Ini Konsep Kuliner Ramah Lingkungan, Zero Kilometer Gastronomy

Konsep gastronom telah berkembang luas dan populer dalam masyarakat. Makanan telah menjadi suatu tren yang menarik perhatian berbagai kalangan masyarakat, tidak hanya sekadar menjadi kebutuhan dasar melainkan juga menjadi bentuk seni dan apresiasi.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 08 Januari 2019  |  18:14 WIB
Ini Konsep Kuliner Ramah Lingkungan, Zero Kilometer Gastronomy
Ilustrasi. - JIBI/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA—Konsep gastronom telah berkembang luas dan populer dalam masyarakat. Makanan telah menjadi suatu tren yang menarik perhatian berbagai kalangan masyarakat, tidak hanya sekadar menjadi kebutuhan dasar melainkan juga menjadi bentuk seni dan apresiasi.

Kini kuliner dapat dinikmati tidak hanya berdasarkan rasanya semata, tetapi juga dari bentuk presentasi, persiapan, bahkan dari cerita yang ingin disampaikan dari sang juru masak. Pendekatan baru ini telah berkembang menjadi preferensi gaya hidup, menawarkan konsep sederhana dan hidangan futuristik yang menggabungkan teknologi modern dengan bahan-bahan lokal harian sederhana.

Konsep zero kilometer gastronomy atau gastronomi nol kilometer awalnya tercipta di Italia beberapa tahun lalu. Elemen terpenting dari konsep ini adalah persiapan dan bahan yang digunakan untuk membuat hidangan menjadi hidup. Makanan yang diproduksi akan dijual dan dikonsumsi secara lokal, di mana bahan-bahan yang digunakan tidak melalui rantai perdagangan global.

Hal ini dapat mengurangi dampak polusi terhadap lingkungan dan membantu menopang pasar lokal, mempromosikan kuliner lokal, dan meningkatkan kontribusi para petani, peternak, hingga ahli kuliner lokal. Chef Melia Bali, Nusa Dua I Ketut Sumarta adalah salah satu juru masak yang menerapkan konsep tersebut.

Dia mengatakan, sangat disayangkan apabila tidak memanfaatkan hasil bumi dengan sebaik munkin. Apalagi di Indonesia, hampir semua bahan makanan dapat didapatkan secara lokal.

“Saya berpikir mengapa kita tidak menggunakan hal tersebut untuk menciptakan kreasi kuliner yang luar biasa, itu yang ada di pikiran saya saat mengaplikasikan konsep gastronomi KM 0 dalam kreasi saya," cerita Ketut melalui keterangan resminya dikutip Selasa (8/1/2019).

Tak terkecuali di Pulau Bali. Menurutnya, Bali terkenal dengan sumber daya alam yang eksotis dan memukau. Bali menawarkan berbagai pilihan hasil bumi yang segar dan alami yang dapat ditemui di setiap sudut pulau. Kuliner dengan bahan buah-buahan lokal juga menjadi opsi menarik dan sehat untuk dicoba.

Salah satu kreasi favorit di hotel Meliá Bali adalah Coco Bowl, yaitu pilihan buah dan bahan alami lainnya yang dikombinasikan dalam tekstur warna-warni di dalam mangkuk yang terbuat dari kelapa.

" Para tamu dapat memulai hari mereka dengan kreasi buah yang indah dan sehat ini, kami juga menggunakan pemanis dan pewarna makanan alami. Selain itu Coco Bowl ini juga dilengkapi dengan regulator keasaman dan antioksidan alami," jelas Ketut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kuliner

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top