Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Singgah ke Rotterdam, Kunjungi Gerbang Raksasa Antibanjir

Maeslantkering adalah dua gerbang raksasa penghambat banjir. Infrastruktur yang beroperasi sejak 1997 itu terbentang 360 meter atau hampir sama dengan Menara Eiffel bila diletakkan secara horizontal.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 26 Februari 2020  |  15:04 WIB
Singgah ke Rotterdam, Kunjungi Gerbang Raksasa Antibanjir
Salah satu sisi Maeslantkering - Duwi Setiya
Bagikan

Bisnis.com, THE HAGUE - Gerbang raksasa, itulah yang cocok bagi Maeslantkering, dengan panjang 360 meter dan menjadi melindungi sekira 1 juta penduduk Rotterdam dari banjir. Berikut ulasannya. 

Maeslantkering merupakan dua gerbang raksasa penghambat banjir. Infrastruktur yang beroperasi sejak 1997 itu terbentang 360 meter atau hampir sama dengan Menara Eiffel bila diletakkan secara horizontal. 

Sekilas bentuknya menyerupai huruf m kapital dengan dinding setinggi 22 meter sebagai topinya. Bila tinggi air melampaui batas, gerbang akan tertutup sehingga air laut tak bisa menambah debit air Sungai Maas bahkan menimbulkan banjir. 

Sejak beroperasi, gerbang tertutup sebanyak dua kali yakni pada 2007 dan 2018 saat badai parah menerpa. Umumnya, butuh waktu 2 jam untuk menutup gerbang namun pada dua kesempatan itu, penutupan gerbang terjadi cukup lama karena kondisi parah. 

Pada 2007, ketika badai terjadi, proses penutupan yang dilakukan secara otomatis itu membutuhkan waktu 19 jam. Sementara itu, pada 2018 membutuhkan waktu 5 jam. 

Ketika saya mengunjungi Maeslantkering, Badai Dennis menerpa sehingga angin kencang dan gerimis cukup parah. Kesempatan untuk mendekat ke lengan Maeslantkering pun membawa pengalaman tersendiri meskipun menjadi sedikit berbahaya namun mendapat gambaran kondisi yang mampu mengancam aktivitas di sekitar aliran Sungai Maas. 

Badan Meteorologi setempat mencatat kecepatan angin saat badai yang berasal dari Samudra Atlantik itu mencapai 100 km/jam hingga 120 km/jam. Kendati demikian, belum dibutuhkan penutupan gerbang karena dampak badai masih dapat diatasi. 

Penutupan gerbang biasanya telah dimulai 10 jam sebelumnya dengan pembaruan informasi setiap 10 menit. Gerbang canggih itu dibangun setelah banjir parah terjadi.

Bermula dari 1953 ketika banjir merusak Provinsi Zeeland dan Zuid, Belanda. Pada saat itu, 2 juta orang terendam dan membuat Pemerintah setempat menginisiasi program jangka panjang di wilayah delta. 

Public Relations The Kering Huis, Jeroen Kramer mengatakan Maeslantkering menjadi proyek terbesar dari 13 proyek lainnya karena pengoperasiannya menggunakan teknologi canggih sehingga gerakan pada gerbang dilakukan menggunakan sistem komputer. Selain itu, dia menyebut Maeslantkering menjadi proyek terbesar karena bersinggungan langsung dengan laut utara. 

"Maeslantkering menjadi yang terbesar karena bersinggungan langsung dengan laut utara," katanya saat memimpin tur. 

Badai Dennis menerpa Maeslantkering, dua gerbang raksasa penghambat banjir, di Kota Amsterdam Belanda./Duwi Setiya Ariyanti

Dia menyebut hingga saat ini belum diperlukan penambahan fitur baru pada gerbang raksasa itu setidaknya hingga 80 tahun ke depan. Namun, dia menyebut setiap tahunnya selalu dilakukan pengecekan rutin untuk memastikan sistem bekerja dengan baik. 

Menurutnya, pembangunan sistem manajemen air tak hanya membutuhkan dana besar tetapi komitmen yang kuat. Sebagai contoh, dia menyebut proyek pembangunan gerbang raksasa ini menelan biaya 450 juta euro mulai 1991 hingga 1997. Saat itu, pembangunan proyek delta menjadi penyelamat Negeri Tulip yang sebagian permukaannya lebih rendah dari permukaan laut. 

Tak heran bila kaki yang kering menjadi target sejak banjir besar terjadi tahun 50-an. Sistem yang sama, ujarnya, telah diterapkan oleh beberapa negara seperti Amerika Serikat, Rusia dan Italia. Namun, di Italia program yang sama justru meleset pengerjaannya sehingga belum mampu menyelamatkan Italia dari banjir. 

"Secara perlahan kami memastikan bagaimana tetap kering," katanya. 

Bila ingin berkunjung, pusat edukasi The Kering Huis buka dari pukul 10.00 hingga 16.00 setiap hari kecuali akhir pekan buka pada 11.00 hingga 17.00. Biaya tiket masuk untuk dewasa 2 euro per orang dan gratis untuk anak di bawah 18 tahun. Namun, bila ingin menggunakan jasa pemandu wisata, pengunjung dewasa dikenakan biaya 4,5 euro dan anak-anak di bawah 18 tahun 2,5 euro yang sudah termasuk tiket masuk.

Untuk mengakses ke The Kering Huis, Anda bisa menggunakan metro dari Rotterdam ke Stasiun Hoek van Holland dengan durasi 30 menit. Dari stasiun, Anda berjalan kaki selama 45 menit menelusuri Nieuwe Waterwag ke The Kering Huis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

belanda bendungan
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top