Asita: Harga Tiket Pesawat Domestik Tinggi Ancam Destinasi Wisata Dalam Negeri

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), Asnawi Bahar mengatakan tahun ini pihaknya melihat kecenderungan tentang kegiatan pariwisata masyarakat akan lebih banyak ke luar negeri dari pada domestik. "Karena saya melihat kecenderungan harga tiket di dalam negeri yang hari ini semakin mahal. Sehingga tren wisata ke luar negeri akan lebih meningkat pada 2019," katanya kepada Bisnis, Jumat (11/1/2019).
Rayful Mudassir | 11 Januari 2019 13:23 WIB
Calon penumpang di bandara - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Tingginya harga tiket pesawat sejak awal 2019 dikhawatirkan akan mengancam destinasi wisata domestik. Bahkan kondisi ini dikhawatirkan akan memikat masyarakat memilih berlibur ke luar negeri lantaran biaya yang dikeluarkan cenderung murah.

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), Asnawi Bahar mengatakan tahun ini pihaknya melihat kecenderungan tentang kegiatan pariwisata masyarakat akan lebih banyak ke luar negeri dari pada domestik.

"Karena saya melihat kecenderungan harga tiket di dalam negeri yang hari ini semakin mahal. Sehingga tren wisata ke luar negeri akan lebih meningkat pada 2019," katanya kepada Bisnis, Jumat (11/1/2019).

Setidaknya menurut Asnawi ada dua alasan kondisi tersebut terjadi. Pertama karena gonjang ganjing politik dan kedua akibat harga tiket domestik yang tinggi. Menurutnya, saat ini maskapai plat merah seperti Garuda Indonesia misalnya menerapkan harga cukup tinggi. Sementara tiket ke luar negeri cenderung murah atau bertahan.

Dia menyebut saat ini berdasarkan informasi yang diterima, penerbangan pesawat tersebut mulai menyisakan banyak kursi kosong.

Peningkatan harga tiket pesawat diperkirakan turut mempengaruhi kualitas wisata seseorang. Asnawi menggambarkan dengan kenaikan ini, pelancong akan mengurangi berbagai hal saat berlibur seperti mengurangi masa liburan, menurunkan kelas penginapan dan semakin minim berbelanja oleh-oleh.

"Ini akan berbahaya bagi UMKM di daerah. Wisatawan hanya akan mengutamakan makan, mengunjungi daerah wisata namun tidak membeli oleh-oleh. Kalaupun membeli oleh-oleh persentasenya jauh turun. Ini membahayakan industri UMKM," terangnya.

Dia meminta pemerintah termasuk Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan dan Kementerian BUMN menanggapi hal ini dengan serius. Belum lagi Kemenpar tahun ini menargetkan kunjungan wisatawan mencapai 20 juta kunjungan dan menghasilkan devisa US$20 miliar.

Tag : tiket pesawat, maskapai penerbangan
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top