Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kasus Corona Terus Melonjak, India Buka Kembali Taj Mahal

Pemerintahan India telah mengurangi lebih banyak pembatasan, termasuk tempat wisata seperti Taj Mahal.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 21 September 2020  |  15:58 WIB
Taj Mahal.  - Taj Mahal
Taj Mahal. - Taj Mahal

Bisnis.com, JAKARTA – Ikon India, Taj Mahal kembali dibuka untuk pengunjung pada hari ini, Senin (21/9) waktu setempat, bahkan ketika negara tersebut terus menunjukkan peningkatan kasus virus corona baru atau Covid-19.

Dilansir dari Strait Times, India yang merupakan rumah bagi 1,3 miliar orang dengan beberapa kota paling pada di dunia, telah mencatatkan lebih dari 5,4 juta kasus Covid-19. Sekitar 100.000 infeksi baru dan lebih dari 1.000 kematian dilaporkan setiap hari.

Setelah upaya penguncian atau lockdown ketat pada Maret lalu yang telah menghancurkan ekonomi puluhan juta orang, Perdana Menteri Narendra Modi enggan meniru beberapa negara lain dan memperketat aktivitas lagi.

Sebaliknya dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahannya telah mengurangi lebih banyak pembatasan, termasuk di banyak rute kereta, penerbangan domestik, pasar, restoran, dan sekarang tempat wisata seperti Taj Mahal.

Makam marmer putih yang terkenal di dunia itu adalah tempat wisata paling populer di India. Terletak di kota Agra di selatan New Delhi, tempat tersebut biasanya menarik tujuh juta pengunjung setiap tahunnya, tetapi tempat itu telah tutup sejak Maret.

Para pejabat mengatakan ketika dibuka kembali, aturan jarak sosial yang ketat akan diberlakukan dan jumlah pengunjung hariannya akan dibatasi sekitar 5.000 orang saja, atau seperempat dari kondisi normal.

“Lingkaran sedang dibuat, masker akan menjadi keharusan dan tidak ada yang bisa masuk tanpa pemeriksaan termal,” kata Vasant Swarnkar, arkeolog senior yang bertanggung jawab atas monumen Agra.

Namun di sisi lain, terutama di daerah pedesaan di mana infeksinya melonjak, bukti anekdot menunjukkan bahwa pedoman pemerintah untuk menghindari virus corona baru lebih sering diabaikan ketimbang ditaati.

“Saya pikir tidak hanya di India tapi di seluruh dunia. Kelelahan dengan tindakan ekstrem yang diambil untuk membatasi pertumbuhan virus corona mulai terjadi,” kata Gautam Menon, profesor fisika dan biologi dari Ashoka University.

Sementara itu, banyak ahli menyebut kendati India menguji lebih dari satu juta orang per hari, jumlah tersebut masuk belum cukup dan jumlah kasus sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan secara resmi.

Hal sama juga berlaku untuk angka kematian, yang saat ini mencapai lebih dari 86.000 kasus. Diyakini ada banyak kematian yang tidak dicatat dengan benar, bahkan dalam kondisi normal karena negara tersebut memiliki sistem kesehatan dengan pendanaan terburuk di dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata india Virus Corona covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top