Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menelusuri Jejak Ahli Biologi Dunia Alfred Russel Walace di Bitung  

Alfred Russel Walace dikenal sebagai pakar biologi dunia yang juga telah 'membelah' Nusantara menjadi dua bagian berdasarkan hewan yang mendiami wilayah barat dan timur.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  19:53 WIB
Menelusuri Jejak Ahli Biologi Dunia Alfred Russel Walace di Bitung   
Walikota Bitung Maximilian Jonas Lomban memberikan sambutan saat peresmian Monumen Walace Bitung, Kamis (21/2/2019). Peresmian ini merupakan rangkaian dalam acara Perayaan 100 Tahun Taman Nasional Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara. - Bisnis/Hafiyyan

Bisnis.com, BITUNG—Alfred Russel Walace dikenal sebagai pakar biologi dunia. Salah satu hasil ide besarnya yang dipelajari sampai saat ini ialah Garis Walace, yang dicetuskannya pada 1868.

Garis Walace membagi Indonesia, yang saat itu disebut sebagai Nusantara, menjadi dua bagian. Sebelah barat mencakup Sumatra, Jawa, dan Kalimantan masuk ke dalam Benua Asia. Adapun, sebelah timur Sulawesi s.d Papua merupakan bagian Benua Australia.

“Pemikiran ini berdasarkan persebaran makhluk hidup yang mendiami masing-masing bagian. Hewan khas di sebelah barat seperti harimau, tidak akan ditemukan di sebelah timur, begitupun sebaliknya,” tutur Walikota Bitung Maximilian Jonas Lomban, dalam acara Perayaan 100 Tahun Taman Nasional Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara.

Max Lomban, sapaan akrabnya, mendapat pengetahuan mengenai kisah Walace dari Emil Salim, seorang tokoh yang menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup (MLH) pada 1978-1993. Sampai saat ini, Emil memiliki rekor masa pengabdian terpanjang sebagai MLH selama 3 periode berturut-turut.

Mendengar cerita soal Walace, Max merasa kagum sekaligus terinpirasi. Kagum karena Walace rela pada 1861 datang ke Bitung, khususnya Hutan Tangkoko untuk meneliti satwa.

Padahal, dapat dibayangkan berapa jauh perjalanan yang harus ditempuh di tengah hutan belantara, dengan teknologi yang seadanya. Di Tangkoko, Walace yang berniat meneliti Maleo, malah menemukan hewan unik lainnya seperti yaki, rangkong, dan hewan-hewan.yang serupa seperti di Australia.

Penelitian di Tangkoko, menguatkan pemikiran Walace dan menguatkan teorinya soal Garis Walace. Buah pemikiran pria asal Inggris ini kemudian diteruskan kepada muridnya Sijfert Hendrik Koorders.

Koorders merupakan pria berkebangsaan Belanda, tetapi lahir di Bandung, Jawa Barat. Saat itu, Indonesia memang masih di bawah penjajahan Negeri Kincir Angin.

Ide Koorders soal penyelamatan hutan dituangkan dalam pembentukan Undang-undang Taman Nasional pada 21 Februari 1918. Salah satu lokasi yang ditetapkan sebagai Taman Nasional ialah Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara.

Sebagai perayaan 100 tahun penetapan Tangkoko sebagai taman nasional pada Kamis (21/2/2019), pemerintah Bitung meresmikan Monumen Alfred Walace. Tugu setinggi 4,5 meter berwarna hitam legam ini bersanding dengan rimbunan hijaunya pepohonan.

Max Lomban menceritakan, di samping mengabadikan jasa Walace, pembuatan monumen ini bertujuan menarik wisatawan dan peneliti ke Tangkoko, khususnya dari mancanegara. Oleh karena itu, monumen tersebut diberikan chip untuk mempermudah pencarian lokasi di internet.

“Sekarang orang bisa cari di google, ketik Walace Bitung, keluarlah lokasinya di Tangkoko,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bitung biologi
Editor : Rahayuningsih

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top