Berburu Kain Pinawetengan yang Sarat Tradisi di Minahasa

Musim liburan segera berakhir. Bagi Anda yang tengah berlibur sudahkah mempersiapkan daftar oleh-oleh untuk keluarga dan rekan kerja? Bila sedang berlibur di Sulawesi Utara, tak ada salahnya mampir ke Galeri Pinawetengan.
Lukas Hendra TM
Lukas Hendra TM - Bisnis.com 07 Juni 2019  |  14:20 WIB
Berburu Kain Pinawetengan yang Sarat Tradisi di Minahasa
Suasana Pa'Dior atau Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara di Tompaso, Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Bisnis - Lukas Hendra

Bisnis.com, MINAHASA – Musim liburan segera berakhir. Bagi Anda yang tengah berlibur sudahkah mempersiapkan daftar oleh-oleh untuk keluarga dan rekan kerja? Bila sedang berlibur di Sulawesi Utara, tak ada salahnya mampir ke Galeri Pinawetengan.

Galeri ini berlokasi di kawasan Museum Pinawetengan di Tompaso, Kabupaten Minahasa. Sekitar dua setengah jam berkendara dari Manado, bila jalanan tidak macet. Di aplikasi google maps, lebih dikenal sebagai Pa’Dior atau Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara.

Lokasinya cukup mudah. Usai melewati Kota Tomohon, arahkan kendaraan menuju Langowan. Memasuki daerah Kawangkoan, arahkan kendaraan ke kanan memasuki Jalan Pinabetengan. Pa’Dior ini tepat berada di sisi kiri usai melewati pintu gerbang pacuan kuda.

Di loket karcis, cukup merogoh kocek Rp20.000 per orang yang bisa ditukarkan untuk minuman sembari berkeliling kawasan ini. Lokasinya cukup asri dengan banyaknya tanaman dan seni arsitektur yang memukau. Tak ayal, banyak pengunjung berfoto untuk menikmati kawasan ini.

Di kawasan ini, selain Museum Pinawetengan, juga terdapat Galeri Pinawetengan. Museum tersebut berisi berbagai koleksi antara lain keramik, mesin jahit kuno, sepeda kumbang jaman penjajahan, berbagai alat musik tradisioal Minahasa, pakaian adat dan pakaian tari Kabasaran.

Sementara itu di Galeri Pinawetengan, Anda bisa membawa pulang oleh-oleh baik Kain Pinawetengan maupun baju dengan motif Pinawetengan. Di dalam galeri Anda akan menjumpai motif pertama yang berada di dalam kotak kaca yang menjadi cikal bakal lahirnya Kain Pinawetengan.

Motif itu menceritakan tentang peninggalan Watu Pinawetengan yang berada tak jauh dari kawasan Pa’Dior ini. Watu Pinawetengan dianggap batu suci bagi masyarakat Minahasa yang berada di perbukitan Tonderukan. Di sinilah, leluhur Minahasa duduk berunding dan bermusyawarah.

Selain kain cap, juga terdapat kain tenun. Di dalam kawasan ini, Anda juga bisa melihat langsung proses pengerjaan kain tersebut yang masih dilakukan manual alias menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Maka wajar, bila harga kain tenun mencapai jutaan rupiah. Jauh lebih mahal ketimbang kain cap yang cukup merogoh kocek ratusan ribu rupiah. Namun, jika dibandingkan dengan batik Jawa yang juga menggunakan proses ATBM, harga tersebut masih terbilang kompetitif, tidak berbeda jauh.

Saya sendiri memilih kain tenun ATBM Pinawetengan sebanyak dua biji dan hanya merogoh kocek sekitar Rp2,4 juta. Pertimbangannya, kain lebih awet dan warna seperti warna alam.

Namun, jika Anda tidak tertarik dengan kain, di galeri ini juga menjual baju baik blouse maupun kemeja jadi dengan motif khas Pinawetengan. Harga juga terbilang cukup kompetitif dengan harga ratusan ribu saja.

Untuk pengemasan, Anda tidak perlu khawatir. Setiap pembelian akan diletakkan di kotak unik bertuliskan Kain Pinawetengan. Lengkap dengan goody bag eksklusif yang juga bertuliskan Kain Pinawetengan.

Seperti belanja di butik eksklusif bukan? Oleh karena itu, tak ada salahnya membawa kain ini sebagai oleh-oleh khas Sulawesi Utara dan memperbanyak koleksi kain khas Nusantara. Selamat berlibur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wisata

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top