Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Destinasi Sejarah Kotagede, Jasad Raja Dicuri dari Makam

Makam raja-raja Mataram di Kotagede, Yogyakarta menjadi destinasi wisata sejarah yang banyak diminati.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 02 Mei 2019  |  20:19 WIB
Anak-anak bermain di kompleks Makam Raja-Raja Mataram Kotagede, Banguntapan, Bantul, DI. Yogyakarta, Kamis (18/12/2014). - JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto
Anak-anak bermain di kompleks Makam Raja-Raja Mataram Kotagede, Banguntapan, Bantul, DI. Yogyakarta, Kamis (18/12/2014). - JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Makam raja-raja Mataram di Kotagede, Yogyakarta menjadi destinasi wisata sejarah yang banyak diminati. Dalam sehari, tercatat lebih dari 5.000 peziarah yang datang ke makam raja-raja Mataram itu.

Di sana terdapat makam Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan, Danang Sutawijaya yang kemudian bergelar Raja Panembahan Senopati, dan makam Sultan Hamengku Buwono II. Raja Pajang Sultan Hadiwijaya adalah penerus trah Kesultanan Demak.

Sultan Hadiwijaya memberikan hadiah Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan setelah berhasil membunuh musuh Kerajaan Pajang, Aryo Penangsang. Ki Ageng Pemanaham kemudian membangun wilayah Alas Mentaok yang menjadi tempat cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram, yaitu Kotagede di Yogyakarta.

Ki Ageng Pamanahan memiliki anak bernama Danang Sutawijaya. Dia kemudian menjadi Raja Mataram I dengan gelar Panembahan Senopati. "Panembahan Senopati menganggap Sultan Hadiwijaya seperti ayah angkatnya," kata juru kunci Makam Raja-raja Mataram Kotagede, Mas Lurah Endri Wisastro saat ditemui Tempo di Kantor Sekretariatan Makam Kotagede, Sabtu (27/4/2019).

Ketika Sultan Hadiwijaya wafat, jasadnya dimakamkan di Dusun Butuh, Purwodadi, Jawa Tengah. Lantaran Panembahan Senopati menganggap Sultan Hadiwijaya seperti ayah angkatnya dan menghormati karena telah memberikan lahan untuk mendirikan Kerajaan Mataram, maka dia memindahkan jenazahnya ke Makam Kotagede sama dengan tempat Ki Ageng Pemanahan dimakamkan.

"Dipindahkan dengan dicuri. Jenazahnya tidak diambil dari atas melewati batu nisan, tapi dari samping," kata Endri. Tujuannya ada dua, Panembahan Senopati menghormati Sultan Hadiwijaya sehingga tak ingin mengobrak-abrik makamnya. Kedua, Panembahan Senopati ingin Kerajaan Pajang tunduk pada Kerajaan Mataram. "Jadi ada alasan politisnya."

Lantas apakah Kerjaan Pajang mau tunduk kepada Kerajaan Mataram? "Kerajaan Pajang kan lebih tua daripada Mataram. Otomatis tak mau tunduk," kata Endri. Hingga kini, nisan di makam Sultan Hadiwijaya di Dusun Butuh, Purwodadi, Jawa Tengah, masih utuh. Masyarakat di sana meyakini jenazah Raja Pajang Sultan Hadiwijaya masih bersemayam di dalamnya.

Abdi dalem Keraton Surakarta memikul jodang berisi siwur (gayung dari batok kelapa) yang akan dipergunakan untuk menguras Sendang Seliran, di kompleks makam Raja-raja Mataram Kotagede, Bantul, DI. Yogyakarta, Minggu (26/04/2015). Prosesi nguras sendang menjadi bagian dari rangkaian acara tahunan Kirab Ambengan Ageng Gunungan Kuliner, Nguras Jagang Masjid Gedhe Mataram dan Sendang Seliran Kotagede sebagai upaya untuk menarik minat wisatawan dalam maupun luar negeri untuk berwisata dan singgah di Kotagede./JIBI-Harian Jogja-Desi Suryanto

Belum Ditemukan

Kawasan Kotagede Yogyakarta selain memiliki peninggalan makam-makam raja juga menyimpan sejumlah misteri sejarah. Situs bekas bangunan Kerajaan Mataram Islam di Kotagede Yogyakarta belum ditemukan. Letak persis bangunan kerajaan yang berkuasa pada abang ke-16 itu hingga kini masih menjadi teka-teki.

Pemandu wisata Jelajah Pusaka Mataram, David Nugroho mengatakan ketiadaan peninggalan berupa bangunan dari Kerajaan Mataram Islam di Kotagede, Yogyakarta, bisa jadi karena bangunan pada masa itu terbuat dari kayu. "Jadi tak ada peninggalan bangunan yang tersisa,” kata David saat wisata Jelajah Pusaka Mataram pada Sabtu (21/4/2019).

Kondisi ini berbeda dengan bangunan Kerajaan Mataram lain di berbagai daerah. Kerajaan Mataram sempat dipindahkan ke Karta pada 1613-1647, lalu ke Pleret di tahun 1647-1681. Baik di Kerto maupun Pleret, terdapat jejak kedigdayaan Kerajaan Mataram Islam.

David Nugroho menceritakan Kerajaan Mataram Islam di Kotagede berdiri di bekas hutan yang bernama Alas Mentaok. Nama mentaok diambil dari jenis tanaman yang kini langka. Di kompleks makam dan masjid Kotagede terdapat satu pohon mentaok. Beberapa tanaman mentaok lain ditanam untuk dilestarikan di depan Pasar Kotagede.

Sejumlah pengunjung menikmati pemandangan dan bangunan bersejarah di Sendang Selirang kompleks makam raja Mataram di Kotagede, Yogyakarta, Minggu (26/06/2016). Selama satu bulan di bulan Ramadan makam raja Mataram di Kotagede tertutup bagi kunjungan peziarah dan wisatawan, namun para wisatawan masih dapat menikmati objek wisata sejarah Masjid Gedhe Kotagede dan pemandian Sendang Selirang./JIBI-Harian Jogja-Desi Suryanto

Pohon mentaok begitu tinggi. Daunnya agak lebar seperti daun salam. Konon, nama Mataram diambil dari kata mentaok arum atau mentaok yang harum. Kemudian menjadi Mentaram, lalu Mataram.

Kembali ke cerita Alas Mentaok yang menjadi asal usul titik Kerajaan Mataram Islam. Alas Mentaok adalah hadiah dari Raja Pajang Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pemanahan yang telah mengalahkan musuh Kerajaan Pajang, Arya Penangsang. Namun saat tiba di Alas Mentaok untuk mendirikan padepokan, sudah ada orang lain yang menempati yaitu Ki Jayaprana.

Ki Jayaprana menolak pergi dari Alas Mentaok, kecuali Ki Ageng Pemanahan bisa memindahkannya dengan cara digendong. Dua orang yang sama-sama sakti itu kemudian saling beradu kekuatan. "Ki Ageng Pemanahan hanya mampu menggendong Ki Jayaprana sejauh sekitar 500 meter saja," ucap David Nugroho.

Di tempat itulah Ki Jayaprana tinggal dan dikenal sebagai Kampung Jayapranan. Adapun Ki Ageng Pemanahan mendirikan padepokan yang menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin raja pertama, yakni anaknya sendiri, Panembahan Senopati.

Kawasan kerajaan Mataram Islam itu sekarang bernama Kampung Ndalem yang berada di selatan Pasar Kotagede. Di sana, yang tersisa hanya sebagian benteng Cepuri dan batu andesit yang disebut Watu Gilang. Batu itu berwarna hitam berbentuk kotak ukuran 2 x 2 meter dengan ketebalan 30 sentimeter dan disimpan di dalam bangunan kecil di tengah jalan Kampung Ndalem. Tempat ini diyakini sebagai singgasana Panembahan Senopati.

Pada permukaan Watu Gilang terdapat ukiran berupa tulisan latin dengan huruf besar dalam empat bahasa. Istri juru kunci Situs Watu Gilang, Suheryanti menunjukkan ukiran tulisan yang sudah terlihat rusak itu. Bahasa Latin “ITA MOVETUR MUNDUS”, bahasa Prancis “AINSI VA LE MONDE”, bahasa Belanda “ZOO GAT DE WERELD”, dan bahasa Italia “COSI VAN IL MONDU”.

Keempat kalimat itu bermakna “demikianlah perubahan dunia”. Ditulis dengan bentuk melingkar. Bagian tengahnya ada tulisan Latin “AD AETERNAM SORTIS INFELICIS” yang artinya untuk memperingati nasib yang kurang baik. Juga ada gambar segitatiga-segitiga yang berjejeran seperti mata gergaji.

Yang menarik, ada satu tepian Watu Gilang yang berbentuk cekung. Konon tepian batu itu menjadi cekung karena Panembahan Senopati membenturkan kepala menantunya sendiri, Ki Ageng Mangir. Suheryanti menceritakan, Ki Ageng Mangir juga seorang yang sakti namun memberontak terhadap Kerajaan Mataram, yang notabene dipimpin oleh ayah mertuanya.

Panembahan Senopati sengaja menikahnya putrinya, Ni Pembayun dengan Ki Ageng Mangir untuk dapat menaklukkannya. Saat Ki Ageng Mangir menghadap untuk sungkem kepada ayah mertua, Panembahan Senopati menggunakan kesempatan ini dengan membenturkan kepala menantunya itu ke singgasananya, sampai tewas. "Panembahan Senopati menganggap menantunya musuh sekaligus anak,” kata Suheryanti.

Seorang abdi dalem memasuki gerbang saat berangkat menuju tempatnya bertugas di makam raja Mataram di Kotagede, Yogyakarta, Minggu (26/06/2016)./JIBI-Harian Jogja-Desi Suryanto

Lantas di manakah posisi Kerajaan Mataram Islam berada? David Nugroho menduga ada di lahan yang kini digunakan sebagai makam keturunan Hamengku Buwono VIII yang disebut Makam Hastorenggo. Lokasinya berseberangan dengan bangunan yang digunakan untuk menyimpan watu gilang.

Sejak keraton pindah ke Karta, tanah bekas keraton di Kotagede tak bertuan. “Orang menyebutnya siti sangar alias tanah angker. Tak ada siapapun yang berani memakai tanah itu,” kata David. Lantaran dianggap angker, tanah itu kemudian dijadikan pemakaman.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

destinasi wisata keraton yogyakarta Features

Sumber : Tempo.co

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top