Kuliner Pasar Santa yang Tak Lekang oleh Waktu

Kuliner Pasar Santa sempat populer di kalangan anak muda di Jakarta. Namun, pamornya surut setelah jumlah penyewa kios menyusut akibat kenaikan harga sewa. Para pedagang eksisting saat ini pun tidak menyerah dengan sepinya pasar, ini kisah nasib mereka kini
Surya Rianto
Surya Rianto - Bisnis.com 08 November 2019  |  16:06 WIB
Kuliner Pasar Santa yang Tak Lekang oleh Waktu
Pusat kuliner Pasar Santa, Jakarta Selatan, yang berjuang di tengah penurunan pamornya. - Oliv Grenisia

Bisnis.com, JAKARTA - Kuliner Pasar Santa sempat menjadi bahan obrolan banyak orang pada 2014 ketika banyak komunitas yang berkumpul di pasar modern tersebut. Kini, pamor Pasar Santa meredup, tetapi para penjaja makanan di sana tidak menyerah. Apalagi, era transportasi daring mampu membuat mereka bertahan di tengah pasar yang kian sepi.

Jika melihat Google Trends sejak 2013, topik Pasar Santa mulai populer pada September 2014. Dari rata-rata popularitas Pasar Santa di mesin pencari cuma 1, tiba-tiba menanjak menjadi 14. Jumlah itu terus meningkat hingga puncaknya pada Februari 2015. Popularitas Pasar Santa di mesin pencari tembus hingga 100.

Namun, popularitas Pasar Santa turun hingga 28 pada Juni 2015. Surut sesaat, nama Pasar Santa kembali mencuat pada Juli 2015 ketika popularitasnya di mesin pencari sempat tembus 60. Setelah itu, popularitas Pasar Santa di mesin pencari hanya berada sekitar 6-10.

Pasar Santa

Lantai 2 Pasar Santa adalah pusat kuliner dan komunitas yang sempat ramai digandrungi pada 2014. / Oliv Grenisia

Penurunan popularitas Pasar Santa bisa jadi disebabkan oleh naiknya Harga sewa tempat yang heboh pada 2015. Konon, gara-gara kenaikan sewa tempat, beberapa komunitas memilih cabut dari sana. Nah, pada periode yang sama, popularitas Pasar Santa di mesin pencari Google juga menurun drastis. 

Kuliner Pasar Santa dan Kondisinya Saat Ini

Bisnis.com pun mencoba berkunjung ke Pasar Santa di Jakarta Selatan saat makan siang di hari kerja pada Rabu (06/11/2019). Secara keseluruhan, tidak ada perubahan yang berarti dari segi interior Pasar Santa dibandingkan ketika namanya sedang mencuat pada 2014.

Perbedaannya, kios di lantai 2 yang merupakan pusat kuliner lebih banyak yang kosong ketimbang terisi. Namun, bukan berarti Pasar Santa kosong melompong. Bisa dikatakan masih ada sekitar 1/3 tempat terisi saat makan siang tersebut.

Pasar Santa

Suasana lantai 2 Pasar Santa yang terdiri dari banyak kios kuliner, hobi, dan komunitas. / Oliv Grenisia

Berhubung kunjungan bertajuk makan siang, salah satu personel Bisnis.com membeli makanan salmon dan wagyu mentai dengan harga di bawah Rp50.000 bernama Sabisabi Jakarta.

Penjaga yang juga tukang masak di kedai itu menceritakan dirinya mulai berjualan sejak awal 2018.

"Selama jualan di sini, pengunjung yang datang bisa dibilang sedikit. Paling ramainya kalau lagi sore pas akhir pekan saja," ujarnya.

Meskipun begitu, dia mengaku masih mendapatkan order dari platform transportasi daring.

"Paling ramainya dengan Gofood dan Grabfood sih, terutama saat hari kerja," ujarnya.

Kuliner Pasar Santa

Sabisabi Jakarta, salah satu kuliner yang tersedia di Pasar Santa. Harga Wagyu / Salmon Mentai + nasi masih di bawah Rp50.000. / Oliv Grenisia

Agresivitas transportasi daring dalam layanan antar makanan seolah menjadi pelepas dahaga para penjaja di Pasar Santa yang mencatatkan penurunan pengunjung.

Jika dilihat, hampir semua kedai makanan di sana juga sudah menerima layanan pembayaran menggunakan dompet digital seperti, Gopay, OVO, dan DANA.

Mencari Cemilan dan Beragam Makanan

Sementara itu, turunnya pamor Pasar Santa tampaknya tidak memudarkan kesan pusat kuliner yang beragam di sana. Apalagi, rata-rata harga makanan di Pasar Santa itu di bawah Rp50.000 sehingga yang ingin mentraktir kekasih bisa membawa uang Rp100.000 untuk makan berdua.

Namun, beragamnya makanan di sana terkadang membuat rasa ingin menyicipi semuanya. Untuk itu, bisa jadi uang Rp100.000 tidak cukup untuk berdua.

Awak Bisnis.com yang ikut berkunjung ke Pasar Santa mengakui dirinya harus berputar sebanyak tujuh kali agar bisa menentukan makan apa saat itu.

"Ada satu yang menarik, yakni Bakmi Bakar," ujarnya dengan percaya diri.

Kuliner Pasar Santa

Mie Samyang Bakar yang disajikan dengan potongan ayam fillet kecil-kecil dan pangsit goreng. / Oliv Grenisia

Dia langsung memesan makan siang Bakmi Bakar tersebut. Dengan harga Rp30.000, dia mendapatkan sepiring mie Samyang [merek mie instan asal korea Selatan] yang pedas dengan potongan ayam fillet kecil-kecil dan terbungkus oleh daun pisang.

Mencoba menu yang berbeda, awak Bisnis.com lainnya memilih makanan daging asap khas Kupang yang disajikan dengan sambal matah ala Bali.

"Rasa Se'i Sapinya itu teksturnya enggak kayak daging sapi, tapi itu daging sapi. Terus aroma sambalnya itu lumayan kuat,  Secara keseluruhan enak sih," jelasnya.

Kuliner pasar santa

Kuliner daging asap khas Kupang dengan sambal matah yang harganya masih di bawah Rp50.000. / Oliv Grenisia

Terakhir, awak Bisnis.com lainnya memesan rice bowl ala Jepang yang berisi dengan daging sapi iris, telur, dan bawang bombay senilai Rp35.000-an.

Tak hanya makanan berat, Tim Bisnis.com juga menyicipi burger bermerek Burger Brader dari kios di Pasar Santa. Sebenarnya, tidak ada spesial dari segi rasanya, tetapi harganya mungkin cukup terjangkau.

Kuliner Pasar Santa

Rice Bowl khas Jepang dengan irisan daging, telur, dan bawang bombay senilai Rp35.000. / Oliv Grenisia

Harga cheese burger dengan daging sapi olahan sendiri dipatok Rp17.000. Lalu, double cheese burger dengan dua daging sapi dipatok Rp25.000. Padahal, roti lapis itu isinya lumayan padat. Sekali makan, mungkin bisa setara dengan porsi 3/4 makan siang orang biasa.

Siap berburu kuliner lagi di Pasar Santa secara langsung?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komunitas, kuliner

Editor : Surya Rianto
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top