Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menelusuri Jejak Langkah Orangutan di Calon Ibu Kota Baru

Bisnis.com, JAKARTA - Meloncat dari dahan ke dahan, di antara cahaya matahari yang menyeruak di dedaunan, orangutan asli Kalimantan Timur tengah mencari sarapan pagi. Saat yang bersamaan di daratan sejumlah kamera tele berusaha membidik wajah satwa langka ini.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 29 April 2020  |  06:26 WIB
Orangutan Tapanuli dengan anak kembar - Doc.SOCP
Orangutan Tapanuli dengan anak kembar - Doc.SOCP

Bisnis.com, JAKARTA – Meloncat dari dahan ke dahan, di antara cahaya matahari yang menyeruak di dedaunan, orangutan asli Kalimantan Timur tengah mencari sarapan pagi.

Saat yang bersamaan di daratan sejumlah kamera tele berusaha membidik wajah satwa langka ini.

Demikianlah suasana di Prevab Mentoko, Kutai Timur, salah satu kawasan konservasi orangutan di Taman Nasional Kutai (TNK). Taman Nasional Kutai merupakan hutan hujan tropis di Indonesia. TNK membentang sepanjang 3 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur yang meliputi; Kabupaten Kutai Kertanegara, Kota Bontang, sampai Kabupaten Kutai Timur.

Salah seorang ranger atau penjaga hutan Prevab Mentoko, Ikbal As Patolo menjelaskan Prevab memiliki ciri khas sebagai habitat asli orangutan tak seperti sejumlah tempat rehabilitasi satwa ini di Kalimantan Timur.

Tak heran jika, orangutan yang berkeliaran disana adalah orangutan yang belum pernah terluka atau keluar dari zona hidup di TNK.

Perjalanan masuk ke lokasi ini terbilang cukup menantang. Untuk menjumpai si orangutan, Anda mulai perjalanan paling lambat pukul 06.00 WITA. Ikbal beralasan, orangutan akan memulai aktivitas pagi hari mencari makan, sampai pukul 09.00 WITA.

Jika kesiangan, peluang Anda berjumpa dengan satwa langka ini semakin kecil. Selain itu, untuk menjumpai orangutan, perlu persiapan fisik untuk trekking di dalam hutan. Sehingga para wisatawan harus memakai sepatu gunung untuk memudahkan perjalanan saat susur hutan.

Butuh waktu sekitar 20-30 menit menggunakan ketinting alias perahu kayu dari Dermaga Desa Kabo Jaya. Setibanya di Prevab, ada sejumlah papan peringatan bagi para pengunjung. Salah satu yang menarik adalah papan waspada terhadap hewan liar melata yaitu buaya.

Meski demikian, Anda tidak perlu khawatir karena para ranger yang menangani wisatawan sudah dibekali keahlian menggunakan tongkat bercabang, guna mencegah hewan liar atau buaya mengancam Anda.

Setibanya di gerbang Prevab, wisatawan yang hadir bahkan bisa dihitung dengan jari. Tiket masuk juga relatif sangat murah. Misalnya, untuk turis lokal hanya Rp5000 per orang pada hari biasa, dan Rp7.500 pada hari libur dan akhir pekan. Sebaliknya, wisatawan mancanegara dikenakan Rp225.000 per orang pada hari libur, dan Rp150.000 per orang pada hari biasa.

Meski dengan harga terjangkau, jumlah rombongan per hari yang boleh masuk ke Prevab maksimal hanya 20 orang, dan dibagi dalam 4 kelompok. Sehingga, setiap ranger hanya akan memandu maksimal 5 orang saja.

Ikbal yang berdarah Bugis ini mengaku sudah menjadi ranger sejak 2013. Bersama dengan rekan yang lain, Ikbal memandu 3 orang turis lokal dan 3 orang turis asing yang berprofesi sebagai fotografer dan peneliti asal Jerman.

Perjalanan trekking di hutan Prevab pun mulai berlangsung pukul 06.00 WITA. Udara yang masih dingin, embun dedaunan dan hawa segar memberi antusiasme ekstra dalam pencarian menjumpai orangutan.

“Biasanya orangutan Kalimantan itu berani turun ke daratan, tak mesti gelantungan di pohon. Mereka tak bertemu predator disini. Berbeda dengan orangutan Sumatra yang cenderung gelantungan karena dalam hutan masih merasa terancam dengan harimau,” jelas Ikbal.

Setelah satu jam berjalan berkeliling, tim belum menemukan tanda-tanda pergerakan dari orangutan. Ikbal pun cemas, jangan sampai hujan yang mengguyur semalam membuat orangutan enggan berkeliaran.

Ikbal pun mencoba tetap berkeliling, sambil memperkenalkan ragam jenis flora di Prevan yang berusia hampir 200 tahun.

Tiba-tiba Ikbal mempercepat langkah, dia pun meminta rombongan untuk tidak bersuara namun mempercepat langkah. Dia sudah menemukan pergerakan orang utan di atas pepohonan. Ah, benar saja, seekor orangutan nampak bergelantungan sangat tinggi di pepohonan.

Mahkluk berbulu itu lantas bertengger dengan nyaman pada salah satu dahan yang tinggi. Sungguh sulit membidik foto seluruh tubuh hewan ini. Hanya mereka yang memboyong kamera tele tentu bisa mengambil gambar terbaik.

“Itu masih ada dua lagi,” ujar Ikbal mengajak tim bergeser ke lokasi lain. Ternyata, orangutan pertama yang dijumpai berjenis kelamin jantan. Sementara yang baru ditemukan Ikbal berjenis kelamin betina, karena dia bergelantungan sambil menggendong bayinya.

“Itu induknya, yang agak besar. Nah yang kecil itu, lihat deh dikepit, itu anaknya,” sambung Ikbal.

Saat ini, total orangutan di Prevab dengan luas 629 hektare ada sekitar 26 ekor orangutan. Jenis ini pun belum tentu menetap hanya di kawasan Prevab. Mereka juga akan bermigrasi ke wilayah lain di TNK yang luas totalnya mencapai 198.629 hektare. Bisa dibayangkan, faktor orangutan kian berkurang seiring dengan alih fungsi lahan ilegal di dalam TNK.

Matahari kian tinggi dan menyengat, Ikbal pun memberi sinyal sudah saatnya pencarian orangutan diselesaikan. Apalagi setelah jam sarapan, mahkluk ini akan cenderung bermigrasi mencari tempat yang teduh dan tertutup untuk beristirahat. Sekitar pukul 09.30 WITA, Ikbal dan tim pun kembali ke pos Prevab untuk menikmati pisang goreng dan kopi.

Kepala Tim Ranger Prevab, Hariadi menambahkan, tidak banyak kendala yang dihadapi dari para wisatawan saat mengunjungi Prevab. Hariadi menegaskan, meski bertemu orangutan dalam satu kali trekking bisa jadi hanya kebetulan, namun Prevab adalah wilayah dengan misi menjaga ekosistem alam. Oleh sebab itu, para wisatawan wajib menyesuaikan kebutuhan dan perlengkapan sebelum menjajaki kawasan ini.

Yang terpenting, selain penyesuaian pakaian, dan sepatu untuk trekking, para wisatawan juga jangan membuang sampah sepanjang jalur trekking di hutan dan wajib mengikuti arahan petugas,? terangnya.

Setelah menghabiskan waktu di pos Prevab, sekitar pukul 10.30 WITA wisatawan pun bisa kembali ke dermaga Desa Kabo Jaya dengan kembali menyusur sungai menggunakan ketinting. Sepanjang perjalanan, Anda masih disuguhkan dengan pemandangan hutan ditemani suara ketinting dan air sungai yang bergemericik.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

orangutan
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top