Simbiosis Mutualisme Host dan Pengguna Airbnb

Bagas Widi, seorang pegawai negeri sipil, menyewakan apartemen studio miliknya di Kemayoran, Jakarta.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  13:49 WIB
Simbiosis Mutualisme Host dan Pengguna Airbnb
Airbnb - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Bagas Widi, seorang pegawai negeri sipil (PNS), menyewakan apartemen studio miliknya di Kemayoran, Jakarta.

Dia bergabung menjadi host di Airbnb, aplikasi sewa penginapan yang menghubungkan pemilik properti dengan konsumen.

“Aplikasi Airbnb ini user friendly buat saya, pendaftaran sangat mudah dan tidak ada fee,” katanya.

Menurutnya proses untuk bekerja sama dengan Airbnb sangat simpel, persyaratan administratif mudah untuk disediakan, dan perlindungan untuk host dan customer cukup baik.

“Kita juga bisa mengatur harga sewa penginapan sendiri, pihak Airbnb hanya mengambil sedikit untuk biaya admin,” ujar Bagas.

Dia sendiri tidak tahu berapa persen potongan harga yang dipotong oleh pihak Airbnb karena tiap bulan yang diakumulasi adalah pendapatan bersih.

Model kerja sama dengan Airbnb semua berbasis online. Walau begitu, Bagas mengatakan bahwa pihak Airbnb memiliki penalti yang sangat serius ketika host tidak memberikan pelayanan yang maksimal.

“Jadi kalau ada laporan kita menampilkan informasi yang tidak sesuai dengan kenyataannya, pihak Airbnb biasanya sangat ketat penaltinya,” katanya.

Dengan kerjasama seperti ini, Bagas menjadi lebih yakin dalam menyewakan propertinya. Apalagi, Airbnb selalu mentransfer pendapatannya dengan tepat waktu dan sesuai dengan kesepakatan.

Sebagai pemilik properti, dia menilai sistem yang dijalankan Airbnb membuka potensi bisnis yang besar. Bagas sendiri akhirnya menyewakan 2 apartemen studio miliknya.

Menurutnya apartemen lebih mudah diurus.

“Pendapatannya juga lebih menguntungkan dibandingkan dengan sewa bulanan, biasanya bisa dapat 2 kali lipatnya,” ujarnya. 

Pengalaman yang didapatnya selama menjadi host juga beragam. Apalagi tamu yang menginap di apartemennya tidak selalu sama. Terkadang ada orang yang baik, namun ada juga yang menyebalkan.

“Ya, kami sebagai host menyewakan properti tentu standarnya tidak sama dengan hotel, tetapi ada saja konsumen yang merasa pemesanan di Airbnb itu sama dengan hotel sehingga minta macam-macam,” katanya.

Namun, sampai saat ini persoalan-persoalan demikian tidak menyurutkan semangatnya dalam berbisnis penginapan via Airbnb.

Beberapa waktu lalu Helen Semmila Ginting (28), karyawan swasta di Jakarta melakukan perjalanan keliling Eropa bersama suaminya.

Selama menjelajahi berbagai negara tersebut, Helen memilih untuk menggunakan layanan akomodasi melalui Airbnb.

“Alasannya soal experience, sengaja tidak memilih tinggal di hotel yang sangat touristy, tetapi ingin merasakan tinggal di rumah orang lokal,” kata Helen.

Untuk memilih jenis penginapan yang akan ditinggali di suatu wilayah, Helen lebih memilih private room sehingga sangat jarang berbagi rumah dengan pemilik properti.

Dia dan pasangan juga cenderung mencari penginapan yang melekat dengan budaya lokal misalnya dari segi desain interior, toilet, dapur dan sebagainya.

Soal host  di Airbnb juga Helen tidak mau asal pilih. “Kami selalu mencari properti yang dikelola oleh superhost, mereka ada host yang berpengalaman dengan rating tinggi di Airbnb, minimal mereka sangat responsif,” kata Helen lagi.

Sejauh ini, Helen selalu bertemu dengan host Airbnb yang sangat baik. “Mereka bahkan mau menuggu kedatangan kami yang sempat terlambat, menjemput di stasiun, membelikan sarapan, memesankan taksi, bahkan membersihkan ruangan ketika diminta,” ujarnya.

Selama menggunakan aplikasi Airbnb untuk memenuhi akomodasi perjalanannya, Helen memperoleh penginapan yang sesuai dengan deksripsi dan testimoni pelangan lainnya.

“Semua sesuai dengan foto, tidak ada yang menipu,” katanya.

Menurut Helen dan suaminya, harga di Airbnb lebih kompetitif dibandingkan dengan hotel. Cara pembayaran melalui kartu kredit juga aman. “Kekurangannya installment maksimal hanya 2 kali,” katanya.

Dalam kunjungannya ke Praha, Roma, Jerman, dan Seoul, semua penginapan yang didapatkannya melalui layanan Airbnb termasuk memuaskan. Walaupun ada beberapa kekurangan misalnya soal kasur atau tidak ada lift, hal tersebut masih dapat diatasi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hotel, pariwisata, penginapan

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top