Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Overtourism, Belanda Hapus Sebutan Holland Mulai Tahun Ini

Mulai tahun ini keinginan Anda melancong ke Holland sudah tak dapat diamini karena pemerintah Belanda akan menghapuskan nama Holland yang umum digunakan sebagai sebutan untuk wilayah Belanda secara keseluruhan.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 12 Januari 2020  |  15:09 WIB
Belanda - depermentier.be
Belanda - depermentier.be

Bisnis.com, JAKARTA - Mulai tahun ini keinginan Anda melancong ke Holland sudah tak dapat diamini karena pemerintah Belanda akan menghapuskan nama Holland yang umum digunakan sebagai sebutan untuk wilayah Belanda secara keseluruhan.

Keputusan untuk berhenti menggunakan moniker Holland adalah demi kepentingan resmi Belanda dan bagian dari kampanye branding baru untuk mengendalikan citra negara di panggung internasional.

Langkah ini pun diambil untuk bersiap dengan derasnya arus wisatawan, kala Belanda menjadi tuan rumah berbagai event besar dunia seperti turnamen sepak bola UEFA Euro 2020, Eurovision Song Contest dan partisipasinya dalam Olimpiade.

Dikutip dari Forbes, mulai saat ini hal-hal yang berbau Holland seperti akun media sosial @visitholland juga akan dikeluarkan dari materi promosi dan pemasaran lembaga pemerintahan sehingga baik perusahaan, kedutaan besar, dan universitas diminta untuk menggunakan penyebutan nama resmi negara ini yaitu Netherlands atau Belanda.

Perubahan nama ini merupakan aspek dari upaya pariwisata yang diperbarui untuk memodernisasi citra internasional negara tersebut untuk mencapai manajemen yang lebih ramah lingkungan dari sejumlah besar wisatawan yang berkunjung setiap tahun.

“Untuk mengendalikan arus pengunjung dan memanfaatkan peluang yang dibawa dari sektor pariwisata, kita harus bertindak sekarang,” tulis Dewan Pariwisata dalam sebuah dokumen yang menjelaskan rencana 10 tahun yang baru diluncurkan.

"Alih-alih promosi tujuan, sekarang saatnya untuk manajemen tujuan,” lanjut keterangan tersebut.

Belanda sendiri merasakan dampak negatif dari masalah ‘overtourism’ yang terjadi di ibukota yakni Amsterdam yang sangat populer dalam satu dekade terakhir, yang berimbas pada ketertiban umum, kualitas hidup dan lingkungan serta pembiayaan rumah.

Mei 2019 lalu, Dewan Pariwisata mengumumkan berhenti melakukan promosi aktif menjadikan Belanda sebagai tujuan wisata karena kepadatan kota dan tempat wisata. Bahkan, kantor pariwisata Belanda di beberapa negara yang menyumbang banyak turis seperti di Spanyol, Italia dan Jepang ditutup karena hal ini.

Pada tahun 2030, arus pengunjung tahunan ke Belanda diperkirakan akan mencapai 42 juta, dari 19 juta kunjungan selama periode satu dekade terakhir. Hal ini dianggap sebagai momok yang sangat menakutkan bagi pejabat dan penduduk yang hanya memiliki total populasi tidak lebih dari 17 juta penduduk.

Dari 2005 hingga 2016, jumlah wisatawan yang mengunjungi Amsterdam tumbuh dari 11 juta menjadi 18 juta pelancong. Karena hal ini, otoritas akhirnya menaikkan pajak wisatawan tahun lalu demi mengendalikan angka pembiayaan dan kerusakan dari dampak negatif pariwisata.

Selama peak season, destinasi pariwisata seperti taman Keukenholf dan distrik kincir angin Kinderdijk, yang menjadi situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1997, praktis tidak dapat diakses karena ketegangan pada infrastruktur lokal yang diciptakan oleh begitu banyak pengunjung.

Hingga saat ini, baik Holland dan Netherlands adalah sebutan yang akrab bagi para turis untuk menyebut Belanda. Meskipun pada awalnya Holland adalah sebutan dari dua provinsi di negara tersebut yakni Belanda Utara dimana Amsterdam berada, dan Belanda Selatan dimana Rotterdam, Leiden dan Den Haag terletak.

Pemerintah Belanda pun baru saja meluncurkan logo baru menukar sebutan Holland untuk ‘NL’ di sebelah tulip oranye simbolis yang akan terus digunakan di masa depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata belanda
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top