Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Tips Mendaki Gunung Saat New Normal

Pendaki ke gunung menjadi alternatif bagi orang-orang yang ingin menikmati wisata alam saat new normal.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 Juni 2020  |  22:41 WIB
Kenakan baju tebal saat mendaki gunung - mumseword.com
Kenakan baju tebal saat mendaki gunung - mumseword.com

Bisnis.com, JAKARTA - Melakukan pendakian ke gunung untuk menikmati alam menjadi aktivitas yang menarik dilakukan saat new normal.

Kini banyak orang yang ingin menghirup udara bebas di alam setelah tiga bulan berada di rumah saat pandemi virus corona (Covid-19). Kegiatan mendaki gunung bisa menjadi alternatif yang tepat.

Hanya saja, sebelum benar-benar mendaki gunung, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Spesialis kedokteran olahraga dari Royal Sports Performance Centre, Sophia Hage mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 belum berakhir. Sebab itu, setiap orang, termasuk pendaki gunung menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona.

"Ada risiko untuk diri sendiri dan orang lain. Jadi tanggung jawab ini bukan di satu pihak saja," kata Sophia Hage dalam acara bincang daring bertema 'Mendaki Gunung Aman dan Sehat di Masa Pandemi' bersama Federasi Mountaineering Indonesia, Kamis (25/6/2020).

Berikut tiga hal yang harus diperhatikan sebelum berangkat mendaki gunung:

1. Sendiri atau berkelompok

Sophia Hage mengatakan mendaki gunung sendiri atau berkelompok akan mempengaruhi risiko penularan Covid-19. Pada prinsipnya, menurut dia, aktivitas mendaki gunung masuk kategori risiko infeksi penularan yang sedang.

Namun kategori ini bisa menjadi tinggi jika pendaki mengabaikan beberapa perilaku. Misalkan saat menggunakan fasilitas umum, seperti toilet, meja dan kursi yang digunakan bersamaan, dan lainnya.

"Kerumunan lebih dari lima orang juga termasuk risiko agak tinggi," katanya. Bila mendaki secara berkelompok, usahakan tidak lebih dari lima orang. Dan sangat dianjurkan orang dalam satu kelompok itu tinggal di rumah yang sama atau setidaknya menetap dalam zona yang sama.

2. Masker

Penggunaan masker tetap dianjurkan selama naik gunung. Namun jika pendaki mengalami kelelahan dan napasnya terengah-engah sampai kesulitan bicara, maka turunkan masker. Kondisi ini bisa terjadi saat melewati jalur yang sulit dan menguras energi.

"Turunkan masker, turunkan kecepatan, dan langsung jaga jarak," kata dia.

Para pendaki gunung juga disarankan membawa masker cadangan. Sophia menjelaskan, masker membuat aliran udara yang dihirup menjadi berkurang dan udara di sisi dalam lebih lembap.
"Karena itu, penting untuk membawa masker tambahan. Tidak cukup hanya satu atau dua saja," ucapnya. Langsung ganti masker saat terasa basah. Masker bakas pakai disimpan secara terpisah di dalam kantong.

3. Physical distancing

Jika memungkinkan gunakan selalu masker selama proses pendakian. Kalaupun harus membuka masker dalam kondisi kelelahan dan terengah-engah tadi, langsung menjauh dari orang di sekitar. "Menjaga jarak tak cukup satu meter, tapi langsung dua meter antara orang di depan dan belakang," ujar Sophie.

Dalam kondisi ini, orang tersebut boleh menurunkan masker. Dan jarak yang begitu jauh tersebut, Sophie menjelaskan, diperlukan karena embusan napas akan lebih dalam dan kencang atau keras. "Maka itu, jangan bergerombol."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gunung New Normal

Sumber : Tempo.co

Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top