Sepetak Kenangan China Benteng di Panongan

Dua balok sekira tiga meter tampak menjulang dari depan sebuah rumah kayu di Kampung Cipari, Kabupaten Tangerang. Balok berwana cokelat legam juga menyambung dengan balok-baok lain yang melintang, membentuk dua buah jendela tanpa tirai. 
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  14:32 WIB
Sepetak Kenangan China Benteng di Panongan
Rumah Kebaya tampak dari depan. Rumah ini menjadi salah satu bangunan khas Cina Benteng yang tersisa di Kecamatan Panongan. - Rivki Maulana

Bisnis.com, TANGERANG—Dua balok sekira tiga meter tampak menjulang dari depan sebuah rumah kayu di Kampung Cipari, Kabupaten Tangerang. Balok berwana cokelat legam juga menyambung dengan balok-baok lain yang melintang, membentuk dua buah jendela tanpa tirai. 

Pintu dan jendela itu bagian dari fasad bangunan rumah kebaya, rumah tinggal masyarakat Cina Benteng. Lokasi rumah ini tak terpaut jauh dari Perumahan Citra Raya milik Grup Ciputra. Rumah kebaya itu merupakan satu bangunan bersejarah yang berdiri di sebuah kompleks bernama Rumah Kayu Goen (RKG).

Di atas lahan seluas 6.000 meter persegi, rumah kebaya ditemani delapan bangunan lainnya, berupa pondokan, rumah dua lantai, dan kandang sapi yang disulap menjadi paseban. Semua bangunan terbuat dari kayu yang tampak kokoh dan antik.

RKG didirikan oleh seorang pengusaha kayu bernama  Goenawan Widjaja pada 2005. Beberapa bangunan dia beli dari penduduk di sekitar Tangerang ; dibongkar kemudian diboyong ke Cipari yang secara admistratif berada di Kecamatan Panongan. Di tempat baru, bangunan kayu dirakit kembali.

Goenawan bercerita, ide membangun RKG bermula saat dia kelebihan uang, usai mengikuti pameran di Galeri Nasional, Jakarta. Dia mengungkapkan, saat itu mengantongi omzet Rp1 miliar, lebih dari sepuluh kali lipat dari modal yang dikeluarkan.

"Dulu tempat ini kebun pisang. Juli 2005 saya dapat rejeki nomplok. Saya mulai cari tempat buat padepokan," ujar Goenawan saat ditemui di RKG, Sabtu (24/8/2019).

Sepetak demi sepetak lahan dia beli. Satu demi satu bangunan juga dia tebus dari penduduk yang memintanya memboyong rupa-rupa bangunan lawas. Goenawan mengaku, dia tak pernah berburu barang. Semua yang ada di RKG merupakan aset yang ditawarkan kepadanya. 

Misalnya, Goenawan membeli kandang sapi dari seorang penduduk di Tanjung Burung, sebuah desa yang tak jauh dari Bandara Soekarno Hatta. Kini, kandang itu tak lagi dihuni ternak. Kandang diisi meja panjang tempat bersantap dan bercengkerama. 

Bagi Goenawan, rumah kebaya dan aneka bangunan kayu yang ada di RKG  merupakan bagian dari sejarah kebudayaan Cina Benteng yang jarang dilirik orang. "Ini budaya yang terbaikan. Orang cuman lihat Cina kota, gak lihat Cina udik. Cina udik ini kelasnya paling bawah, tapi pergaulan dan asimilasinya paling intim," imbuhnya.

Bukti dari asimulasi itu bisa dilihat hingga saat ini. Orang Cina Benteng tidak berbicara dalam Bahasa Cina. Di daerah perkotaan Tangerang, akses orang Cina Benteng seperti Betawi. Bergeser sedikit ke Legok atau Teluk Naga, logatnya serupa orang Sunda.

Berdasarkan catatan beberapa sumber, kedatangan orang-orang Cina ke Batavia berlangsung pada abad 17. Hal ini setidaknya bisa dilihat dari Klenteng Boen Tek Bio yang berdiri pada 1684. Kitab Tina Layang Parahyang (Cerita dari Parahyangan) bahkan menyebut, keberadaan orang Cina di Tangerang dan Batavia sudah ada sejak 1407 atau awal abad 15.

Saat ini, Rumah Kayu Goen bisa dikunjungi oleh siapa saja. Namun, untuk tujuan tertentu, pengunjung perlu merogoh kocek. Ongkos tersebut akan dikutip untuk kepentingan-kepentingan pengunjung yang bersifat komersial. 

Misalnya, untuk keperluan pemotretan pranikah, Goenawan membanderol ongkos Rp1,5 juta untuk sesi dari pagi hingga sore. Selain pemotretan, Rumah Kayu Goen juga sempat menjadi lokasi syuting tiga film, salah satunya film The Last Barongsai besutan Rano Karno. Goenawan menyebut, ongkos dikutip semata untuk membayar karyawan yang menjaga kompleks itu. Untuk tujuan edukasi, Goenawan biasanya enggan mengutip tarif. 

Dia memang tak berniat menjadikan RKG sebagai tempat komersil walaupun itu tak berarti sepenuhnya digratiskan. Goenawan ingin, komplek yang dia bangun bisa menjadi warisan bagi generasi mendatang agar artefak kebudayaan Cina Benteng lestari. 

Kendati punya nilai sejarah, Goenawan enggan menyulap RKG sebagai museum maupun cagar budaya. Pemerintah Kabupaten Tangerang memang sempat kepincut menjadikan RKG. Sang pemilik tak meluluskan keinginan itu. "Saya bilang gak usah deh. Saya juga gak berani kalau dibuat museum. Saya kan tukang kayu, biarlah apa yang bisa saya bikin, bisa dinikmati bersama," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top