Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dampak Virus Corona, Hampir 75 Persen Wisman Batal Kunjungi Asean

Hampir 75 persen pelancong telah membatalkan keberangkatan mereka ke negara-negara di Asia Tenggara. Mereka membatalkan rencana perjalanan untuk bulan Februari dan Maret.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 15 Februari 2020  |  20:21 WIB
Wisatawan melintasi area Golden Spider atau Laba-Laba Emas di kawasan Taman WIsata Candi (TWC) Borobudur, Jawa Tengah, Minggu (23/12/2018). - ANTARA/Anis Efizudin
Wisatawan melintasi area Golden Spider atau Laba-Laba Emas di kawasan Taman WIsata Candi (TWC) Borobudur, Jawa Tengah, Minggu (23/12/2018). - ANTARA/Anis Efizudin

Bisnis.com, JAKARTA – Epidemi infeksi virus Corona atau Covid-19 berdampak cukup besar bagi industri pariwisata global, terutama di kawasan Asia.

Setidaknya, gangguan ekonomi terhadap perjalan wisata akibat wabah corona virus memiliki efek jangka panjang hingga 2021.

Hampir 75 persen pelancong telah membatalkan keberangkatan mereka ke negara-negara di Asia Tenggara. Mereka membatalkan rencana perjalanan untuk bulan Februari dan Maret.

Berdasarkan data dari World Travel and Tourism Council, industri pariwisata untuk liburan dan perjalanan bisnis di seluruh benua Asia menyumbang hingga US$884 miliar terhadap PDB pada 2017, dengan proyeksi US$1 triliun di 2018.

Jack Ezon, Pendiri dan Managing Partner Embark Beyond mengatakan wabah Covid-19 menyebabkan banyaknya wisatawan yang membatalkan perjalanan, tidak hanya ke China tetapi ke seluruh benua Asia, dan jumlahnya terus bertambah setiap hari.

“Banyak di antara wisatawan yang menunda perjalanannya mengatakan bahwa mereka belum tahu akan pergi ke mana saat ini, bahkan di dalam banyak kasus mereka menuturkan baru akan memulai perjalanan kembali pada tahun depan,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg.com, Sabtu (15/2/2020).

Sejauh ini, sambungnya, hampir 75 persen pelancong telah membatalkan keberangkatan mereka ke negara-negara Asia Tenggara untuk perjalanan pada bulan Februari dan Maret. Padahal, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit A.S. Amerika Serikat, menganggap Asia Tenggara memiliki risiko lebih rendah, satu tingkat untuk virus Corona.

"Mereka khawatir berada di area dekat wabah atau takut terkendala saat membatalkan perjalanan jika hub lainnya ikut terinfeksi virus. Bahkan 100 persen perjalanan bulan madu yang dipesan agensi ke wilayah tersebut [Asean] telah dibatalkan, dan dipesan ulang untuk tujuan alternatif seperti Maladewa, Afrika Selatan, dan Australia,” tuturnya.

Sementara itu, Catherine Heald, pendiri dan CEO agen perjalanan Remote Lands yang berfokus pada Asia mengatakan selain faktor virus Corona, tidak sedikit wisatawan yang mempertimbangkan cuaca di kawasan Asia.

“Untuk perjalanan ke Asia Utara mungkin dapat dilakukan sepanjang tahun, tetapi Asia Tenggara jauh lebih menantang karena musim hujan dan suhu yang sangat panas di sebagian besar wilayah itu,” tuturnya.

Apalagi biasanya musim panas akan berlangsung sekitar Maret hingga September sehingga para wisatawan kemungkinan baru akan memesan ulang setelah musim gugur. Sementara itu, untuk liburan keluarga hal lain yang dipertimbangkan adalah jadwal sekolah.

“Kami memiliki satu keluarga yang sedang melakukan perjalanan selama liburan musim semi, dan mereka tidak akan memiliki waktu yang sama lagi sampai liburan musim semi tahun depan, dan mereka baru akan memesan ulang untuk 2021,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata virus corona
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top