahun 2000-an.

Hotel kembali lelah pada bulan April 2012 dan berganti pengembangan. Dalam delapan tahun sejak pembukaan kembali hotel telah banyak memberikan pengalaman menarik bagi para tamu di Tokyo.

Pada 2016, hotel ini memenangkan peringkat bintang lima dari Forbes Travel Guide, satu-satunya merek hotel independen Jepang yang mendapatkan penghargaan tersebut.

5. Sofitel Legend Metropole Hanoi, Vietnam

Hotel ini dibuka pada 1901 dengan nama Grand Hotel Metropole. Fasadnya yang putih bersih, daun jendela hijau, dan teras trotoar yang seolah berbicara tentang era lain pada para tamu.

Popularitanya mereda saat Perang Indochina Pertama pada 1946 dan Perang Kedua pada 1964.

Pada 1989, sebuah perusahaan meluncurkan renovasi yang diselesaikan pada 1992. Hotel ini membangun kembali reputasinya sebagai salah satu tempat menginap paling menarik di Asia Tenggara, dan Sofitel mengukuhkan status ikoniknya pada 2009 dengan menobatkan Metropole sebagai hotel Legend pertama.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

garden palace hotel hotel sofitel ubud bali
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top