Geliat Wisata Petualangan di Merapi

Setelah dilanda bencana letusan Gunung Merapi terakhir kali pada 2010, wilayah ini mulai menjadi salah satu lokasi wisata menarik untuk dikunjungi.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 05 Mei 2019  |  11:58 WIB
Geliat Wisata Petualangan di Merapi
Wisatawan berada di kawasan wisata lereng Gunung Merapi, Bungker Kaliadem, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (12/5). - ANTARA /Andreas Fitri Atmoko

Bisnis.com, JAKARTA – Merapi meninggalkan cerita pilu bagi masyarakat sekitarnya selang beberapa tahun terakhir. Ratusan warga terenggut nyawanya akibat semburan lava dan awan panas pada 2006 dan 2010. Namun, perlahan lokasi bencana berubah menjadi area wisata menantang dan penuh petualangan.

Setelah dilanda bencana letusan Gunung Merapi terakhir kali pada 2010, wilayah ini mulai menjadi salah satu lokasi wisata menarik untuk dikunjungi. Menunggangi mobil Jeep, menempuh jalan bebatuan, menggali sejarah bencana hingga melintasi lintasan offroad merupakan pengalaman cukup menyenangkan.

Setidaknya butuh waktu sekitar 1 jam 10 menit dari pusat kota Yogyakarta ke lereng Merapi. Perjalanan menggunakan bus agaknya memberi waktu untuk beristihat sejenak sebelum menjajal destinasi ini.

Di sekitar Desa Kepuharjo, Sleman setidaknya terdapat 50 titik penyedia jasa petualangan offroad dengan sekitar 900 Jeep. Pengunjung dapat memilih destinasi mana saja yang ingin dijelajahi.

Tim media bersama operator penyediaan dan pelayanan air bersih di Barat DKI Jakarta PT PAM Lyonnaise Jaya pekan lalu memilih tiga lokasi; Bungker Kaliadem, Museum Mini dan Kali Kuning. Ketiganya membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk dijelajahi hingga kembali ke spot pertama.

Sebelum memulai perjalanan, pastikan Anda telah memiliki masker atau mintalah kepada pengemudi yang jadi pemandu perjalanan. Biasanya masker debu telah disediakan untuk pengunjung. Debu bekas abu vulkanik sangat memungkinkan terhirup, jika tanpa pelindung.

Memulai perjalanan dari lokasi jalanan aspal, jangan terkejut ketika di tengah perjalanan lintasan tiba-tiba berubah. Sekitar 5 menit menempuh jalanan aspal, mobil Jeep langsung berhadapan dengan lintasan berbatu dan penuh debu. Di sini, adrenalin Anda akan terpacu.

Guncangan di atas Jepp selama perjalanan memang tak terhindarkan. Walau begitu, keseruan langsung tercurah saat Anda menikmatinya. Selama 15 menit perjalanan pertama, Jeep akan sampai ke Bungker Kaliadem. Pengetahuan tentang Merapi dimulai dari lokasi ini.

Bungker Kaliadem memang menyimpan cerita pilu. Setelah diresmikan pada 2005, kualitas lokasi perlindungan dari luapan Merapi langsung diuji setahun kemudian. Pada 2006, Merapi memuntahkan isinya dan melintasi kawasan Kaliadem. Sebagian kecil masyarakat memilih berlindung saat bencana.

Namun berlindung di sana tak menyelamatkan warga sekitar. Lava panas di atas bungker membuat suhu di dalam cukup panas hingga nyawa warga tak terselamatkan. Setelah bencana itu, bungker tidak digunakan lagi hingga kini. Keberadaan bungker akhirnya membuktikan area evakuasi menjadi sangat penting agar warga terhindar dari bencana Merapi.

MUSEUM MINI

Sekitar 20 menit di lokasi tersebut, perjalanan berlanjut. Keseruan di jalanan berbatu dan saling sapa antarpelancong bakal berlanjut di lokasi kedua, Museum Mini Sisa Hartaku. Museum ini semula merupakan rumah warga sekitar bernama Kimin. Akibat awan panas pada 2010, keluarga Kimin tak terselamatkan.

Setelahnya, rumah ini dijadikan sebagai museum mini untuk mengenang bencana 9 tahun silam. Berbagai bukti kengerian Merapi terlihat jelas di sini. Tiba di lokasi, pengunjung akan disambut oleh rangka asli dua ekor Sapi atau Kerbau.

Di dalamnya, berbagai bukti foto ditampilkan serta berbagai benda lain mulai dari jam yang menunjukkan waktu awan panas tiba di daerah itu, lelehan televisi sampai barang lainnya. Bangunan sengaja tidak direnovasi untuk menunjukkan dampak dari bencana Merapi.

Seusai beristirahat sejenak dan melihat foto-foto kejadian di museum, perjalanan seru diteruskan. Kini jalanan tidak se-ekstrem lintasan sebelumnya. Setelah sesaat melintasi trek bebatuan, aspal menyambut pengunjung untuk menuju ke lokasi terakhir yaitu Kali Kuning, Sleman.

Kali Kuning memang cocok sebagai puncak destinasi. Dua spot sebelumnya penuh dengan cerita sejarah masa lalu Merapi. Di lokasi terakhir pengunjung diajak bermain air dari atas Jeep. Pengemudi membawa peserta ke arah Kali Kuning untuk melintas dalam kecepatan tinggi.

Efeknya bisa ditebak, kibasan air kali menyebar ke segala arah. Tidak terkecuali penunggang Jeep sendiri. Teriakan dan keseruan bertambah saat sejumlah Jeep lain bersama-sama menerjang lintasan basah. Bersiaplah merasakan sensasi perjalanan yang menyegarkan saat air kali membasahi tubuh Anda, ketika berdiri atau duduk di atas Jeep.

Namun demikian, sebaiknya jangan terlalu larut dalam keseruan perjalanan, faktor keselamatan tetap harus menjadi patokan utama. Pastikan sebelum menjelajahi lereng Merapi, Anda telah mengenakan helm untuk menghindari cedera akibat benturan. Apabila terlalu takut akan keselamatan, jangan sungkan meminta pengemudi membawa kendaraan lebih pelan dan santai.

Tarif untuk menjalal tiga lokasi ini juga beragam berkisar Rp400.000–Rp500.000 untuk satu Jeep, yang bisa untuk empat penumpang. Biasanya tarif disesuaikan dengan jumlah anggota rombongan. Semakin banyak, negosiasi harga menjadi semakin leluasa.

Merapi memang telah merenggut ratusan nyawa. Namun di balik itu, hikmah selalu muncul. Setelah tak lagi bisa berkebun di sekitar lereng, sebagian warga kini memiliki mata pencaharian lain, baik sebagai pengemudi Jeep, maupun menjadi pengangkut pasir sisa luapan merapi di masa lalu.

Sejumlah abdi dalem Keraton Ngayogyakarta membawa 'uba rampe' menuju Bangsal Sri Manganti, Gunung Merapi, saat prosesi Labuhan Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta, Minggu (7/4/2019). Upacara adat tahunan Keraton Ngayogyakarta itu merupakan rangkaian peringatan Tingalan Dalem Jumenengan atau bertahtanya Sri Sultan HB X sebagai Raja Keraton Yogyakarta serta menjadi bentuk syukur kepada Tuhan atas segala kelimpahan dan keselamatan. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata, gunung merapi

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top