Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Maldive, Destinasi Wisata yang Berdampingan dengan Covid-19

Ada pihak yang menyebut pihak Maladewa melakukan tindakan "berani" juga "sedikit gila" dalam membebaskan wisatawan masuk ke negara tersebut.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 07 Oktober 2020  |  20:51 WIB
Pulau Madaveli, Maladewa - venere.com
Pulau Madaveli, Maladewa - venere.com

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah penguncian sejumlah daerah tujuan wisata, ada baiknya pelaku maupun penikmat industri pariwisata melihat Maladewa atau Maldive.

Kawasan wisata itu justru mengambil cara yang berbeda dengan daerah tujuan wisata lainnya.

Setelah melakukan lockdown sejak Januari, Maladewa secara bertahap melonggarkan pembatasan bagi wisatawan, terutama sejak Juli lalu.

Padahal, banyak negara lain khawatir para pelancong akan memicu penyebaran Covid-19. Mereka memilih untuk memberlakukan pembatasan atau lockdown.

China menetapkan kontrol ketat dan melarang semua kedatangan turis asing dan hampir semua keberangkatan ke luar negeri.

Thailand dan Australia mengisyaratkan penutupan negaranya hingga akhir tahun.

Sedangkan Tunisia dan Kenya mengatakan sebagian besar pendatang perlu menunjukkan bukti tes negatif untuk masuk.

Prancis dan Spanyol tak ketinggalan. Bahkan kedua negara ini saling menutup perbatasan dengan Inggris. Semua dilakukan untuk berjaga-jaga dari penyebaran Covid-19 lewat industri pariwisata.

Bebaskan Wisatawan Masuk

Sebagai negara kecil yang bertetangga dengan Sri Lanka dan India, Maladewa telah memutuskan untuk mengambil jalannya sendiri.

Sejak 15 Juli, negara kepulauan di Samudra Hindia itu membuka batas negaranya untuk semua orang termasuk para wisatawan manca negara.

Pengunjung tidak perlu hasil tes yang negatif untuk masuk negara kepulauan yang bergantung pada pariwisata itu.

Juga tidak ada tindakan karantina dalam bentuk apa pun sehingga ada pihak yang menyebutnya sebagai tindakan "berani" dan juga "sedikit gila".

“Maladewa membutuhkan pariwisata,” ujar Abdulla Mausoom, seorang tokoh industri yang ditunjuk sebagai menteri pariwisata Maladewa pada pertengahan Agustus, seperti dikutip Aljazeera.com, Rabu (7/10).

Dia beralasan ketika pariwisata berhenti, semuanya berhenti dan negaranya tidak punya pilihan selain melanjutkannya.

Terkenal karena pantainya yang masih asli dan perairannya yang biru kehijauan, 1.192 pulau karang di Maladewa siap menyambut kedatangan para turis. Pulau-pulau itu tersebar seperti rantai cincin di sepanjang khatulistiwa.

Sedangkan 156 resor kelas atas di negara itu, yang menjadi tulang punggung sektor pariwisata, menanti di kawasan pulau-pulau pribadi.

Dengan demikian, privasi para pengunjung lebih terjaga dengan berbagai layanan. Eksklusivitas tersebut, menurut Mausoom, merupakan keuntungan utama.

“Kami yakin kami dapat memastikan keamanan para tamu karena geografi kami memungkinkan untuk itu,” katanya.

Dengan bangga dia bercerita begitu mendarat di bandara, wisatawan akan dijemput transportasi khusus untuk resor khusus.

Kemudian, katanya, mereka akan menikmati masa tinggal yang sangat pribadi dan sangat aman. Bahkan, lanjutnya, tempat tersebut merupakan yang lebih aman.

Fasilitas Tes Covid-19

Untuk mempersiapkan para pendatang baru, pemerintah membangun sejumlah unit perawatan intensif dan peningkatan fasilitas pengujian di beberapa daerah.

Pihak resor juga menetapkan langkah-langkah keamanan dan kebersihan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Beberapa bahkan melakukan tes PCR untuk tamu mereka pada saat kedatangan.

Sampai-sampai pemerintah yang khawatir dengan wabah kecil di beberapa resor pun sempat mengambil tindakan tegas. 

Pemerintah mengatakan bahwa pengunjung harus menjalani tes negatif dalam waktu 72 jam sebelum mereka diizinkan masuk.

Karena itulah pada 15 September, Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia (WTO) mensertifikasi Maladewa sebagai tujuan wisata yang aman.

Maklum, meski sejauh ini negara itu mencatat lebih dari 10.000 kasus, angka kematian hanya 34 orang.

Meski begitu, negara berpenduduk 450.000 orang itu terus melakukan tes terhadap tamunya pada saat kedatangan.

“Kami melakukan segala yang mungkin untuk menjaga properti kami bebas Covid-19,” kata Jason Kruse, manajer resor Amillafushi di Baa Atoll.

Setelah tamu mendapatkan hasil tes negatif pada tes kedua, mereka dapat menjelajahi pulau tanpa masker.

Sedangkan di pulau atol Male Utara, di resor seperti Summer Islands wisatawan sama sekali tidak lagi memesan makanan pakai daftar menu konvensional.

Mereka mengandalkan alat digital untuk check-in dan untuk memperoleh menu restoran.

Sedangkan di resor Coco Bodu Hithi, pemeriksaan suhu harian para tamu tetap dilakukan. Vila-vila dibiarkan kosong selama 24 jam sebelum tamu baru diizinkan check-in.

Langkah-langkah keamanan Covid-19 ditingkatkan. Dengan begitu, ujar pihak Summer Island, para tamu memiliki pengalaman 'lebih pribadi dan eksklusif' daripada yang mereka lakukan sebelum pandemi.

"Tindakan ini berdampak pada operasi dan pengalaman tamu kami," kata Mariya Shareef, manajer resor di Summer Island.

Dampak Ekonomi

Terlepas dari upaya pemerintah dan pihak swasta Maladewa menghadapi Covid-19, angka resmi kedatangan adalah sesuatu yang harus diperhatikan.

Kini, tiga bulan setelah tindakan pelonggaran dilakukan, hanya 18.596 orang yang tercatat mengunjungi negara itu.

Angka itu masih jauh di bawah rata-rata kunjungan sebelum pandemi, yakni 141.000 turis sebulan.

Penurunan jumlah pendatang telah menghancurkan ekonomi Maladewa sekaligus mengurangi pendapatan pemerintah hingga setengahnya.

Akibatnya ribuan orang kehilangan pekerjaan dan menekan nilai tukar rufiyaa Maladewa. Sekadar informasi, saat ini 1 Rufiyaa Maladewa sama dengan Rp956,47. 

Sektor pariwisata menyumbang lebih dari dua pertiga PDB Maladewa. Bank Dunia memperkirakan ekonominya bisa menyusut hampir 9 persen pada tahun ini.

Pemerintah telah beralih ke tetangganya yang kuat, yakni India, untuk mendapatkan bantuan keuangan serta dukungan anggaran sebesar US$250 juta.

Dengan latar belakang ekonomi yang suram, beberapa orang mengkhawatirkan ketahanan pangan negara kepulauan tersebut.  Apalagi Maladewa mengimpor lebih dari 90 persen makanan untuk masyarakatnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata Maladewa covid-19
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top