Cita Rasa Fusion Food, Modernisasi Masakan Tradisional

Para pelaku di industri kuliner dalam negeri perlu bertransformasi dalam menyajikan menu makanan di tengah perkembangan era digital dan banyaknya penduduk di usia generasi milenial.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 24 November 2019  |  14:04 WIB
Cita Rasa Fusion Food, Modernisasi Masakan Tradisional
Soto Lamongan - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Soto, sate, dan nasi goreng merupakan tiga di antara banyak menu kuliner top di Tanah Air. Rasanya ketiga makanan ini bisa ditemui di seluruh penjuru Indonesia. Rasanya ketiga makanan ini memiliki rasa yang khas dalam negeri.

Namun, bagaimana jika ketiga menu kulineran populer itu dikreasikan dengan elemen makanan lain yang berasal dari dalam dan luar negeri? Percampuran dua atau lebih elemen makanan ini yang lebih dikenal dengan istilah fusion food.

Adalah Eka, pemilik bisnis kuliner Karunia Bambu Pawon asal Lamongan, Jawa Timur yang coba mencampurkan soto khas daerahnya dengan berbagai resep kekinian. Hasil olahannya, menjadi menu yang dinamakan Soto Seafood Lamongan Koya Telur Asin.

Tak seperti soto pada umumnya, sajian yang ditawarkan Eka berupa soto dengan lauk hasil laut. Selain itu, koya yang selama ini telah menjadi ciri khas soto dari Jawa Timur juga dia kombinasikan dengan bubuk salted egg yang terkenal sebagai camilan kaum milenial.

Ada lagi, Fabian Budi Seputro, pemilik bisnis kuliner Sate Ratu dari Sleman, Yogyakarta yang mengenalkan kreasi Sate Kanak. Menu ini, kata Fabian dikreasikan dengan proses marinasi selama 3 jam dan pembakarannya dilakukan dengan yang unik sehingga pembakarannya dagingnya merata.

Terakhir, Gozali yang merupakan pemilik katering asal Balikpapan, Kalimantan Timur yang menyuguhkan sajian Nasi Goreng Borneo. Tak sekadar nasi goreng biasa, menu kreasi ini menghadirkan nasi goreng dengan kepiting dan telur kepiting yang merupakan salah satu potensi utama daerah Gozali.

Dia juga mengungkapkan menu buatanannya itu menggunakan mandai, olahan dari kulit cempedak yang menjadi salah satu bahan makanan khas Kalimantan. Ditambah sambal khusus yang disebut mutiara lantaran menggunakan cabai dengan bentukan jeli-jeli kecil, layaknya mutiara.

Ketiga kreasi untuk makanan soto, sate, dan nasi goreng itu merupakan pemenang dari kompetisi bertajuk Ngulik Rasa, sebuah kompetisi menciptakan menu fusion food yang diselenggarakan oleh Unilever Food Solutions (UFS).

Managing Director UFS Joy Tarigan mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan kreativitas para pebisnis kuliner dalam negeri untuk menghadirkan menu makanan yang tak itu-itu saja, “Kami ingin mereka [pebisnis kuliner] menciptakan fusion food untuk memberi warna baru dalam industri kuliner Indonesia serta memenuhi kebutuhan dan konsumen milenial,” katanya.

Pasar Milenial

Chef Yuda Bustara mengungkapkan para pelaku di industri kuliner dalam negeri perlu bertransformasi dalam menyajikan menu makanan di tengah perkembangan era digital dan banyaknya penduduk di usia generasi milenial.

Hal tersebut, dinilainya sangat berpengaruh karena generasi ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Yuda menyebut beberapa karakteristik generasi ini dalam konteks kuliner misalnya menyukai penyajian makanan yang menarik atau istilah kekiniannya instagramable, harga yang tetap terjangkau, berbasis teknologi, akses yang mudah, dan menu makanan sehat.

“Pasar milenial sendiri itu cukup menantang soalnya mereka selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Jadi kita sebagai chef atau pebisnis kuliner harus pintar berinovasi dalam menciptakan rasa dan menu baru,” katanya.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Chef Profesional Indonesia Bambang Nurianto mengungkapkan fusion food menjadi salah satu cara untuk menarik perhatian kalangan milenial. Percampuran menu makanan dalam dan luar negeri bisa menjadi jurus jitu menggaet mereka.

Bambang mencontohkan, menu rendang khas Indonesia yang bisa dipadukan dengan berbagai menu lain dari luar negeri seperti sushi, pizza, atau bahkan burger. Langkah ini akan menjadi strategi yang menarik bagi generasi milenial.

“Kuliner itu sekarang tentang inovasi. Jadi yang diasah bukan hanya keterampilan dapurnya saja, tapi kreativitasnya juga mesti diasah supaya punya banyak ide-ide menu yang cocok dengan pasar saat ini. Nanti berapa tahun lagi, beda lagi minatnya, ya kreasi lagi,” ujarnya.

Dia berharap kreasi menu makanan lokal ini tak hanya bisa dinikmati oleh masyarakat dalam negeri, tetapi tembus hingga pasar internasional, “Ada banyak sekali menu kita [khas Indonesia] yang berpotensi go international. Makanya, ayo bareng-bareng kita kembangkan terus industri kuliner Indonesia,” tandasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kuliner

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top