Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perlunya Edukasi Agar Masyarakat Tahu Cokelat Berkualitas

Kakao edel dibudidayakan di Perkebunan Kendeng Lembu, Banyuwangi, Jawa Timur yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Kakao tersebut punya cita rasa sendiri yang tidak sama dengan kakao biasa, dan cara pembudidayaannya juga berbeda dengan kakao pada umumnya (kakao bulk).
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 22 Februari 2021  |  20:21 WIB
Milk chocolate
Milk chocolate

Bisnis.com, JAKARTA - Selain dikenal sebagai salah satu negara penghasil kakao terbesar di dunia, Indonesia juga dikenal sebagai tempat berasalnya jenis kakao terbaik di dunia, yakni kakao edel atau kakao mulia.

Kakao edel dibudidayakan di Perkebunan Kendeng Lembu, Banyuwangi, Jawa Timur yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Kakao tersebut punya cita rasa sendiri yang tidak sama dengan kakao biasa, dan cara pembudidayaannya juga berbeda dengan kakao pada umumnya (kakao bulk).

Namun, hal tersebut ternyata tak diiringi oleh ketersediaan cokelat berkualitas tinggi yang diproduksi di dalam negeri. Kakao berkualitas tinggi dari Tanah Air diekspor ke sejumlah negara untuk kemudian di olah menjadi cokelat nomor wahid.

Menurut Founder Aku Cinta Makanan Indonesia (ACMI) yang juga dikenal sebagai pengamat kuliner Santhi Serad, selama ini pelaku usaha atau masyarakat umum yang menginginkan cokelat berkualitas tinggi harus membeli dari luar negeri atau mengimpornya.

“Padahal kakaonya dari Indonesia tetapi diekspor untuk diolah kemudian kita impor lagi. Belum ada yang mampu memproduksi di dalam negeri,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Lebih lanjut, Santhi menjelaskan Indonesia pada dasarnya bukan tidak mampu untuk mengolah kakao menjadi coklat dengan kualitas tinggi. Namun, rendahnya permintaan membuat produsen coklat enggan melakukannya.

Rendahnya permintaan, menurut Santhi tak terlepas dari minimnya penggunaan cokelat di sajian kuliner Nusantara. Selain itu, cokelat sebagai minuman juga belum populer seperti halnya kopi dan teh.

“Kuliner yang asli Nusantara itu sebenarnya tidak mengenal cokelat. Untuk pemanis dan pewarna menggunakan gula merah. Cokelat sebagai pelengkap atau penambah rasa kuliner tradisional kita itu adalah hasil modifikasi yang dipopulerkan belum lama,” ungkapnya.

Penggunaan cokelat dalam kuliner di Tanah Air tentunya tak bisa dilepaskan dari kebudayaan Eropa yang dibawa oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Salah satu diantaranya adalah coklat butir atau meises yang banyak digunakan saat ini untuk berbagai macam sajian kuliner.

Terakhir, berkaitan dengan rendahnya permintaan cokelat berkualitas tinggi di Tanah Air Santhi menyebut diperlukan edukasi agar masyarakat mengetahui seperti apa sebenarnya coklat yang berkualitas. Pasalnya, selama ini masih banyak masyarakat, termasuk diantaranya adalah mereka yang berkecimpung dalam pengolahan kakao tak mengetahui hal tersebut.

“Kopi atau teh mungkin sudah banyak yang merasakan [produk berkualitasnya], tetapi cokelat ini belum. Banyak yang belum tahu juga cokelat berkualitas itu seperti apa. Perlu ada edukasi lagi,” tutupnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kakao cokelat
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top