Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bagaimana Kondisi Pariwisata di Tengah Penantian Vaksin Corona?

Pandemi membuat orang memilih untuk tidak mempercayai siapa pun, menggunakan masker, dan bahkan tidak bergaul dengan orang.
Yudi Supriyanto
Yudi Supriyanto - Bisnis.com 12 Januari 2021  |  21:51 WIB
Ilustrasi - Reuters
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Tahun ini industri perjalanan dinilai oleh para ahli akan membaik, tapi masih ada pekerjaan rumah yang harus banyak pihak selesaikan, salah satunya adalah masalah terkait dengan karantina.

Dilansir dari CNN, Direktur Jenderal Dewan Bandara Internasional (ACI) Luis Felipe de Oliveira mengungkapkan ketika tidak memiliki pendekatan global yang terkoordinasi, maka sangat sulit bagi sektor pariwisata untuk maju.

“Terutama aturan penerbangan, karantina, dan regulasi setiap negara terhadap wisatawan sangat berbeda dan bisa berubah setiap saat,” katanya pada Selasa (12/1/2021).

Berikut adalah beberapa rintangan yang harus dilalui oleh para pelancong dan pelaku bisnis wisata:

1. Menghilangkan karantina

De Oliviera menilai bahwa kewajiban untuk melakukan karantina bagi wisatwan bisa 'mematikan' bisnis pariwisata selama pandemi virus corona. Dia sudah mengalami karantina sebanyak 4 kali dalam 7 bulan terakhir, menghabiskan 56 hari di rumah tanpa kemungkinan untuk keluar.

Investasi waktu semacam itu, bersama dengan kebingungan seputar persyaratan – baik pergi maupun pulang – adalah penghalang besar bagi orang – orang yang mungkin bersedia untuk bepergian.

Keselamatan merupakan hal penting, tapi mereka yang berada di industri menganjurkan pendekatan yang lebih bernuansa dan berlapis.

2. Mendapatkan vaksin dan membuktikannya

Program vaksinasi Inggris sedang berjalan. Negara–negara lain juga telah membuat kemajuan yang signifikan, dan program vaksinasi Amerika Serikat perlahan – lahan meningkat.

Namun, kebingungan yang dialami oleh wisatawan kemungkinan akan mengalami peningkatan juga. Kondisi ini dapat terjadi lantaran lebih banyak orang mulai bergerak pada musim semi dan persyaratan tambahan mulai berlaku untuk tes negatif dan bukti vaksinasi.

Australia, contohnya, baru saja mengumumkan akan mewajibkan tes PCR Covid-19 negatif untuk semua pelancong, dan maskapai Qantas telah menyarankan agar semua penumpang internasional segera diwajibkan untuk memiliki sertifikat vaksinasi.

Oliveira menilai industri memerlukan pendekatan global yang selaras untuk mengenali dan membagikan informasi dan pengujian secara akurat dan aman.

Praktik saat ini, yang melibatkan dokumen kertas cetak dari laboratorium yang tidak dikenal dalam bahasa yang mungkin asing bagi mereka yang memeriksanya atau kumpulan database yang tidak terhubung di seluruh dunia adalah tidak ideal.

Kondisi tersebut membuat ACI mendukung penggunaan aplikasi kesehatan seperti CommonPass, alat yang memungkinkan para pelancong untuk membagikan hasil lab dan catatan vaksinasi tanpa mengungkapkan informasi kesehatan pribadi lainnya.

3. Tindakan sementara

Perjalanan internasional yang mulus tidak akan terjadi dalam semalam. Perusahaan – perusahaan meluncurkan solusi – solusi sementara sendiri – sendiri bahkan ketika setiap orang menunggu penurunan kasus positif dan lebih banyak koordinasi global seputar perjalanan lintas batas yang lebih aman dan tidak terlalu membingungkan.

Delta Air Lines sedang mencoba beberapa penerbangan bebas karantina yang teruji Covid-19 ke Belanda. Penerbangan ini menggunakan kombinasi pengujian PCR standar emas dengan rapid test antigen preboarding.

Oliveira melihat rapid test antigen sebagai bantuan potensial dalam pemulihan industri. Meskipun dianggap kurang akurat, uji antigen juga jauh lebih cepat dan murah jika dibandingkan dengan uji molekuler sebagai salah satu lapisan manajemen risiko.

4. Tujuan Hebat: Bergaul Dengan Orang Asing

Alessandra Priante, Direktur Regional Untuk Eropa di Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO), berharap pasang surut segera mereda.

Pandemi membuat orang memilih untuk tidak mempercayai siapa pun, menggunakan masker, dan bahkan tidak bergaul dengan orang. Padahal, pariwisata adalah tentang mempercayai yang tidak diketahui seperti keindahan penjelajahan.

Kemudian bertemu dengan seseorang yang belum pernah ditemui dari dari budaya dan negara lainnya.

“Kami ingin mengembalikan semangat pariwisata ke dalam hati orang – orang karena pariwisata adalah tentang membangun kenangan ... dan kami ingin kembali ke sana, kami ingin menjadi industri kenangan indah lagi,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perjalanan traveling Virus Corona
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top