Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pentingnya Menyusun Menu Puasa Gizi Seimbang

Dalam satu pekan, Anda bisa persembahkan satu hari untuk makanan bersantan, dan satu hari lainnya adalah makanan dengan bumbu kacang-kacangan. Setidaknya, Anda bisa menjamin gizi anda terpenuhi selama masa pandemi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 11 Mei 2020  |  09:03 WIB
Pedagang takjil mengenakan masker dan sarung tangan saat berjualan di Jalan Panjang Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (24/4/2020). - Antara\n\n
Pedagang takjil mengenakan masker dan sarung tangan saat berjualan di Jalan Panjang Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (24/4/2020). - Antara\\n\\n

Bisnis.com, JAKARTA -- Selama bulan Ramadan dan Pembatasan Sosial Berskala Besar, penting bagi Anda membuat perencanaan mingguan menu sahur dan berbuka yang memenuhi kadar gizi.

Dalam satu pekan, Anda bisa persembahkan satu hari untuk makanan bersantan, dan satu hari lainnya adalah makanan dengan bumbu kacang-kacangan. Setidaknya, Anda bisa menjamin gizi anda terpenuhi selama masa pandemi.

Selama masa karantina dan puasa seperti ini, Anda bisa menjadwalkan lauk yang berbeda dari Senin sampai Minggu. Misalnya saja; ayam bakar bumbu rujak, hari berikutnya, pepes tahu, hari berikutnya ikan pesmol, orek tempe pete cabai hijau, pepes jamur, botok teri, dan telur pindang.

Menurut Ahli Gizi dr. Tan Shot Yen, rencana makan harus penting agar tidak menjadi bencana di kemudian hari. Dengan situasi pandemi saat ini, dia menilai perencanaan makan adalah langkah awal yang penting untuk memulai hidup sehat dengan gizi seimbang.

“Apalagi sekarang ada belanja online, seminggu sekali, ada baiknya membuat rencana atau meal preparation,” kata Tan Shot Yen saat dihubungi Bisnis, beberapa waktu yang lalu.

Selama ini permasalahan yang muncul terkait makanan dikarenakan masyarakat sering mengambil jalan pintas dalam menjaga kesehatan. Dibandingkan harus menyusun rencana makan, orang lebih suka memberi dopping pada diri sendiri dengan suplemen dan multivitamin ketimbang makanan sehat.

“Padahal tubuh ini tidak bisa dikarbit,” sambungnya.

Dia juga menyatakan, selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini juga terkadang membuat penghuni enggan memasak dan memiliki memesan makanan instan. Padahal makanan instan yang melalui delivery belum tentu punya keseimbangan gizi yang dibutuhkan. Imbasnya, sistem imun belum tentu terjaga dan berpotensi memicu kegemukan.

Tan Shot Yen pun mengusulkan pentingnya penyusunan makanan berlandaskan sistem Isi Piringku yang diluncurkan Kementerian Kesehatan.

Isi Piringku menggambarkan porsi makan dalam satu piring yang terdiri dari 50% buah dan sayur, 50 persen sisanya terdiri dari karbohidrat dan protein. Isi piringku lebih menekankan tak hanya pada jenis makanan saja tetapi membatasi gula, garam dan lemak.

Sementara itu menurut dr. Steffi Sonia, Departemen Ilmu Gizi FKUI – RS Cipto Mangunkusumo menyatakan ada 10 nutrisi yang wajib terpenuhi selama masa Covid-19. Misalnya saja; vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin D, vitamin E, asam lemak omega, selenium, seng, besi, dan tembaga.

“Syarat penting adalah memasak makanan secara matang apalagi makanan yang tinggi protein dan lemak, termasuk hewan yang berpotensi jadi pembawa virus,” sambung Steffi.

Dia menambahkan, selama masa pandemi ini kebersihan alat memasak dan alat makan juga sangat krusial.

Oleh sebab itu sebaiknya Anda tidak makan bersama dengan alat makan yang sama. Semua alat masakan dan alat makan harus dicuci bersih.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

berpuasa menu buka puasa
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top