JELAJAH JAWA BALI 2019 : Mitos Paijo di Lumpur Lapindo

Pada 29 Mei 2019 Lumpur Lapindo genap sudah "berusia" 13 tahun. Selama itu pula, warga berjuang mengais rejeki di tengah derita kehilangan rumah hingga pekerjaan.
Tim Jelajah Lebaran Jawa-Bali
Tim Jelajah Lebaran Jawa-Bali - Bisnis.com 02 Juni 2019  |  14:18 WIB
JELAJAH JAWA BALI 2019 : Mitos Paijo di Lumpur Lapindo
Paijo jadi daya tarik khusus wisata Lapindo - Bisnis/Tim Jelajah Lebaran Jawa/Bali 2019

Bisnis.com,  SIDOARJO -- "Jo, Paijo, Paijo, Piajo," teriak Sarwiyanto dari jarak 5 kilometer semburan lumpur Lapindo sambil bertepuk tangan. Seketika, lumpur menyembur lebih deras dari sebelumnya.

Ya, jika Gunung Merapi identik dengan Mbah Marijan, Lumpur Lapindo dikaitkan dengan Mbah Paijo. Mitos Mbah Paijo dipercaya sebagai sosok gaib yang menjaga kawasan Lumpur Lapindo.

Sarwiyanto, warga terdampak Lumpur Lapindo, mengatakan dahulu masyarakat Sidoarjo meyakini kawasan sumur Lapindo sebagai kawasan angker. Sejak zaman Belanda, kawasam tersebut terlarang untuk dieksploitasi.

Warga meyakini setiap malam di kawasan tersebut sering ada suara-suara gaib dan menyebutnya sebagai Mbah Paijo. Ketika lumpur Lapindo menyembur, warga pun mengidentikkannya dengan Mbah Paijo sebagai mitos gaibnya.

Mitos Mbah Paijo di Lumpur Lapindo menjadi cerita yang cukup menjual untuk pelancong. Maklum, sejak Lapindo menyembur, warga yanh kehilangan rumah dan pekerjaan memanfaatkannya sebagai daya tarik wisata. Tidak terkecuali mitos Mbah Paijo.

Pelancong yang diajak mendekat ke area lumpur pun diperlihatkan bukti mitos tersebut. Setiap nama Mbah Paijo diucap dan sambil bertepuk tangan, lumpur muncul lebih besar.

"Besarnya lumpur bisa kayak erupsi Gunung Bromo," kata Sarwiyanto kepada Tim Jelajah Jawa Bali 2019, Minggu (2/6/2019).

Pada 29 Mei 2019 Lumpur Lapindo genap sudah "berusia" 13 tahun. Selama itu pula, warga berjuang mengais rejeki di tengah derita kehilangan rumah hingga pekerjaan.

Sarwiyanto salah satunya. Dia bekerja sebagai pemandu dan tukang ojek mengantar pelancong yang ingin berwisata di Lumpur Lapindo. Sekali tarik, dia bisa dibayar Rp50.000. Dalam sehari paling tidak Rp100.000 bisa dikantongi.

"Yang mau lihat wisata lumpur kebanyakan pengen lihat langsung," kata Sarwiyanto.

Tim Jelajah Jawa-Bali 2019 (Rayful Mudassir, Aziz Rahardyan, Mutiara Nabila, Wibi Pangestu Pratama, Ni Putu Eka Wiratmini)

Program Liputan Lebaran Jelajah Jawa-Bali 2019 ini didukung oleh:
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Pelabuhan Indonesia III (Persero), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT Suzuki Indomobil Sales, PT Telekomunikasi Selular, PT Astra International Tbk. - Isuzu Sales Operation, PT Mitra Pinasthika Mustika Rent, PT XL Axiata Tbk., PT Astra Toll Nusantara, Perum LPPNPI (Airnav Indonesia), PT Astra Honda Motor, PT Samsung Electronics Indonesia, dan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir.

Program Liputan Lebaran Jelajah Jawa-Bali 2019 ini didukung oleh:
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Pelabuhan Indonesia III (Persero), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT Suzuki Indomobil Sales, PT Telekomunikasi Selular, PT Astra International Tbk. - Isuzu Sales Operation, PT Mitra Pinasthika Mustika Rent, PT XL Axiata Tbk., PT Astra Toll Nusantara, Perum LPPNPI (Airnav Indonesia), PT Astra Honda Motor, PT Samsung Electronics Indonesia, dan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jelajah Jawa-Bali

Sumber : Jelajah Jawa-Bali 2019

Editor : Saeno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top