Makan Nasi Pecel Telur di Kaki Gunung 3.150 Meter, Mau?

Puncak Gunung Lawu meski kawasan yang tanpa penghuni, teryata ada tempat yang unik. Ya, warung nasi pecel Mbok Yem.
Chelin Indra Sushmita | 10 Januari 2019 11:22 WIB
Mbok Yem, pemilik warung di dekat puncak Gunung Lawu (Instagram)

Bisnis.com, SOLOPuncak Gunung Lawu meski kawasan yang tanpa penghuni, teryata ada tempat yang unik. Ya, warung nasi pecel Mbok Yem.

Warung makan yang berada di puncak Gunung Lawu tentu sudah tidak asing dengan para pendaki. Warung makan ini dikelola Wakiyem, 60, yang setiap hari menyediakan aneka makanan untuk mengisi perut pendaki yang keroncongan.

Warung Mbok Yem disebut yang tertinggi di Indonesia. Betapa tidak, warung itu berada di ketinggian 3.150 mdpl. Warung Puncak Lawu milik Mbok Yem yang terletak di Hargo Dalem itu memiliki kesan yang teramat dalam bagi pendaki.

Mbok Yem tidak menyangka warungnya begitu terkenal di kalangan pendaki. Lebih dari 30 tahun hidupnya dihabiskan di puncak Gunung Lawu. "Awalnya nyari jamu. Terus jualan makanan. Pelanggannya banyak, saya buka warung," kata Wakiyem dalam video viral yang diunggah pengguna akun Instagram @tengok_indonesia17 dan dibagikan ulang @jelajahsolo, Rabu (9/1/2019).

Sejumlah pendaki memiliki kisah dan pengalaman unik dengan Warung Mbok Yem. Desain warung Mbok Yem sangat sederhana. Tempat makan ini hanya berdinding kayu tanpa hiasan apapun termasuk cat berwarna. Meski demikian, warung tersebut sangat laris dikunjungi pendaki. Warung yang terletak beberapa meter dari Puncak Hargo Dumilah tersebut selalu ramai dikunjungi pendaki yang kelaparan. "Jualan nasi ya apa adanya. Mi, nasi pecel pakai telur, kadang soto ayam," sambung dia.

Guna memenuhi kebutuhan warungnya, Mbok Yem dibantu beberapa orang, salah satunya Parmi. Dikutip dari Solopos.com, Parmi bisa sampai tiga kali naik turun Gunung Lawu dalam sepekan untuk menyediakan logistik khusus warung Mbok Yem. Dia bisa membawa sekitar 45 kilogram barang dagangan dalam sekali angkut. Dia mengemas barang berupa beras, minyak goreng, dan sejumlah sembako lain dalam karung untuk diangkut ke Warung Mbok Yem.

Parmi membutuhkan waktu sekitar enam jam dari pos pendakian Cemoro Sewu untuk mencapai warung Mbok Yem di dekat Puncak Hargo Dumilah. Dia telah melakoni pekerjaan sebagai pengangkut logistik sejak warung Mbok Yem beridi pada 1995 silam. Selama menjalani pekerjaan tersebut, dia tidak pernah mengalami kendala yang berarti.

Popularitas Warung Mbok Yem itu menuai beragam komentar dari warganet. Mereka yang pernah jajan di Warung Mbok Yem menceritakan pengalaman menarik di kolom komentar. "Warungnya sederhana, nikmatnya luar biasa," komentar @maul_cusda.

"Tengah malam, kedinginan, sleeping bag dipakai pacarku. Aku cuma pakai sarung daripada kedinginan, mending bangun, minum teh, makan pecel, nonton TV, padahal lagi di puncak gunung. #MbokYem 2010 yang lalu. Kamu enggak pengin coba?" tanya @sa_ipuul.

"Nasi pecel plus telur. Kalau ke Lawu enggak mampir ke sini belum komplit pendakianmu," sambung @ukkytogar.

"Nasi pecelnya enak. Mbok Yem nya cuek tapi ngangenin, hahaha," imbuh @bagusxoroe26.

"Zaman aku masih muda. Bayangin tahu goreng anget, pas digigit mak cles, dingin, hahaha," kelakar @trigerylian yang teringat masa lalu.

Sumber : Solopos.com

Tag : Gunung Lawu
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top