Ini 5 Negara dengan Budaya Membaca dan Tingkat Literasi Tinggi

Bila Anda ingin melancong ke negara-negara dengan tingkat membaca yang tinggi, maka anda bisa menyimak ulasan pada 5 negara ini.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 18 Mei 2020  |  17:33 WIB
Ini 5 Negara dengan Budaya Membaca dan Tingkat Literasi Tinggi
Pengunjung memilih buku bacaan di Perpustakaan Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Selasa (5 Januari 2016). Berdasarkan penilaian UNDP, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2014 masih berada pada peringkat 108 dari 187 negara, dengan indeks kebiasaan membaca berkisar antara nol hingga satu judul buku per tahun. - Antara / Irfan Anshori

Bisnis.com, JAKARTA - Banyak negara yang masih memiliki tingkat literasi yang rendah, salah satunya Indonesia. Kegiatan membaca tak dapat dipungkiri masih kurang diminati oleh kebanyakan masyarakat.

Oleh karena itu, pemerintah membuat banyak program-program literasi di semua tingkatan pendidikan. Namun, langkah tersebut belum sepenuhnya berjalan dengan baik lantaran masih banyak siswa yang kurang memiliki niat untuk membaca, karena mereka lebih memilih untuk melakukan aktivitas-aktivitas lain daripada membaca.

Padahal luasnya wawasan pengetahuan suatu bangsa erat kaitannya dengan kemajuan yang dicapai bangsa itu. Korelasi ini tercermin dari minat dan budaya membaca yang kuat dari warga negara-negara dengan indeks literasi tertinggi di dunia.

Sementara di negara-negara lain, program literasi sudah lama diadakan dan tingkat literasinya pun tinggi. Berikut ini adalah lima negara yang memiliki tingkat literasi tertinggi di dunia.

1. Finlandia

Finlandia tercatat sebagai salah satu negara yang menjadikan kegiatan membaca sebagai budaya. Kegiatan tersebut didukung oleh 738 perpustakaan yang terbagi menjadi perpustakaan umum dan perpustakaan universitas di seluruh Finlandia. Belum termasuk 140 perpustakaan keliling yang melayani masyarakat yang berada di perdesaan atau kota-kota kecil.

Jumlah tersebut tidak bisa dibilang kecil apabila melihat jumlah penduduk Finlandia yang pada 2019 tercatat sebanyak 5,518 juta jiwa.

Budaya membaca di Finlandia diwariskan turun temurun melalui dongeng sebelum tidur. Selain memperkenalkan budaya membaca sejak dini, dongeng sebelum tidur juga bertujuan membentuk karakter positif pada anak.

Dukungan Pemerintah Finlandia terhadap budaya membaca juga tercermin dari pemberian bingkisan paket perkembangan anak kepada keluarga yang baru memiliki bayi. Selain keperluan bayi seperti pakaian dan mainan, di dalamnya terdapat buku bacaan untuk orang tua beserta bayinya.

Sementara itu, sistem pendidikan di Finlandia ikut menumbuhkan budaya membaca lewat tugas membaca satu buku dalam sepekan. Kemudian yang tak kalah menarik adalah tidak adanya alih suara untuk program televisi berbahasa asing untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat masyarakat Finlandia, terutama anak-anak.

2. Belanda

Sama seperti Finlandia, Belanda menjadi salah satu negara yang menumbuhkan budaya membaca sejak dini. Bayi-bayi yang ada di Belanda ketika berusia empat bulan otomatis mendapatkan formulir keanggotaan perpustakaan umum.

Formulir keanggotaan yang dikirimkan ke rumah masing-masing bayi itu juga dilengkapi dengan seperangkat buku bacaan untuk bayi dan orangtuanya. Setelah formulir diisi dan diberikan ke petugas perpustakaan umum, barulah orang tua bisa mengajak bayinya dan meminjam buku secara cuma-cuma.

Sebagai catatan, keanggotaan perpustakaan tersebut berlaku sampai dengan usia anak menginjak 18 tahun.

Adapun, sistem pendidikan di Belanda berupaya menumbuhkan minat baca anak-anak lewat kewajiban membaca buku setiap pagi sebelum mengawali pelajaran dan sore hari sebelum pulang. Selain itu, sekolah-sekolah di Belanda juga membuat agenda rutin kunjungan ke perpustakaan umum. Terdapat 763 perpustakaan umum di Belanda untuk melayani penduduk sebanyak 17,6 juta jiwa.

Kemudian, ada pula De National Voorleesdagen atau Pekan Membaca Nasional yang diadakan sekali dalam setahun selama 10 hari pada bulan Januari-Februari yang didukung oleh seluruh elemen masyarakat di seluruh penjuru Negeri Kincir Angin.

Selain mengumumkan 10 buku terbaik tahunan, Pekan Membaca Nasional juga menjadi momentum masyarakat untuk mendapatkan buku-buku baru secara cuma-cuma dengan menukarkan buku lamanya.

3. Swedia

Tak jauh berbeda dengan Finlandia, Swedia—yang termasuk dalam negara-negara Skandinavia—memberikan buku bacaan dalam paket bingkisan kepada keluarga yang baru memiliki bayi. Tentu tujuannya adalah menumbuhkan budaya membaca sejak dini.

Tingginya minat membaca masyarakat Swedia terlihat dari ramainya perpustakaan umum yang tersebar di sejumlah titik keramaian seperti pusat perbelanjaan dan stasiun kereta api. Di Stockholm saja terdapat 51 perpustakaan umum untuk melayani penduduk yang jumlahnya hanya 2,3 juta jiwa.

Jumlah buku yang bisa dipinjam setiap orang mencapai 50 buku dengan lama waktu peminjaman selama enam pekan. Bukan jumlah yang sedikit dan waktu yang sebentar dibandingkan dengan perpustakaan umum di Indonesia.

Masyarakat Swedia juga punya budaya yang unik terkait dengan membaca. Mereka senang meninggalkan buku yang sudah selesai dibaca di tempat tertentu dengan catatan kecil bertuliskan “apakah kamu mau membaca buku ini?”. Tujuannya sangat mulia, berbagi ilmu lewat buku yang nantinya akan dibaca orang lain.

Budaya tersebut dalam perkembangannya terus menyebar keluar Swedia setelah aktris asal Inggris, Emma Watson mempopulerkan gerakan Bookfairies lewat tagar #bookfairies di akun Instagram-nya Gerakan tersebut mengajak orang-orang untuk memberikan buku secara gratis dengan cara menaruh buku di tempat yang gampang ditemukan, contohnya di bangku taman atau halte bus.

4. Australia

Salah satu upaya Australia untuk menumbuhkan budaya membaca sejak dini juga dilakukan lewat pemberian buku dalam paket bingkisan untuk keluarga yang baru memiliki bayi. Hal tersebut pertama kali diimplementasikan oleh negara bagian New South Wales pada Januari 2019 yang kemudian diikuti oleh negara bagian Victoria pada Juli 2019.

Adapun, jauh sebelumnya terdapat program tantangan membaca atau Reading Challenge untuk memotivasi orang tua menanamkan budaya membaca dalam keluarga, khususnya anak-anak. Ada beberapa program reading challenge yang bisa diikuti, seperti 1000 books before school, program tantangan membaca untuk anak usia 0-5 tahun dengan ketentuan harus menyelesaikan target membaca sebanyak 1000 buku sebelum usia anak menginjak 5 tahun.

Selain itu, ada pula program tantangan membaca tahunan, yaitu Premiers’ Reading Challenge. Program ini diperuntukkan untuk anak usia 0-15 tahun. Buku yang harus dibaca untuk program ini judulnya sudah ditentukan dengan target selesai selama empat bulan.

Tujuan dari adanya program-program tersebut adalah meningkatkan kunjungan perpustakaan umum yang dibangun oleh pemerintah di seluruh penjuru negeri. Perpustakaan yang menyediakan berbagai fasilitas dan kegiatan pendukung itu jumlahnya mencapai 1.631 unit, belum termasuk ruang baca dengan ukuran lebih kecil dan perpustakaan bergerak.

Kemudian ada pula kegiatan home reading atau membawa pulang buku dari sekolah untuk dibacakan menjelang tidur dan program Australian Reading Hour. Melalui program tersebut orang tua diminta untuk meluangkan waktunya selama satu jam khusus untuk membaca, atau membacakan buku kepada anak-anak.

Terakhir yang tak kalah menarik adalah jumpa penulis atau kegiatan Meet the Writers dan Book Week Parade di sekolah-sekolah Negeri Kanguru sebagai bentuk apresiasi terhadap minat baca anak-anak.

5. Jepang

Tingginya minat baca masyarakat Jepang terlihat dari kebiasaan yang dilakukan ketika menunggu atau naik angkutan umum. Alih-alih menggunakan gawainya seperti masyarakat Indonesia, mereka lebih memilih untuk membaca buku, majalah, atau surat kabar.

Jika diperhatikan kebanyakan buku yang diterbitkan di Jepang didesain dalam ukuran kecil, ringan, dan mudah dibawa kemana-mana. Selain itu, buku-buku terjemahan dari bahasa asing juga dapat dengan mudah ditemukan.

Selain itu, ada kebiasaan unik dari mencerminkan tingginya minat baca masyarakat Jepang. Kebiasaan tersebut adalah “tachi yomi” atau datang ke toko buku untuk membaca layaknya datang ke perpustakaan pada malam hari.

Sebagai catatan, toko buku di Jepang tutup lebih malam dibandingkan dengan pasar swalayan atau pusat perbelanjaan. Toko buku yang dimaksud tidak hanya toko yang menyediakan buku-buku baru tetapi juga buku-buku bekas.

Sekilas kebiasaan ini seperti merugikan toko buku karena pengunjung datang hanya untuk membaca, tidak untuk membeli. Namun, faktanya tidak demikian. Kedatangan pengunjung untuk “tachi yomi” berbanding lurus dengan penjualan buku lantaran masyarakat Jepang punya kecenderungan membeli bacaan lain selain buku yang mereka baca di toko buku.

Kemudian Pemerintah Jepang juga menyediakan perpustakaan umum dengan berbagai fasilitas pendukung seperti Wi-Fi, komputer, dan ruang baca yang nyaman. Saat ini, terdapat 3.106 perpustakaan umum di Jepang, termasuk 62 perpustakaan prefektur, 2.433 perpustakaan kota, 610 perpustakaan kota, dan satu perpustakaan daerah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
finlandia, belanda, Membaca

Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
Editor : Novita Sari Simamora
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top