Beda Wisman dan Wisnus Saat Melancong di Sumut

Ada beberapa perbedaan antara wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara saat melancong di Sumatra Utara.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 22 Maret 2019  |  20:04 WIB
Beda Wisman dan Wisnus Saat Melancong di Sumut
Para wisatawan mancanegara berselancar di Pantai Sorake, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Jumat (8/3/2019). Pantai Sorake yang terkenal dengan ombaknya yang tinggi itu merupakan salah satu tempat wisata berselancar terbaik di dunia bagi pencinta olahraga selancar. - Antara/Septianda Perdana

Bisnis.com, MEDAN — Terdapat beberapa perbedaan antara wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara saat melancong di Sumatra Utara. Berikut perbedaannya.

Destinasi wisata

Wisatawan mancanegara cenderung memilih tempat wisata bertema alam. Susanna Lubis, sebagai pemilik agen perjalanan Sann Holiday, mengatakan terdapat tiga destinasi wisata favorit wisman.

Pertama, Danau Toba karena menjadi tujuan paling populer dengan 16 situs kebumian. Kedua, Bukit Lawang di sekitar Sungai Bahorok, Kabupaten Langkat karena memberikan kesempatan kepada wisman melihat orangutan dan menjelajah hutan. Ketiga, Tangkahan, Kabupaten Langkat yang merupakan tempat konservasi gajah.

Menurutnya, wisman biasanya tak terlalu tertarik dengan wisata kota. Wisata kota dengan mengunjungi tempat bersejarah dan memiliki nilai budaya biasanya dipilih ketika wisman tengah singgah sebelum atau sesudah mengunjungi destinasi utamanya.

"Wisman lebih suka wisata yang alam. City tour mereka cuma tertarik kalau singgah saja," katanya.

Sementara itu, wisatawan nusantara selain mencari tempat wisata bernuansa alam, juga sangat menyukai wisata kuliner. Beberapa jenis panganan mulai dari durian, soto hingga lontong sayur Medan menjadi incaran wisatawan domestik saat berlibur di Sumatra Utara.

"Wisatawan domestik lebih cenderung ke kuliner. Durian yang paling nomor satu," katanya.

Waktu kunjungan

Dari sisi waktu kunjungannya, wisman biasanya memilih waktu melancong pada Desember hingga Februari. Alasannya, periode ini merupakan musim dingin sehingga wisman dari Eropa biasanya memanfaatkan momen tersebut untuk mengunjungi negara-negara bersuhu tropis.

"Biasanya pas winter. Bulan 12 sampai 2 pasti wisman dari Eropa banyak," katanya.

Berbeda dengan wisman, wisatawan nusantara atau wisnus biasanya memanfaatkan libur panjang yang bertepatan pergantian tahun ajaran pendidikan dan libur hari raya. Alasannya, pada periode ini wisatawan nusantara memiliki durasi hari libur yang cukup panjang.

"Wisatawan domestik biasanya [berlibur ke Sumut saat] libur besar, libur anak sekolah," katanya.

Pelompat batu beraksi melompati tumpukan batu setinggi 2,1 meter untuk difoto bersama para turis yang mengunjungi desa cagar budaya nasional Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (9/3/2019). Hombo (lompat) batu dalam bahasa suku Nias merupakan salah satu ciri khas budaya dari Nias Selatan yang berasal dari tradisi latihan perang pada masa kerajaan./Antara-Septianda Perdana

Kebiasaan

Terakhir, dari sisi kebiasaannya ketika melancong, wisman cenderung lebih perhitungan soal pengeluaran. Bahkan, menurutnya, mayoritas pelancong yang datang jarang memberikan tip karena seluruh biaya yang akan dikeluarkan ketika melancong telah diperhitungkan. Di sisi lain, wisman menghabiskan waktu cukup panjang untuk melancong.

Sebagai contoh, dia menyebut beberapa wisman menghabiskan waktu sebulan hingga setahun untuk mengunjungi beberapa wilayah di sebuah negara. Bahkan, cukup banyak wisman yang melancong menggunakan sepeda, sepeda motor juga menumpang atau hitchhiking.

"Mereka [wisman] itu jarang ngasih tip karena mereka sudah memprediksi harga. Kalau yang dari Eropa, kebanyakan traveling jangka waktu panjang bisa sebulan, setahun sambil naik sepeda, sepeda motor, hitchhiking," katanya.

Wisatawan nusantara, katanya, kerap kali membuang sampah sembarangan selama melancong. Selain itu, kata Susanna, wisatawan nusantara sangat konsen terhadap harga sehingga menginginkan layanan dan produk dibeli dengan harga miring. Misalnya, dia menyebut, wisatawan nusantara bahkan bisa memanfaatkan satu kamar untuk lima orang.

"Wisnus sering buang sampah sembarangan dan mau semuanya murah yang paling jelek itu satu kamar bisa lima orang," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wisatawan, sumut

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top