Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Startup Hotel Virtual dan Travel Agent Masih Seksi di Mata Investor

Selama pandemi, VHO dan OTA mengalami tekanan yang sangat berat. Kendati begitu, bisnis keduanya masih memiliki potensi bagus di mata investor.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 12 Januari 2021  |  10:26 WIB
Karyawan beraktivitas di kantor Traveloka, di Jakarta. - REUTERS/Beawiharta
Karyawan beraktivitas di kantor Traveloka, di Jakarta. - REUTERS/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang melanda Tanah Air sejak awal Maret 2020 menjadi pukulan berat bagi banyak pelaku usaha, khususnya yang bergantung pada mobilitas manusia antarwilayah dan aktivitas pariwisata. Pembatasan sosial hingga karantina wilayah yang diterapkan di sejumlah wilayah untuk menekan penyebaran virus sukses membuat mereka tiarap.

Diantara para pelaku usaha tersebut terselip dua pemain yang sedang naik daun, mereka adalah Virtual Hotel Operator (VHO) dan agen perjalanan daring (online travel agent/OTA) yang menyandang status sebagai perusahaan rintisan atau start-up. Bahkan, tak jarang pula yang bisnisnya masih dalam tahap perkembangan awal dan bergantung pada pendanaan investor.

Kondisi seperti saat ini tentunya jauh dari kata ideal bagi bisnis VHO dan OTA. Lantas, apakah keduanya masih dianggap potensial dan masih mampu untuk menggaet investor atau mendapatkan pendanaan?

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (Indonesian e-Commerce Association/IdEA) Bima Laga menilai VHO dan OTA pada dasarnya masih punya potensi untuk tumbuh di tengah kondisi seperti saat ini. Bahkan, dia menyebut keduanya diprediksi akan tumbuh pesat mengalahkan start-up dari sektor usaha lainnya.

Pasalnya, aktivitas rekreasi akan dicari oleh banyak orang tak lama setelah pandemi mereda atau benar-benar berakhir.

“Setelah pandemi ini [berakhir] aktivitas leisure yang akan dicari orang karena sudah bosan di rumah. Berdasarkan survei, pertama adalah makan di rumah, keduanya adalah staycation, [kemudian] berwisata ke tempat yang sekiranya aman,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Walaupun demikian, menurut Bima, baik VHO maupun OTA perlu berinovasi dan yang tak kalah penting adalah meyakinkan masyarakat bahwa apa yang mereka tawarkan benar-benar aman. Karena tak dapat dipungkiri jika masih ada kekhawatiran masyarakat untuk keluar rumah dan berekreasi.

“Inovasinya penting, bagaimana mereka mengemas produknya. Untuk saat ini, selain meyakinkan [penerapan] protokol kesehatan tentunya layanan yang terintegrasi dengan persyaratan [bepergian] seperti rapid test itu dibutuhkan,” ungkapnya.

Namun, di sisi lain Bima tak menampik bahwa upaya yang harus dilakukan oleh VHO dan OTA untuk bertahan di tengah pandemi begitu berdarah-darah. Salah satu VHO yang juga menyediakan layanan reservasi tiket pesawat bahkan terpaksa gulung tikar pada Mei 2020 lantaran tak kuat menanggung beban operasional tanpa diiringi pemasukan.

“Tetapi bukan berarti tak prospektif. Buktinya belum lama ini ada OTA yang berhasil dapat pendanaan, Di tengah pandemi dapat pendanaan berarti prospeknya setelah ini bagus,” ujarnya.

OTA yang dimaksud oleh Bima adalah Traveloka. OTA berlambang burung itu dikabarkan berhasil mengumpulkan pendanaan US$250 juta atau sekitar Rp3,6 triliun pada Juli 2020. Dengan tambahan modal ini, valuasi salah satu unicorn Tanah Air itu diperkirakan sekitar US$2,75 miliar atau Rp39,7 triliun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hotel traveling Traveloka
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top