Ketika Kuliner Kaki Lima Naik Kelas

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Sugeng Sugiarto, pedagang siomay yang sehari-hari berjualan gerobakan kaki lima di Klender, Jakarta Timur, untuk bisa menjajakan makanannya di dalam mal yang nyaman dan berkelas.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 20 April 2019  |  04:16 WIB
Ketika Kuliner Kaki Lima Naik Kelas
Food market Eat & Eat. - Bisnis.com/Dewi Andriyani

Bisnis.com, JAKARTA – Tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Sugeng Sugiarto, pedagang siomay yang sehari-hari berjualan gerobakan kaki lima di Klender, Jakarta Timur, untuk bisa menjajakan makanannya di dalam mal yang nyaman dan berkelas.

Untuk bisa masuk mal tentu dibutuhkan modal yang sangat besar dan persaingan yang begitu ketat dengan pelaku usaha kuliner raksasa lainnya. Sementara dia, hanyalah pelaku usaha kecil yang sehari-hari modalnya habis diputar berjualan kembali.

Meski demikian, sebagai seorang pelaku usaha, Sugeng sebetulnya ingin agar usaha yang dijalankannya berkembang dan mampu mengubah ekonomi keluarga. Sampai akhirnya dia mengetahui ada konsep baru yang berkembang dan tengah hitz bernama food market.

Salah satunya food market Eat & Eat yang berlokasi di sejumlah mal kelas atas. Di sini, para UKM penjaja kuliner jalananan (street food) berjualan menyajikan menu khasnya dengan konsep menarik dan tempat yang begitu nyaman.

Melihat hal tersebut, Sugeng merasa bahwa di sinilah kesempatannya sebagai penjaja kuliner kaki lima bisa naik kelas. Dia ingin bergabung bersama Eat & Eat karena melihat potensi besar di dalamnya.

“Awalnya, saya coba menawarkan menu siomay tapi gagal, dan terus bolak-balik mencoba karena memang manajemen selektif sekali. Hingga akhirnya ketemu menu Cakwe Galaxy, tapi saat itu tidak langsung masuk mal, pertama kali coba ikut festival di Pasar Apung Sentul,” tuturnya.

Tak dinyana, tanggapan pasar begitu antusias, penjualannya sekitar 100 hingga 200 potong per hari bahkan mencapai 1.000 potong pada saat akhir pekan. Pasalnya, Cakwe Galaxy yang ditawarkannya memiliki kekhasannya yaitu adonan yang lebih berisi dengan ukuran jumbo, dipadukan dengan bumbu kacang yang menggoyang lidah dan membuat rasanya menjadi istimewa.

Kini, Cakwe Galaxy milik Sugeng bahkan telah menjadi menu khas yang disajikan di seluruh Food Market Eat & Eat yang berlokasi di 10 mal kelas atas. Bahkan, mantan karyawan restoran ini pun memiliki cabang lain di luar outlet Eat & Eat.

Sugeng mengaku sangat senang bisa mendapat kesempatan masuk Eat & Eat. Sebab, selain mendapatkan tempat berjualan di dalam mal dengan peningkatan omzet yang signifikan, dia pun bisa belajar banyak hal.

Mulai dari standardisasi dan manajemen operasional perusahaan, manajemen keuangan, hingga kebersihan dan pelayanan prima. Semuanya dapat diterapkan di seluruh cabang Cakwe Galaxy, baik yang dikelola bersama Eat & Eat maupun yang dikelola secara mandiri.

“Kami sebagai UKM mendapatkan banyak pelajaran di sini sehingga membantu kami untuk naik kelas. Dari sisi penjualan jauh banget peningkatannya, itu merubah segalanya. Perekonomian keluarga pun sangat berubah jauh,” tuturnya.

Apalagi di sini, pelaku usaha tidak perlu memikirkan biaya sewa sebab seluruhnya ditanggung oleh manajemen Eat & Eat. Mereka hanya perlu membagi hasil sehingga hubungan yang terjalin dengan pihak manajemen layaknya partner.

Senada disampaikan oleh Robert, Pemilik Bakmi Kepiting yang bertahun-tahun hanya berjualan di satu tempat di Pontianak. Tidak pernah dia berpikir bahwa bakmi kepitingnya akan membuka cabang di tempat lain, apalagi masuk ke dalam mal.

“Gimana caranya masuk ke mal, sudah males saja mikirnya, urusannya pasti ribet dengan modal yang pastinya gede. Bagi saya dulu kalau jualan ya jualan saja. Ada bahan habis beli lagi, ya diputar gitu aja. Tidak ada sisi bisnis,” ujarnya.

Akhirnya, Robert bertemu dengan tim Eat & Eat yang tengah berburu kuliner di Pontianak. Bakmi Kepiting bahkan menjadi salah satu yang bergabung sejak kali pertama Eat & Eat berdiri pada 2008.

Kini, Bakmi Kepiting miliknya menjadi salah satu menu andalan yang telah dibawa ke sejumlah food market Eat & Eat di 5 mal yang berada di Jakarta, Bali, dan Surabaya.

Selain itu, dia pun berani membuka cabang sendiri di luar manajemen Eat & Eat, yang berlokasi di Semarang dengan standardisasi, manajemen operasional, dan cita rasa yang seragam.

Ubah Mindset

Sementara itu, Deni A. Rahman, GM Eat & Eat mengatakan bahwa sejak kali pertama didirikan oleh almarhum Iwan Tjandra, Eat & Eat memang memiliki misi untuk membawa kuliner kaki lima naik kelas dan mendunia.

Untuk itulah dibuat konsep food market dengan membawa sejumlah kuliner kaki lima menjajakan menu andalan bercita rasa nikmat di lokasi yang nyaman, bersih, suasana dan harga yang bersahabat.

“Secara prinsip, kuliner Indonesia harus di-support karena cita rasa makanan kita tidak ada bandingannya. Kita punya banyak kuliner kaki lima yang rasanya sangat nikmat tetapi mereka tidak memiliki kesempatan berkembang, di sinilah kami masuk dan membawa mereka naik kelas,” tuturnya.

Proses pencarian dilakukan oleh tim selama hampir satu tahun dengan mendatangi penjaja kuliner kaki lima yang sudah dikenal dengan cita rasa makanannya yang nikmat, baik di Jawa maupun di kota-kota besar lainnya.

Pada awalnya, Deni mengaku cukup sulit mengajak para pelaku untuk bergabung. Sebab, mereka sudah merasa nyaman dengan caranya sendiri.

Namun, dia dan tim tetap meyakinkan dan pelan-pelan mengubah mindset para pelaku usaha bahwa pihaknya akan membantu mereka untuk bukan hanya sekadar jualan tetapi berbisnis secara sempurna dengan keistimewaan menu makanan yang dimiliki.

“Pertama kali kita buka di Kelapa Gading karena memang itu pusat food street, harusnya itu ada 35 counter tetapi saat harus buka hanya ada 13 counter yang terisi. Meski demikian, kami tetap buka, dan ternyata sambutan sangat luar biasa karena ini konsep unik yang baru kali pertama ada saat itu,” ungkapnya.

Akhirnya hanya dalam 2 bulan, 35 counter terpenuhi. Bahkan dibuatlah konsep “anting-anting” dengan mengajak pedagang kaki lima secara otentik membuka gerobakannya di dalam food street Eat & Eat.

Sementara itu, Juni Sukasmono, GM Operation Eat & Eat mengatakan saat ini, Eat & Eat sudah memiliki cabang di 10 mal dan satu di Bandara International Soekarno Hatta. Adapun total keseluruhan mencapai 194 counter dengan lebih dari 200 gerobak. Sedangkan dari awal hingga saat ini sudah ada sekitar 1.000-an UKM kuliner yang tergabung.

“Kami kontrak rata-rata satu tahun, kemudian diputar karena memberi kesempatan pada pelaku usaha kuliner lainnya, kecuali untuk yang menjadi menu andalan seperti Rujak Juhi, Selendang Mayang, atau Cakwe Galaxy tetap kita pertahankan karena menjadi ciri khas,” tuturnya.

Selain berburu secara langsung, tidak sedikit pula pelaku usaha kuliner yang menawarkan diri untuk ikut bergabung bersama Eat & Eat.

Untuk itu, pihak manajemen memiliki syarat dan kriteria yang harus dipenuhi sebagai kurasi. Bukan hanya dari cita rasa makananya saja tetapi juga bagaimana pola pikir dan perilaku owner.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ukm, kuliner

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top