Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bangun Wisata Flores, Wajib Ajak Komunitas Masyarakat Adat

Untuk memajukan pariwisata di Pulau Flores maka masyarakat adat sangat penting untuk dilibatkan.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 29 Oktober 2020  |  20:05 WIB
Sejumlah kapal siap bersandar di Pelabuhan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Sejumlah kapal siap bersandar di Pelabuhan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA -- Tak hanya Komodo, Pulau Flores punya ragam keindahan alam yang memerlukan pengembangan melalui kerjasama lintas sektor dan keterlibatan masyarakat setempat.

Pendiri Langa Trekking Community, Eugenius Raga menyebut selain wisata bahari, budaya dan sejarah di daratan Flores punya nilai jual yang tinggi sebagai aset pariwisata.

Ada banyak keindahan alam yang ditawarkan selain Labuan Bajo, misalnya saja komunitas adat dan wisata pegunungan yang menawarkan bukan hanya keindahan tetapi juga kesejukan udara.

Sulitnya meningkatkan partisipasi masyarakat juga sempat dialami oleh Eugenius. Dia pun menghabiskan waktu untuk mengelola trekking community ini selama 3 tahun.

Kini, Langa Trekking Community semakin sering menerima anggota baru untuk menjadi pemandu wisata maupun untuk pemberdayaan pada sektor lain.

Mengusung motto ‘Come be a local with us,' Eugenius berharap lebih banyak wisatawan asing yang mau down to earth atau merakyat dengan konteks masyarakat setempat.

Oleh sebab itu, bersama Langa Trekking Community, wisatawan tak hanya diajak menanjak gunung dan bukit tetapi juga menikmati pengalaman menenun, menjajaki kebun kopi Bajawa, dan homestay di rumah warga.

“Kami sering kedatangan mahasiswa dari Eropa, USA, untuk live in, lalu kami buat program belajar bagi mereka mengenal kuliner khas kami dari lahan sendiri misal jagung, palawija. Kami ajarkan juga tradisi disini yang kalau mau mengonsumsi komoditi lain, harus barter,” terang Eugenius melalui webinar, Kamis (29/10/2020).

Sementara itu Herman Yoseph Ferdy, Pendiri Maumere TV juga mengungkapkan pentingnya mendorong komunitas masyarakat memanfaatkan media digital sebagai aset memicu partisipasi masyarakat lokal.

Caranya dengan memberikan literasi dan eksekusi pembuatan konten yang inspiratif tentang seni, budaya, dan pariwisata setempat yang bisa diviralkan sampai kancah global.

“Kini kami sudah berhasil membuat film pendek dokumenter dengan awalnya berbasis kamera handphone, selanjutnya, adalah membuat interbased TV dan podcast dengan konten mitigasi kebencanaan, pembangunan berkelanjutan, dna kebudayaan,” sambung Ferdy.

Oleh sebab itu menjamin wisata yang populer dengan minat wisatawan yang konstan bahkan meningkat, tidak bisa hanya mengandalkan keindahan alam semata.

Dia menegaskan perlu banyak kreativitas aksi, atraksi, dan inovasi yang melibatkan masyarakat lokal dalam mendorong kemajuan wisata secara komprehensif dari sisi alam, seni, dan budaya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

adat komodo labuan bajo
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top