Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tidak Ada Pertandingan, Bisnis di Wimbledon Rugi Jutaan Poundsterling

Selain dinantikan oleh penggemar tenis, acara olahraga yang diadakan sejak 1877 ini juga ditunggu-tunggu oleh para pemilik bisnis di distrik Wimbledon, London.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 30 Juni 2020  |  19:54 WIB
Ilustrasi Federer di Wimbledon
Ilustrasi Federer di Wimbledon

Bisnis.com, JAKARTA -- Kejuaraan Wimbledon 2020 yang seharusnya dimulai pekan ini terpaksa dibatalkan karena penyebaran virus corona.

Selain dinantikan oleh penggemar tenis, acara olahraga yang diadakan sejak 1877 ini juga ditunggu-tunggu oleh para pemilik bisnis di distrik Wimbledon, London.

Bisnis yang berada dekat dengan lokasi All England Club itu sangat terdampak oleh pembatalan kejuaraan tahun ini.

Menurut Daily Mail, seorang pemilik toko memperkirakan bahwa pembatalan Kejuaraan Wimbledon telah membuatnya rugi hingga 100.000 poundsterling.

Di desa High Street, Kelly Duffy, pemilik dan manajer Hemingway\\\'s Bar, menghabiskan hari pertama turnamen dengan menghitung kerugian yang diakibatkan oleh pembatalan kejuaraan tahun ini.

Tidak semua orang di kawasan ini memiliki asuransi terhadap pandemi, dan bisnis yang berada di Wimbledon merasakan bahwa dua pekan ke depan akan sulit untuk dilalui.

Dalam kondisi normal, masa-masa penyelenggaraan Kejuaraan Wimbledon adalah periode tersibuk di distrik itu,

Duffy biasanya sibuk menerima tamu lokal, asing, atau bahkan para atlet yang ingin merayakan momen turnamen internasional ini.

Nick Kyrgios dan Dustin Brown merupakan para pelanggan setia Hemingway's Bar, Williams bersaudara bahkan pernah menggelar acara di sana.

"Biaya sewa di sini semahal di West End, London. Jika bisnis berjalan seperti biasa, tiga atau empat pekan saja, tagihan saya sudah tertutup. Saya sudah pasti rugi tapi tidak ada yang bisa dilakukan," ujar Duffy, seperti dikutip melalui Daily Mail, Selasa (30/6).

Beberapa toko buka, yang lain tutup dan beberapa butik mewah tutup untuk selamanya. Dua pintu di toko makanan kelas atas tampaknya baik-baik saja, tetapi salah satu pelanggan paling setia yang biasanya datang saat kejuaraan, Rafael Nadal, tidak terlihat.

Bendera-bendera yang meramaikan High Street juga hilang, begitu pula dengan pub Dog and Fox yang memutuskan tidak akan dibuka akhir pekan ini.

Kerugian bagi ekonomi lokal diperkirakan akan mencapai puluhan juta.

Bukan hanya pemilik restoran dan bar, kerugian juga dialami oleh ratusan pemilik rumah yang menyewakan rumah mereka untuk tamu atau bahkan para atlet.

Ketika Wimbledon secara resmi dibatalkan pada 1 April, pihak penyelenggara mengatakan bahwa lapangan milik All England Club seluas 13,5 acre atau sekitar 5,4 hektare akan digunakan sebagai fasilitas darurat NHS.

Tim Henman, yang merupakan komite utama Wimbledon dan merupakan salah satu dari mereka yang enggan membuat keputusan pembatalan mengatakan bahwa tidak banyak yang dapat mereka lakukan.

"Aku masih benar-benar tidak percaya ini tidak terjadi," katanya kepada Sportsmail.

“Keputusan ini harus dibuat dan itu membuat saya merasa sedikit mati rasa. Jika saya jujur, ada bagian dari diri saya yang tidak bisa menunggu sampai dua pekan ini selesai sehingga kami bisa langsung mencapai 2021," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kejuaraan dunia tenis wimbledon
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top