Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menyulap Rempah Jadi Minuman Populer Anak Muda dengan Solar Dryer

Teknologi solar dryer adalah teknologi untuk mengelola rempah ini adalah teknologi yang tidak mengandalkan gas untuk pengeringan rempah-rempah, melainkan hanya memakai sinar matahari dan biomassa.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 17 Juli 2020  |  09:55 WIB
 Menyulap Rempah Jadi Minuman Populer Anak Muda dengan Solar Dryer
Menyulap Rempah Jadi Minuman Populer Anak Muda dengan Solar Dryer

Bisnis.com, JAKARTA -- Agradaya memberdayakan petani rempah melalui kemitraan dengan kelompok tani di Yogyakarta dan Jawa Timur menggunakan teknologi solar dryer house.

Teknologi solar dryer adalah teknologi untuk mengelola rempah ini adalah teknologi yang tidak mengandalkan gas untuk pengeringan rempah-rempah, melainkan hanya memakai sinar matahari dan biomassa.

Proses pengeringan dilakukan dalam ruang pengering dengan perlengkapan tertentu. Alhasil dengan mengadalkan metode ini penggunaan energi pun relatif lebih hemat.

Co-Founder dan Herbarista Agradaya, Asri Saraswati Iskandar dia menambahkan Agradaya fokus saat ini pada pengolahan rempah-rempah Dia menyebut langkah Agradaya mengeringkan rempah-rempah ini akan membantu proses ekspor dari desa agar tidak dalam keadaan basah.

“Kalau kita mau ekspor rempah-rempah ke luar daerah itu harus bentuk kering karena bisa 7 sampai 10 kali keuntungannya, jadi bisa meningkatkan kesejahtera petani rempah-rempah,” ujar Asri dalam sebuah webinar dengan Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal beberapa waktu lalu.

Kini Agradaya mengelola kelompok petani di Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Gunung Kidul, dan Kabupaten Trenggalek.

Total petani yang bekerjasama dengan Agradaya saat ini ada 317 orang dengan total luas lahan sekitar 50 hektar pada 6 desa di 2 provinsi.

Berkat teknologi solar dryer, jenis hasil pertanian rempah-rempah bertambah. Umumnya terdiri dari kunyit, jahe, temulawak, cengkeh, dan kapulaga. Hasilnya Agradaya kini memproduksi lebih dari 15 produk olahan.

CEO dan Founder Agradaya Andhika Mahardhika melihat ada gap jamu sebagai stigma minuman tradisional orangtua, sementara anak muda konsumsi minuman kesehatan yang sumbernya impor.

"Padahal kita punya sejarah rempah-rempah yang bisa dikonsumsi, jadi kami coba formulasikan tren yang ada dengan produk jamu ini,” ujar Andhika.

Kini Agradaya pun terus memproduksi dan mengembangkan hasil olahan petani rempah menjadi minuman khas milenial. Misalnya saja, turmeric latte, atau chocolate ginger.

Selama masa pandemi, Agradaya terus mengikuti tren milenial pecinta Dalgona Coffee, Agradaya pun menyulap jenis minumam Dalgona Tumeric yakni kopi, susu, dan ramuan kunyit. Hal ini bertujuan untuk mendorong minat milenial mengonsumsi rempah-rempah lokal.

Andhika menyatakan, masyarakat sekarang mulai ada kesadaran asal makanan darimana, kandungan apa, ada pengawet atau tidak, sehat atau tidak.

"Stok kami pun sempat habis, kita sampai harus cari bahan baku. Namun kelompok tani wanita ini sudah mulai bisa mengolah sendiri produk pasca panennya,” ujar Andhika.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kuliner rempah
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top