Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sate Ambal Kebumen Bisa Tahan 6 Bulan, Ini Teknologinya

Indonesia tidak hanya meyuguhkan kekayaan alam dan ragam budaya, namun juga kuliner Nusantara yang diakui dunia. Salah satunya adalah Sate Ambal dari Kebumen. Selain rasanya bikin ketagihan, Sate Ambal bisa tahan 6 bulan berkat teknologi khusus.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 15 November 2020  |  03:00 WIB
Allisha Sate Ambal menjadi Juara pertama UKM Pangan Award Tingkat Nasional kategori produk unggulan khas daerah dan maju mewakili Indonesia di tingkat Asean.  - Ristek
Allisha Sate Ambal menjadi Juara pertama UKM Pangan Award Tingkat Nasional kategori produk unggulan khas daerah dan maju mewakili Indonesia di tingkat Asean. - Ristek

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia tidak hanya meyuguhkan kekayaan alam dan ragam budaya, namun juga kuliner Nusantara yang diakui dunia. Salah satunya adalah Sate Ambal dari Kebumen. Selain rasanya bikin ketagihan, Sate Ambal bisa tahan 6 bulan berkat teknologi khusus.

Sate Ambal ini unik dan beda dari sate lainnya karena penggunaan daging ayam kampung yang dilengkapi dengan bumbu kental yang terbuat dari tempe rebus yang dihaluskan.

Di Kebumen, sate ini mudah ditemui di banyak tempat. Namun, sate ambal tidak dapat bertahan lama sehingga tidak dapat dijadikan buah tangan bagi siapa saja yang pulang atau berkunjung ke Kebumen.

Tanpa perlakuan khusus, sate ini hanya dapat bertahan tak sampai 24 jam. Hal ini menggerakan Titin Agustinah dan Nurrokhman Jauhari untuk berinovasi. Upaya sepasang suami-istri asal Kebumen ini dimulai sejak 2015.

Saat itu, Titin dan Nurrokhman membungkus sate ambal dengan kemasan vakum bermaterial nilon. Tidak sampai dua hari, sate sudah tidak layak konsumsi. Namun, berkat kegigihan dan kemauan untuk belajar, kini sate ambal yang mereka beri nama Allisha ini dapat tahan hingga 6 bulan tanpa freezer dengan menggunakan teknologi retort rumahan.

“Saya menjamin cita rasa khas sate ambal tidak berubah, hingga enam bulan, dengan teknologi ini,” ucap Titin seperti dikutip dari laman ristekbrin.go.id, Minggu (15/11/2020).

Teknologi retort adalah teknologi pemasakan dengan menggunakan uap atau air superheated untuk pemasakan pangan yang telah terlebih dulu dikemas. Proses pemanasan bertujuan memusnahkan spora bakteri patogen yang ada pada panganan sehingga terjamin keamanan saat mengonsumsi produk tersebut.

Demi memperkenalkan Allisha ke seluruh pelosok negeri, pada 2018 dan 2019 Titin dan Nurokhman mengikuti Program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT). Setelah dua tahun mengikuti program tersebut, usaha yang dimulai oleh sepasang suami istri itu, kini memiliki 12 orang karyawan.

Allisha Sate Ambal telah memperoleh izin Edar BPOM MD (Izin Edar untuk Pangan Olahan) dan Halal MUI. Guna melancarkan misinya menembus pasar Internasional, Allisha juga melakukan pengurusan sertifikasi HACPP (Hazard Analysis Critical Control Point).

Allisha juga aktif mengikuti berbagai kegiatan untuk ekspansi pasar dan menggait investor.

Allisha yang merupakan 30 Startup Unggulan Kemenristek/BRIN, baru-baru ini terpilih sebagai Top 25 Food Startup Indonesia, 30 Top UKM Award, 30 Top Indonesia Food Innovation serta Top 15 Bangga Buatan Indonesia. Tahun sebelumnya, Allisha Sate Ambal juga menjadi Juara pertama UKM Pangan Award Tingkat Nasional kategori produk unggulan khas daerah dan maju mewakili Indonesia di tingkat Asean.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kuliner sate ayam
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top