Rhenald Kasali : Bali Perlu Waspadai Efek Overcrowd Tourism

Guru Besar UI Prof Rhenald Kasali mengingatkan praktisi pariwisata Bali agar mewaspadai fenomena overcrowd dalam menyambut liburan besar akhir tahun.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 27 November 2019  |  15:49 WIB
Rhenald Kasali : Bali Perlu Waspadai Efek Overcrowd Tourism
Delegasi peserta Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 menonton atraksi budaya di salah satu destinasi wisata di Gianyar, Bali, Sabtu (13/10/2018). - Bisnis/Ema Sukarelawanto

Bisnis.com, JAKARTA -  Liburan besar akhir tahun biasanya ditandai dengan jumlah wisatawan yang melimpah.

Terkait itu, Guru Besar UI Prof Rhenald Kasali mengingatkan praktisi pariwisata Bali agar mewaspadai fenomena overcrowd dalam menyambut liburan besar akhir tahun.

Rhenald menyebutkan, pelancong menghendaki suasana gembira dan waktunya bisa terpakai efektif selama liburan. Namun, lonjakan pelancong akhir tahun bisa membuyarkan harapan itu. Macet di mana-mana dan tak bisa kemana-mana kalau daya dukung tak ditingkatkan.

Rhenald mencontohkan pada akhir tahun 2018 muncul demo besar penduduk di berbagai destinasi wisata terkemuka dunia. Venesia salah satunya. Gejolak serupa juga terjadi di Spanyol, Prancis, Belanda, dan Kroasia.

Mereka mempersoalkan prilaku wisatawan yang dinilai mengganggu kenyamanan penduduk.

“Tempat indah ini hanya dijadikan area selfie kalau turis tak sempat makan dan hanya bersandar di kapal pesiar. Jalanan macet . Harga-harga tempat tinggal dan makanan melambung,” ujar Rhenald.

Mereka, ujar Rhenald, juga meributkan kedatangan kapal pesiar yang wisman-nya tak makan di restoran mereka. Hanya makan ice cream lalu ngeloyor dan meninggalkan sampah.

Fenomena semacam itu, menurut Rhenald, pertama-tama dialami negara-negara sejahtera yang dikenal bersih dan sudah memasuki fase leisure economy. Bahkan bekerja ditambah sejam dalam seminggu saja, bisa membuat mereka marah besar.

Rhenald menyebutkan suara turis berteriak di atas sampan yang melintas di kanal Amsterdam pun dianggap mengganggu.

Atas keluhan warganya, Wali Kota Amsterdam dan Venesia akhirnya membatasi kedatangan turis, bahkan kapal pesiar pun dikenakan premi tinggi. Penyebaran Airbnb pun dibatasi. "Larangan-larangan dikeluarkan untuk melindungi penduduk kota dari ketidaknyamanan," ujar Rhenald dalam keterangan resminya, diterima Rabu (27/11/2019).

Mengutip UN WTO, organ PBB yang menangani pariwisata, Rhenald menyebutkan bahwa sejumlah destinasi memang tengah mengalami overcrowd.

Kebanjiran turis akibat Youtube dan Google dinilai bisa berakibat terjadinya ketidaknyamanan pada waktu tertentu. "Padat, macet, sempit, sampah, mahal, mengganggu ritual budaya, buang waktu dan berpotensi membuat turis mudah berang," ujar Rhenald.

"Overcrowd itu bisa dilihat dari rasio antara jumlah turis terhadap penduduk lokal," ujar Rhenald.

Tahun lalu Venesia di Italia mencapai skor 31, artinya sebanyak 613 ribu penduduk lokal kebanjiran 20 juta wisatawan. Amsterdam 20, dengan 17 juta turis untuk 830 ribu penduduk, sedangkan Paris skornya hanya 9,  dengan kehadiran 18 juta wisman berbanding 2 juta penduduk.

Namun, lanjutnya, kalau mengacu pada badan PBB World Tourism Organization (UNWTO), besarannya tak setinggi kota-kota di atas.

Melalui Intrepid Travel, UNWTO mengumumkan Tourism Density Index yang  menempatkan Kroasia dengan skor rasio 14, berikutnya Islandia (6), Denmark (5), Singapura dan Yunani (3) serta Spanyol (2).

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Rhenald menyebutkan secara umum Indonesia masih masuk dalam kategori undercrowd atau undertourism. Status itu terjadi karena jumlah turis masih jauh di bawah jumlah penduduk Indonesia.

Rasio Indonesia dengar skor 23, menurut Rhenald, masih disejajarkan dengan negara-negara potensial wisata seperti Mesir (18), Kenya (36) dan Tanzania (43).

Bali Baru

Meski jumlah wisatawan masih 1/23 dari jumlah populasi, Rhenald mengingatkan bahwa destinasi wisata Indonesia harus waspada terkait sangat tingginya gairah melancong penduduk lokal.

Jumlah kunjungan wisatawan domestik tumbuh pesat menyusul membaiknya infrastruktur darat dan udara, selain hadirnya penerbangan  low cost carrier, transportasi dengan model sharing ride, serta akomodasi  model sharing-based apartment.

Menurut Rhenald density index pada turisme di Bali telah mencapai angka 4 (16,6 juta wisatawan untuk 4,3 juta penduduk), yang dinilai mengkhawatirkan. Sementara itu daya dukung Bali untuk pengembangan infrastruktur relatif terbatas. "Sementara daya Pesona Bali sebagi destinasi kunjungan utama dunia terus membaik," ujar Rhenald.

Rhenald berpesan agar para perencana dan pemimpin daerah berhati-hati dalam menyambut era baru kedatangan wisatawan milenial.

Pengusaha wisata Bali, ujar Rhenald, perlu mengubah strategi dari eksploitasi Bali saja menjadi orkestrator yang turutmengantarkan turis ke destinasi-destinasi baru di luar Bali untuk mendapatkan sumber pendapatan baru.

Di sisi lain, negara perlu menciptakan standar yang tak kalah dari Bali untuk Bali-Bali baru yang sedang direncanakan.

Semua itu, lanjut Rhenald, memerlukan adanya perubahan mindset dan kewirausahaan.

Rhenald mengingatkan agar liburan menyenangkan wisatawan perlu mengetahui waktu yang tepat untuk melakukan kunjungan wisata. Hal itu penting agar perjalanan wisata tidak menghasilkan kepenatan, kekesalan dan ketegangan yang sangat merugikan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, destinasi wisata

Editor : Saeno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top