Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wisata Konservasi : Menyaksikan Penyu Hijau Bertelur di Pulau Pahat

Wisata konservasi bisa jadi merupakan salah satu pilihan menarik bagi para traveler. Selain bisa menikmati suasana alam, pelancong pun dapat melihat bagaimana hewan langka dan dilindungi berkembang biak.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 05 Mei 2019  |  13:27 WIB
Tukik, anak penyu yang dibudidayakan di Pulau Pahat - Istimewa
Tukik, anak penyu yang dibudidayakan di Pulau Pahat - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Wisata konservasi bisa jadi merupakan salah satu pilihan menarik bagi para traveler. Selain bisa menikmati suasana alam, pelancong pun dapat melihat bagaimana hewan langka dan dilindungi berkembang biak.

Salah satunya, pelancong dapat melihat dari dekat bagaiman konservasi penyu berlangsung di Pulau Pahat di Kabupaten  Anambas, Kepulauan Riau.

Pulau Pahat, menurut Kepala Departemen Humas SKK Migas Sumbagut Evy Yanti dalam keterangan tertulisnya merupakan salah satu dari 299 pulau yang dimiliki kabupaten Anambas.

"Untuk menuju Pulau Pahat, diperlukan perjalanan sekitar 45 menit dari Tarempa, ibu kota Kabupaten Kepulauan Anambas, dengan menggunakan boat," ujar Evy.

Melepas tukik ke tangah laut, salah satu aktivitas di Pulau Pahat/Istimewa

"Jangan lupa membawa kamera, makanan secukupnya, peralatan  renang dan snorkling karena lokasi ini sangat bagus untuk pengambilan spot bawah laut, dengan terumbu karang dan biota laut yang masih alami," lanjut Evy.

Pulau pahat adalah pulau yang tidak berpenghuni dengan gugusan pantai pasir putih yang bersih. Pulau pahat merupakan kawasan konservasi Penyu dan menjadi salah satu pulau terluas di kabupaten Kepulauan Anambas.

Selain wisata bawah laut yang indah dan melihat pemandangan yang alami, konservasi Penyu Hijau dan Penyu Sisik menjadi pemandangan unik yang tak kalah menarik.

Konservasi dua jenis penyu tersebut dilakukan oleh SKK Migas dan Premier Oil Natuna dengan tujuan menjaga ekosistem laut dan menjaga kelestarian Penyu.

Menurut KepalaPerwakilan Sumbagut, Avicenia Darwis, konservasi Penyu ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian industri hulu migas terhadap lingkungan dan bentuk tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

"Kita bersama masyarat terus menjaga lingkungan di wilayah yang bersentuhan langsung dengan industri migas," ujar Avi.

Di Pulau Pahat, secara alamiah puluhan Penyu Sisik dan Penyu Hijau bertelur pada malam hari, hingga menjelang pagi, biasanya bertelur di hamparan pasir putih pada Januari - April atau Mei– Agustus.

Dalam satu hari ada ratusan telur penyu yang dihasilkan, yang kemudian dirawat oleh warga, dibantu SKK Migas dan Premier Oil Natuna, agar menghasilkan anak-anak penyu (tukik) yang bisa hidup dan berkembang, sehingga ekosistem laut tetap terjaga.

Untuk melihat proses bertelurnya penyu-penyu pada malam hari, ada baiknya wisatawan mendirikan tenda, sehingga proses bertelur penyu bisa kita lihat lebih dekat.

Ukuran Penyu Sisik atau Penyu Hijau di kawasan ini sangat besar, dengan diameter sekitar 60 sentimeter, penyu ini terlihat sangat kuat dan gagah.

Di pulau ini pengunjung bisa menikmati kelapa hijau untuk menghilangkan dahaga usai melakukan snorkeling. Namun, air bersih masih menjadi kendala utama di pulau ini untuk membilas atau mandi seusai melakukan snorkeling

Selain pulau Pahat, pulau lain yang layak Anda kunjungi adalah pulau Durai. Di Pulau Durai juga terdapat tempat penangkaran Penyu dan ekosistem laut.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata anambas penyu
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top