Dukung Pariwisata, Setelah Satu Dekade, KRI Dewaruci Kembali Berlabuh di Teluk Manado

KRI Dewaruci, namanya melegenda tak hanya di kalangan pelaut, tapi juga bagi masyarakat awam. Kemasyhurannya mengelilingi dunia, menarik minat untuk lebih mengenalnya.
Lukas Hendra TM
Lukas Hendra TM - Bisnis.com 27 Juli 2019  |  01:27 WIB
Dukung Pariwisata, Setelah Satu Dekade, KRI Dewaruci Kembali Berlabuh di Teluk Manado
KRI Dewaruci berlabuh di Teluk Manado untuk memeriahkan Manado Fiesta 2019. Pada 2009, kapal perang ini juga berlabuh di Teluk Manado saat ajang Sail Bunaken. - Bisnis/Lukas Hendra.

Bisnis.com, MANADO – Siapa tak kenal dengan KRI Dewaruci. Namanya melegenda tak hanya di kalangan pelaut, tetapi juga bagi masyarakat awam. Kemasyhurannya mengelilingi dunia, menarik minat untuk lebih mengenalnya.

Kali ini, Manado Fiesta 2019 boleh jadi yang istimewa. Kapal perang ini, berlabuh di Teluk Manado hingga Minggu (28/7/2019) sebelum bertolak menuju Bitung. Satu dekade lalu, KRI Dewaruci pernah merapat di Teluk Manado saat ajang Sail Bunaken. 

                                                       KRI Dewaruci di perairan Teluk Manado – Foto-foto Bisnis/Lukas Hendra

Komandan KRI Dewaruci Mayor Laut Hastaria Dwi Prakoso berfoto dengan album komandan pendahulunya.

Waktu telah lewat tengah hari, saat saya dan rombongan menggunakan perahu karet milik TNI Angkatan Laut menuju KRI Dewaruci. Maklum, tipografi dasar laut Teluk Manado tak memungkinkan untuk kapal perang itu bersandar di pinggiran. 

                         KRI Dewa Ruci dibuat pada 1952 di galangan H.C. Stulchen & Sohn Hamburg.

Tak sampai 10 menit dengan kapal karet dengan mesin tempel 2x85PK itu merapat di sisi kanan lambung kapal. Setibanya emasuki kapal, aura kapal legenda ini menyambut. Usai menaiki anak tangga menuju gladak, saya pun dibuat terkagum-kagum. 

                                                     Ornamen Toraja menghiasi KRI Dewaruci

Geladak kapal perang ini dari kayu. Tiang-tiang layarnya dihiasi ukiran-ukiran khas Indonesia. Jumlahnya ada tiga. Tiang di dekat haluan (tiang Bima), dihiasi ukuran khas Toraja. Di tengahnya (tiang Arjuna) dihiasi ukiran khas Jawa. Sementara di dekat buritan (tiang Yudhistira) berhiaskan ukiran khas Papua. 

Tak hanya di tiang layar. Di sisi luar ruang kontrol pun dihiasi ukiran-ukiran khas Jepara. Uniknya, kemudi masih manual dengan roda besar baik di depan maupun kemudi cadangan yang berada di buritan kapal.

                                       

                                                                                 Ornamen Papua di KRI Dewaruci

Komandan KRI Dewaruci Mayor Laut Hastaria Dwi Prakoso mengungkapkan saking manualnya, kemudi tersebut tidak disambung dengan sistem hidrolik layaknya di kapal-kapal era sekarang. Melainkan masih menggunakan kawat baja yang dipilin

Perlu 6 hari perjalanan dari Surabaya menuju Manado. Rute ini bukan jalur mudah memang, bahkan untuk kapal canggih sekalipun. Pasalnya, ada perairan Masalembo yang harus dilewati.

                                                          Ornamen di geladak KRI Dewaruci

“Sesuai dengan perkiraan BMKG memang. Warnanya oranye. Sehingga kemarin sempat memutar ke sisi utara perairan Masalembo. Lebih dekat ke Kalimantan,” katanya saat ditemui di ruangnya di KRI Dewaruci, Jumat (26/7/2019). 

Namun, KRI Dewaruci mampu melewatinya dan akhirnya merapat di Teluk Manado. Maklum saja, kapal perang ini sudah terbiasa melewati Samudra Pasifik ataupun Samudra Atlantik.

                  Beberapa ornamen di ruang eksekutif KRI Dewaruci

                                   Penampakan kemudi KRI Dewa Ruci yang masih manual

Letda Laut Eriek Sugianto mengungkapkan kapal ini didesain seperti bebek. Bisa miring hingga 45 derajat dan kembali tegak seperti semula. Bahkan, lanjutnya, kapal perang ini juga pernah menghadapi angin tifun saat perjalanan dari Tokyo menuju Naha. Namun, kapal terpaksa bersembunyi sebelum tiba di Naha karena taifun yang begitu kencang. 

“Saat perjalanan kami lihat ada teluk dan akhirnya berlindung di situ. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan, tetapi ternyata masih ada ekor tifun,” katanya menerangkan.

Dukung Pariwisata

Mayor Laut Hastaria Dwi Prakoso menambahkan KRI Dewaruci memang menjadi kapal perang untuk latihan para taruna. Namun, kapal ini juga berpartisipasi di berbagai event pariwisata.

“Ini kedua kami di Teluk Manado. Pada 2009, saat Sail Bunaken kami juga kesini [Teluk Manado,” ujarnya. 

Tak hanya Manado. Saat Sail Tomini 2015, KRI Dewaruci juga turut ambil bagian. Keunikan dari sisi desain dan namanya yang melegenda memang memikat masyarakat sehingga tak ayal akan menarik perhatian di ajang-ajang pariwisata.

KRI Dewaruci dibuat pada 1952 di galangan H.C. Stulchen & Sohn di Hamburg, Jerman. Pada 24 Januari 1953, kapal tersebut dibawa berlayar oleh Angkatan Laut Republik Indonesia di bawah pimpinan Kapten Kapal A.F.H Roosenow.

Pada 1 Oktober 1953, KRI Dewaruci masuk dalam jajaran Armada RI dan diresmikan sebagai kapal latih bagi Taruna Akademi Angkatan Laut yang berbasis di Surabaya. 

Kapal ini memiliki 16 layar dengan luas layar 1.091 meter persegi yang mampu membawa kapal ke kecepatan maksimum 9 knot. Namun, kapal juga dibekali mesin MWM TBD 440-6K yang memiliki kecepatan maksimum 10,5 knot.

Nostalgia Laut Karibia

Laksamana Pertama TNI AL Iwan Isnurwanto menceritakan nostalgianya bersama KRI Dewaruci. Dia memang biasa membawa kapal selam, tetapi sempat bergabung dengan tim KRI Dewaruci sebagai Perwira Pelaksana (Palaksa).

“Kalau bercerita KRI Dewaruci, saya merinding,” katanya.

Ada yang bilang, lanjutnya, magic box (kotak magis). Bukan tanpa sebab, karena kapal itu bisa menampung ratusan orang. Bahkan, acap kali banyak yang heran saat ratusan orang keluar dari kapal ukuran sekecil itu.

Dia mencontohkan di perayaan ulang tahun Amerika Serikat misalnya. Kedatangan KRI Dewaruci bisa dibilang ikonik. Selain karena datang dari jauh, lanjutnya,  juga terkenal karena orangnya ramah.

Hanya saja, pengalaman tak terlupakannya adalah saat berada di Laut Karibia. Sampai-sampai, dia membuat puisi berkaitan dengan KRI Dewaruci.

Berikut petikannya:

DEWARUCI SAKTI

Diantara hembusan angina nan menderu

Dan diantara gemuruh gulungan ombak yang membahara

Kau Nampak gagah perkasa

Membelah tujuh samudera

 

Di tengah-tengah karibmu kapal-kapal tiang tinggi

Dari seantero penjuru dunia

Kau Nampak anggun mempesona

Dengan senyum cerlang pikatmu dan celoteh ceriahmu

 

Disanalah….

Diantara regangan tali temalimu

Diantara kembangan layar-layarmu

Dan juga di kedua sisi pundakmu

Terpanggul sebuah asa

Untuk satu tujuan mulia

 

Hembusan nafas harummu

Pancarkan bisa damaimu

Dan kibarkan merah putihmu

 

Indonesia Tercinta

 

Laut Karibia

24 Juli 2000

 

Operation Sail 2000

 

---------

Bahkan, Sang Legenda ini juga memiliki lagu sendiri, karya almarhum Gombloh, musisi asal Surabaya, Jawa Timur.

DEWARUCI SAKTI

Di deru angin timur

Di deru ombak raya

Kau… Petualang Samudera

Kau… Primadona Bangsa

Aku yakin kau tulang punggung

Dan kunyanyikan padamu negeri 

Berbagai bangsa tlah kau singgahi

Dengan kibar panjimu

Berbagai suku tlak kau kenali

Dengan ramah dan senyum manismu

Seanggun  Dewaruci

Dewaruci yang sakti

Bergelut dengan ombak

Dan tak kenal menyerah

Demi nusa dan bangsa

Di birunya samudra

Di pekik elang raja

Kau…Petualang Samudra

Kau…Sebagai duta bangsa

Aku berbangga pada dirimu

Dan kupersembahkan syair nadiku

Berbagai bangsa tlah kau singgahi

Dengan kibar panjimu

Berbagai suku tlah kau kenali

Dengan ramah dan senyum manismu

Seanggun Dewaruci

Dewaruci yang suci

Ku bangga akan prestasimu

Dewaruci yang sakti

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manado, pariwisata

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top