Dirintis Pendatang dari Jabar, Mie Celor Haji Syafei Jadi Favorit di Palembang

Meski populer dengan julukan Kota Pempek, Palembang, Sumatra Selatan, sebenarnya punya penganan khas lain yang juga berbahan seafood, yakni Mie Celor.
Ropesta Sitorus, Rivki Maulana
Ropesta Sitorus, Rivki Maulana - Bisnis.com 15 September 2019  |  17:59 WIB
Dirintis Pendatang dari Jabar, Mie Celor Haji Syafei Jadi Favorit di Palembang
Mie Celor Haji Syafei : Favorit di Palembang - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, PALEMBANG – Meski populer dengan julukan Kota Pempek, Palembang, Sumatra Selatan, sebenarnya punya penganan khas lain yang juga berbahan seafood, yakni Mie Celor.

Kedai mie celor yang paling tenar adalah Mie Celor H.M. Syafei Z 26 Ilir.

Mesin pencarian Google menempatkan kedai ini di deretan teratas serta mendapat bintang 4 dan 254 ulasan di TripAdvisor.

Rekomendasi lisan juga menyebutkan nama Mie Celor Haji Syafei sebagai salah satu tempat yang patut dikunjungi jika ingin wisata kuliner di Palembang.

Saat melintasi Palembang, tim Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019 Bisnis Indonesia menyempatkan menjajal kedai mie di jalan KH. Ahmad Dahlan tersebut pada Jumat (13/9/2019).

Tak sulit menemukan lokasi Mie Celor Haji Syafei yang berada di sekitar pasar tradisional Pasar 26 Palembang, terpaut 2,4 km dari Jembatan Ampera atau 8 menit berkendara.

Dari luar, warung mie tersebut tidak terlalu menonjol. Ruangannya terdiri dari dua ruko yang disatukan. Saat kami tiba sekitar 09.00 WIB WIB, warung itu tidak terlalu ramai. Hanya ada sekitar lima meja yang terisi.

Menurut pengakuan salah satu pelayanya, warung tersebut bisa menjual sampai ratusan porsi mie, terutama saat hari-hari besar dan hari libur.

Ketenarannya membawa sejumlah nama beken berkunjung ke warung tersebut. Bahkan, kedai mie celor Haji Syafei ini juga disebut-sebut menjadi langganan sejumlah tokoh nasional seperti Presiden Megawati Soekarnoputri, serta kakak beradik Tantowi dan Helmy Yahya.

Nama tenar tersebut tentu saja bukan didapatkan dalam sekejap. Resep yang khas dan konsistensi rasa menjadi salah satu pendorong yang membuat pembeli mau datang terus-menerus. Meski banyak kedai mie celor yang bermunculan, usaha mie celor Syafei Z 26 Ilir terus bertahan dan berkembang.

Warung mie tersebut telah ada sekitar 40 tahun yang dirintis oleh Syafei bersama istrinya. Uniknya, keduanya bukanlah orang Palembang asli tapi pendatang dari Jawa Barat.

“Nyai [nenek] saya aslinya orang Cirebon, kakek orang Bogor, tapi mereka sudah lama sekali tinggal di sini. Mereka suka mie celor khas Palembang dan coba-coba bikin, lalu dijual dengan cara dipikul keliling-keliling,” kata Nadila, 22 tahun, cucu atau generasi ketiga Mie Celor Haji Syafei.

Berawal dari cara tersebut, usaha mie celor Syafei semakin berkembang. Secara bertahap, mereka mulai membuka kedai pertama di Jalan Mujahidin. Kemudian, 15 tahun lalu, lahirlah cabang keduanya di Jalan Ahmad Dahlan dan terakhir cabang terbaru di Jalan Merdeka.

“Tak hanya penduduk Palembang, banyak juga pendatang yang datang ke sini dari luar kota atau luar negeri seperti dari Korea, Australia dan Singapura. Paling ramai saat hari raya dan hari Minggu. Kalau hari biasa, jam sibuk itu biasanya jam sarapan dan sore hari,” katanya.

Sepeninggalan Syafei, kini 8 anaknya terjun mengelola bisnis kedai mie celor tersebut, salah satunya Abdul Aziz, 51 tahun.

Menurut Abdul Aziz, resep khas Mie Celor mereka terletak pada kuah santan yang kental dan kaya cita rasa udang.

“Perbedaan mie celor kami yakni pada kuahnya,” kata Aziz.

Untuk membuat kuah mie celor yang lezat, mereka menggunakan kaldu dari udang segar serta potongan udang.

Selain itu, mereka juga menggunakan mie telur yang segar yang dipasok dari produsen langganan. Mie kuning yang berukuran lebih besar dan lurus tidak keriting itu diantar setiap pagi hari dan biasanya akan dihabiskan pada hari yang sama.

Makanan utama yang disajikan di tiga kedai tersebut adalah mie celor.

Harga normal untuk sepiring mie celor dibanderol Rp22.000 sedangkan yang special dengan tambahan udang dan telur dibanderol Rp60.000 per porsi.

Sebagai tambahan variannya, tiap kedai memiliki satu menu tambahan, misalnya laksan alias pempek berkuah yang dibanderol Rp15.000 per porsi.

“Ini pempek lenjer yang direbus bersama kuah santan pedas. Untuk pempeknya kami pakai ikan gabus,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
palembang, kuliner, Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top